Kisah Tragis Dari BGN Hingga Korupsi dan Suap di Imigrasi Yang Dramatis


*Kisah Tragis Dari BGN Hingga Korupsi dan Suap di Imigrasi Yang Dramatis*

Penulis : Jacob Ereste

Gonjang-ganjing masalah BGN (Badan Gizi Nasional) yang memecat Kepala BGN dan dua orang Wakil Kepala — tanpa Nanik S. Deyang yang sebagai Wakil Kepala BGN — tiba-tiba seorang teman mengirimkan buku kecil tentang yang ditulis Ninik S. Deyang berjudul “Prabowo Pembayar Utang Bank Terbaik di Indonesia Bahkan di Dunia”. Buku kecil dengan format lebih gede sedikit dari kemasan rokok ini, tak ada penjelasan apa-apa kecuali menerangkan sosok Prabowo Subianto sebagai pembayar utang bank terkait dengan perusahaan milik Prabowo Subianto yang terbilang cukup kaya. Selebihnya, menerangkan dirinya sendiri sebagai mantan wartawan. Sehingga buku saku yang ditulis oleh Ninik S. Deyang ini, jika tak salah ingat, beredar saat menjelang Pemilihan Presiden tahun 2019.

Nama Ninik S. Deyang memang ikut menjadi sorotan publik ditengah mencuatnya kasus dugaan korupsi tata kelola Program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang berada di bawah kendali Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Dada n Hindayana serta dua orang wakilnya berpangkat Jendral Purnawirawan, Irjen Pol. (Purn) Sony Sonjaya dan Lentjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung. Sementara Nanik S. Deyang bisa melenggang, bahkan jadi menduduki jabatan tertinggi di BGN yang akan segera dilantik pada hari Senin, 8 Juni 2026.

Pertanyaan publik, mengapa Ninik S. Deyang Tak Terseret Kasus Korupsi MBG ? Begitulah yang tertulis jelas dalam media Triaspolitika.net. Dan memang Ninik S. Deyang baru bergabung di BGN setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 17 September 2025 bersama Sony Sonjaya. Sedangkan Lodewyk Pusing telah dilantik lebih dahulu sebagai Wakil Kepala BGN pada 22 Oktober 2024. Belum lagi kisah dramatik tentang korupsi ini seperti parade senja yang disusul oleh Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Wamen Imipas) Silmy Karim yang tak kalah heroik dengan menyerahkan diri secara sukarela kepada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang diduga melakukan tindak pidana suap dan korupsi terkait pengurusan izin tinggal WNA (Warga Negara Asing) saat menjabat Dirjen Imigrasi. Bahkan dalam rangkaian kasus imigrasi ini, KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta Barat, Bali dan Jawa Barat yang menyeret 17 orang termasuk Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Barat.

Praktik suap dalam penerbitan izin tinggal (Kitas : Kartu Izin Tinggal Terbatas) dan Kitap ( Karti Izin Tinggal Tetap) ini menjadi bukti bahwa tindak pidana suap dan korupsi tidak hanya sebatas pada uang dari kas negara saja. Seperti obyek yang menyadari juga pada para calon jemaah haji yang belum jelas penyelesaian kasusnya sampai sekarang.

Sosok dari Ninik S. Deyang sendiri pun memang dinilai oleh banyak pihak sungguh terkesan tegak lurus kepada Prabowo Subianto. Sehingga surat cinta Sony Sonjaya dalam secarik kertas yang viral itu pun menjadi buah bibir banyak pihak memperkuat misteri dari dramatik kisah Dadan Hindayana yang baru malam sebelumnya pulang dari umrah, lalu mendapingi Presiden, hingga kemudian dipecat, dan terus kemudian ditangkap oleh Kejaksaan Agung. Kisah dramatik ini sungguh menarik perhatian publik, seakan seperti pengalihan terhadap kasus besar lain. Karena berikutnya menjadi semacam misteri yang sangat membutuhkan tafsir serius terkait dengan selembar surat cinta dari Sony Sonjaya yang romantis itu, jika tak bisa disebut satiris itu. Belum lagi kemudian adanya pernyataan Sony Sonjaya sendiri yang siap untuk menjadi justice calaboration untuk mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi dibalik layar kisah dramatis yang satire atau sebaliknya, satire yang dramatik dari realitas hukum di negeri ini. Jika pun terpaksa untuk disebut semacam drama surealis, bagaimana realitas hukum bisa memberi kepastian dari keadilan yang manusiawi. **


Banten, 5 Juni 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!