Ironi Pendidikan Kita (Refleksi Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei)


IRONI PENDIDIKAN KITA

(Refleksi Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei)

Oleh : Ali Aminulloh

Ada ironi yang tidak bisa lagi ditutupi dengan upacara, baliho tema, maupun pidato-pidato seremonial setiap Hari Pendidikan Nasional. Di tengah gegap gempita berbagai program baru yang diluncurkan atas nama kemajuan pendidikan, kita justru menyaksikan kenyataan yang membuat dada sesak: pendidikan di negeri ini masih sering diperlakukan sebagai urusan pelengkap, bukan urusan pokok pembentukan peradaban.

Negara tampak sangat cekatan menghitung kebutuhan logistik untuk anak-anak sekolah. Program Makan Bergizi Gratis disusun dengan keseriusan tinggi. Dapur dibangun, pengelola makanan disiapkan, karyawan direkrut, distribusi diatur, anggaran dikawal. Semua itu menunjukkan bahwa negara memahami pentingnya asupan gizi bagi peserta didik. Tetapi ironi muncul ketika perhatian sebesar itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan perhatian terhadap para guru, terhadap kualitas ruang belajar, terhadap kesenjangan pendidikan, dan terhadap pembentukan karakter yang menjadi inti dari pendidikan itu sendiri.

Kita seolah sedang berlari cepat mengurus apa yang masuk ke perut siswa, tetapi masih berjalan lambat mengurus apa yang masuk ke pikiran, hati, dan kesadaran mereka.

Guru di banyak tempat masih berhadapan dengan kesejahteraan yang belum menenteramkan. Sekolah-sekolah di daerah tertentu masih berkutat dengan fasilitas yang memprihatinkan. Ketimpangan mutu pendidikan masih terasa tajam. Di saat yang sama, kasus kekerasan, perundungan, hingga hilangnya keteladanan di lingkungan sekolah masih menjadi persoalan yang belum tuntas. Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan kita masih menyimpan lubang besar yang tidak bisa ditutup hanya dengan slogan perubahan.

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei sejatinya lahir dari penghormatan terhadap Ki Hajar Dewantara, sosok yang meyakini pendidikan sebagai jalan memerdekakan manusia. Melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, Presiden Soekarno menetapkan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara sebagai momentum nasional agar bangsa ini terus mengingat bahwa pendidikan adalah fondasi utama kebangkitan rakyat.

Namun setelah puluhan tahun Hardiknas diperingati, pertanyaan mendasarnya masih sama: apakah kita sungguh-sungguh sedang mendidik, atau sekadar sibuk menjalankan program pendidikan?

Tema Hardiknas 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” sesungguhnya merupakan ajakan mulia agar seluruh elemen bangsa ikut terlibat memajukan pendidikan. Tetapi keterlibatan itu akan kehilangan makna bila yang dibangun hanya sistem administratif, sementara ruh pendidikan tidak disentuh.

Syaykh A.S. Panji Gumilang dalam gagasannya tentang Trilogi Kesadaran mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses menanam kesadaran. Kesadaran itulah yang perlahan menumbuhkan kemanusiaan. Tanpa kesadaran, sekolah hanya menghasilkan lulusan. Dengan kesadaran, sekolah melahirkan manusia.

Kesadaran filosofis adalah pondasi pertama. Anak didik harus dibimbing untuk memahami mengapa ia belajar, untuk apa ilmu digunakan, dan bagaimana ilmu harus mengangkat martabat hidupnya. Tanpa ini, pendidikan akan jatuh menjadi rutinitas menghafal, mengejar nilai, dan memburu ijazah. Murid mungkin lulus, tetapi tidak selalu tercerahkan.

Kesadaran ekologis menjadi pondasi kedua. Pendidikan harus menanamkan bahwa manusia hidup bersama alam dan lingkungannya. Kedisiplinan, kebersihan, keteraturan, penghargaan pada pangan, penghargaan pada air, penghargaan pada ruang hidup, semua adalah bagian dari proses belajar. Bahkan dari sebutir nasi yang dimakan di sekolah pun, anak-anak seharusnya belajar tentang tanggung jawab, keteraturan, dan rasa syukur. Pendidikan gagal bila hanya mengajarkan konsumsi tanpa mengajarkan kepedulian.

Kesadaran sosial menjadi pondasi ketiga. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar hidup bersama, menghargai perbedaan, peka pada penderitaan sesama, dan tumbuh dalam semangat gotong royong. Tetapi bagaimana kesadaran sosial akan tumbuh jika pendidikan sendiri masih penuh ketimpangan, masih menyisakan jurang antara kota dan desa, antara sekolah unggulan dan sekolah tertinggal, antara guru sejahtera dan guru yang sekadar bertahan?

Di sinilah letak ironi pendidikan kita. Kita memiliki kurikulum yang terus berganti, teknologi yang terus diperbarui, dan program yang terus diluncurkan, tetapi persoalan mendasar tentang kesadaran belum sungguh-sungguh dibereskan. Kita ingin mencetak generasi unggul, tetapi belum sepenuhnya menyiapkan ekosistem yang memuliakan proses pendidikan.

Pendidikan akhirnya terlalu sering diukur dari hal-hal yang terlihat: gedung, aplikasi, bantuan, sertifikat, proyek, dan laporan. Padahal keberhasilan pendidikan justru ditentukan oleh hal-hal yang tidak kasatmata: keteladanan, perhatian, penghormatan kepada guru, kedalaman berpikir, kepedulian sosial, dan kebiasaan hidup yang beradab.

Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi hari kejujuran. Hari ketika bangsa ini berhenti sejenak untuk mengakui bahwa masih ada pekerjaan besar yang belum selesai. Bahwa kita belum sepenuhnya berhasil memanusiakan pendidikan. Bahwa kita masih sering lebih sibuk mengurus sistem daripada mengurus jiwa manusia yang ada di dalam sistem itu.

Maka refleksi paling penting pada 2 Mei ini bukanlah seberapa meriah peringatannya, melainkan seberapa dalam kesadaran kita untuk membenahi arah.

Karena pendidikan tidak cukup hanya membuat anak-anak hadir di sekolah. Pendidikan harus membuat mereka hadir sebagai manusia yang berpikir, manusia yang peduli, dan manusia yang beradab.

Jika itu belum terwujud, maka setiap Hardiknas akan selalu meninggalkan satu kalimat yang menggantung di udara: kita sudah banyak berbicara tentang pendidikan, tetapi belum sepenuhnya sungguh-sungguh mendidik.**


Indonesia, 2 Mei 2026
———-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!