Ketika Pendidikan Mengetuk Pintu Hati: Kisah PKBM Al Zaytun Menyalakan Kembali Mimpi yang Sempat Padam


Ketika Pendidikan Mengetuk Hati: Kisah PKBM Al Zaytun Menyalakan Kembali Mimpi yang Sempat Padam

Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)

“Bu, saya sudah terlalu tua untuk sekolah.”

Kalimat itu pernah diucapkan dengan mantap oleh seorang perempuan bernama Surati ketika seorang tutor PKBM Al Zaytun mengajaknya melanjutkan pendidikan. Bagi Surati, bangku sekolah adalah masa lalu yang telah lama ditinggalkan. Usia, kesibukan, dan rasa minder menjadi tembok tinggi yang membuatnya enggan kembali belajar.

Namun siapa sangka, dua tahun kemudian perempuan yang sama hadir sebagai warga belajar baru dalam pembukaan kegiatan pendidikan kesetaraan PKBM Al Zaytun.

Perjalanan Surati hanyalah satu dari ratusan kisah perubahan yang tumbuh dari ruang-ruang belajar sederhana di PKBM Al Zaytun. Sebuah kisah yang kini menarik perhatian peneliti muda dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Pada Kamis, 11 Juni 2026, mahasiswa Program Pascasarjana Pendidikan Nonformal (PNF) Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Khoerun, melakukan penelitian lapangan di PKBM Al Zaytun. Penelitian tesis yang berjudul “Analisis Strategi PKBM Al Zaytun dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Program Kesetaraan” berupaya mengungkap rahasia keberhasilan lembaga tersebut dalam membangkitkan semangat belajar masyarakat.

Dalam wawancara yang berlangsung bersama dua tutor aktif, Sukino dan Sri Wahyuni, terungkap bahwa keberhasilan PKBM Al Zaytun bukanlah hasil kerja instan. Ia lahir dari proses panjang, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap orang memiliki hak untuk belajar tanpa batas usia.

Dari Kekhawatiran Menjadi Gerakan Pendidikan

Sri Wahyuni masih mengingat betul kondisi PKBM Al Zaytun beberapa tahun silam. Sejak mengabdi sebagai tutor pada 2019, ia mendengar kegelisahan yang sama dari para pengelola.

Jumlah peserta didik tidak menunjukkan peningkatan berarti dari tahun ke tahun. Warga belajar aktif bahkan belum mencapai seratus orang, sementara jumlah alumni sudah mendekati dua ratus orang. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan program pendidikan kesetaraan.

Alih-alih menyerah, Sri Wahyuni memilih mencari akar persoalan.

Ia bersama rekan-rekan tutor mulai melakukan pemetaan potensi masyarakat melalui Paguyuban Istri Peduli (PIP), sebuah organisasi yang menghimpun para istri civitas Ma’had Al Zaytun di wilayah Gantar dan sekitarnya. Dari sekitar 500 anggota yang terdata, ditemukan fakta mengejutkan: sekitar 250 orang belum menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMA atau sederajat.

Data tersebut menjadi titik balik.

Bersama pengurus paguyuban, para tutor turun langsung ke masyarakat. Mereka mendatangi 17 blok wilayah Gantar, melakukan silaturahmi dari rumah ke rumah, menjelaskan manfaat pendidikan, dan mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi warga.

Pendekatan itu ternyata membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit masyarakat mulai membuka diri. Mereka menyadari bahwa pendidikan bukan hanya milik anak-anak dan remaja, melainkan hak setiap orang sepanjang hayat.

Tahun itu, jumlah pendaftar baru melonjak hingga mencapai sekitar 125 orang.

Menaklukkan Musuh yang Tak Terlihat: Rasa Minder

Meski minat masyarakat mulai tumbuh, tantangan terbesar ternyata bukan persoalan biaya ataupun fasilitas.

“Yang paling sulit adalah mengalahkan rasa minder,” ungkap Sukino.

Banyak calon peserta didik merasa malu karena usia mereka tidak lagi muda. Sebagian beranggapan bahwa belajar hanya pantas dilakukan oleh anak-anak sekolah.

Pandangan tersebut menjadi hambatan psikologis yang cukup berat.

Untuk mengatasinya, para tutor menerapkan pendekatan yang lebih manusiawi. Mereka menjelaskan bahwa pendidikan kesetaraan dirancang khusus bagi masyarakat dengan berbagai latar belakang usia dan pengalaman hidup. Pembelajaran tidak berlangsung kaku seperti sekolah formal, melainkan lebih fleksibel, komunikatif, dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Di dalam kelas, suasana belajar dibangun dengan hangat. Ice breaking, diskusi santai, dan pendekatan motivasional menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.

Para tutor tidak sekadar mengajar, tetapi juga mendampingi, mendengarkan, dan memberi semangat kepada peserta didik yang sering kali datang membawa keraguan terhadap dirinya sendiri.

Kisah Surati dan Kekuatan Kesabaran

Bagi Sri Wahyuni, salah satu momen paling berkesan selama mengabdi adalah pertemuannya dengan Surati.

Saat pertama kali diajak mengikuti pendidikan kesetaraan, Surati menolak mentah-mentah. Tidak ada ketertarikan sedikit pun untuk kembali belajar.

Namun Sri Wahyuni tidak pernah memaksakan kehendak.

Setiap kali bertemu, ia hanya menyelipkan kalimat-kalimat motivasi sederhana. Tidak ada ceramah panjang, tidak ada tekanan. Hanya sapaan hangat dan harapan agar suatu hari Surati mau membuka lembaran baru dalam hidupnya.

Waktu berjalan.

Dua tahun kemudian, ketika pembukaan kegiatan pembelajaran PKBM dilaksanakan, Sri Wahyuni dibuat terharu. Di antara para peserta yang hadir, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Surati.

Perempuan yang dulu menolak pendidikan kini duduk sebagai warga belajar baru.

“Di situlah saya merasa bahwa tidak ada usaha yang sia-sia,” kenang Sri Wahyuni.

Kisah tersebut menjadi bukti bahwa perubahan sering kali tidak lahir dari paksaan, melainkan dari kesabaran dan sentuhan kemanusiaan yang terus menerus diberikan.

Belajar dari Kehidupan, Bukan Sekadar Buku

Hasil wawancara mendalam yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa salah satu kekuatan utama PKBM Al Zaytun terletak pada penerapan pendekatan andragogi, yaitu metode pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan dan pengalaman peserta didik dewasa.

Bagi warga belajar yang telah bekerja, berkeluarga, atau memiliki pengalaman hidup panjang, pengalaman tersebut justru dijadikan sumber belajar.

Materi pelajaran dikaitkan dengan realitas sehari-hari sehingga lebih mudah dipahami dan dirasakan manfaatnya.

Hubungan antara tutor dan peserta didik juga dibangun secara setara dan saling menghormati. Tutor tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, sahabat belajar, sekaligus pendamping yang membantu peserta didik menghadapi berbagai kesulitan.

Dari Gaptek Menjadi Melek Digital

Transformasi lain yang menarik terlihat pada pemanfaatan teknologi.

Melalui media pembelajaran berbasis digital, peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang lebih fleksibel. Materi dapat diakses kapan saja dan dari mana saja.

Banyak warga belajar yang sebelumnya tidak terbiasa menggunakan teknologi kini mulai percaya diri memanfaatkan perangkat digital untuk mendukung proses belajar mereka.

“Yang dulu tidak berani menggunakan teknologi, sekarang sudah mulai aktif mengikuti pembelajaran secara digital,” ujar salah satu tutor.

Kemampuan tersebut bukan hanya mendukung proses pendidikan, tetapi juga meningkatkan kesiapan mereka menghadapi tuntutan kehidupan modern.

Menyalakan Harapan untuk Masa Depan

Perubahan yang terjadi pada peserta didik tidak hanya terlihat dari nilai akademik.

Yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya rasa percaya diri.

Mereka mulai berani berbicara di depan umum, aktif berdiskusi, mengikuti kegiatan masyarakat, serta memiliki perencanaan masa depan yang lebih jelas.

Perubahan itu semakin diperkuat oleh kehadiran para alumni yang rutin berbagi pengalaman dan memberikan testimoni kepada calon warga belajar. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa pendidikan kesetaraan mampu membuka peluang baru dalam kehidupan.

Alumni tidak hanya menjadi saksi keberhasilan program, tetapi juga menjadi agen inspirasi yang terus menghidupkan semangat belajar di tengah masyarakat.

Pendidikan yang Menyentuh Hati

Penelitian yang dilakukan Khoerun pada akhirnya menunjukkan bahwa keberhasilan PKBM Al Zaytun tidak semata-mata ditentukan oleh kurikulum, metode pembelajaran, atau fasilitas yang dimiliki.

Di balik peningkatan jumlah peserta didik dan keberhasilan program kesetaraan, terdapat sesuatu yang lebih mendasar: kepercayaan bahwa setiap manusia mampu berubah ketika diberi kesempatan, dihargai, dan didampingi dengan tulus.

PKBM Al Zaytun mengajarkan satu pelajaran penting bahwa pendidikan bukan hanya proses mentransfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah upaya menyalakan kembali harapan yang hampir padam, menghidupkan mimpi yang sempat tertunda, dan membuka jalan bagi siapa pun yang ingin memperbaiki masa depannya.

Karena sesungguhnya, belajar tidak mengenal batas usia.

Dan seperti kisah Surati, terkadang pendidikan hanya membutuhkan satu hal sederhana untuk tumbuh: seseorang yang tidak pernah lelah mengetuk hati.**

Indramayu, 14 Juni 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!