“Saat Angkutan Umum Menjadi Harapan Baru Indonesia”
(Refleksi HariTransportasi Umum, 24 April)
Oleh Ali Aminulloh
Pagi baru saja merekah ketika deru mesin bus perlahan mengisi jalanan kota. Di antara hiruk-pikuk kendaraan pribadi yang saling berebut ruang, sebuah bus tua melaju pasti membawa pekerja, pelajar, dan harapan yang tak pernah benar-benar berhenti bergerak. Di situlah cerita tentang negeri ini dimulai: dari roda-roda yang tak lelah mengantar kehidupan.
Tanggal 24 April, yang dikenal sebagai Hari Angkutan Nasional, bukan sekadar penanda dalam kalender. Ia adalah jejak panjang perjalanan transportasi publik Indonesia dari masa perang, kemerdekaan, hingga era modern yang menuntut kecepatan dan keberlanjutan.
Sejarah mencatat, cikal bakal angkutan umum nasional lahir pada masa pendudukan Jepang tahun 1943. Setelah kemerdekaan, semangat nasionalisasi melahirkan DAMRI sebagai simbol kehadiran negara dalam memastikan rakyat tetap terhubung, bahkan hingga ke pelosok negeri.
Perjalanan DAMRI bukanlah garis lurus. Ia tumbuh dari sebuah “djawatan” sederhana menjadi tulang punggung transportasi darat nasional. Dari angkutan kota hingga lintas batas negara, dari rute ramai hingga daerah 3T, ia hadir sebagai bukti bahwa mobilitas adalah hak, bukan sekadar layanan.
Tema Hari Angkutan Nasional 2026 menegaskan arah baru: penguatan peran transportasi umum, peningkatan layanan publik, dan pengurangan kemacetan. Tema ini terasa semakin relevan di tengah realitas jalanan kota Indonesia yang kian padat, di mana waktu sering kali habis di atas aspal.
Namun, jika menoleh ke negara-negara maju, gambaran yang berbeda tampak jelas.
Di Tokyo, transportasi publik bukan sekadar pilihan. Ia adalah budaya. Kereta datang tepat waktu hingga hitungan detik, jaringan terintegrasi tanpa celah, dan masyarakat menjadikan transportasi umum sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Hampir seluruh aktivitas kota bertumpu pada sistem yang disiplin dan efisien.
Sementara di Singapore, pemerintah berhasil menciptakan sistem transportasi yang tidak hanya nyaman, tetapi juga “memaksa secara halus” masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi. Tarif yang terjangkau, konektivitas antarmoda yang rapi, serta kebijakan pembatasan kendaraan pribadi menjadikan transportasi publik sebagai pilihan paling logis.
Di Eropa, kota seperti Berlin menunjukkan bagaimana integrasi menjadi kunci. Bus, trem, dan kereta berjalan dalam satu sistem tiket, satu jadwal, dan satu visi: memudahkan mobilitas warga tanpa ketergantungan pada kendaraan pribadi. Bahkan berjalan kaki dan bersepeda menjadi bagian dari ekosistem transportasi yang saling melengkapi.
Perbandingan ini bukan untuk merendahkan, tetapi untuk menyadarkan: bahwa kemajuan transportasi publik bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal komitmen, konsistensi kebijakan, dan perubahan perilaku masyarakat.
Indonesia sendiri tidak tinggal diam. Upaya modernisasi terus dilakukan, mulai dari bus listrik, sistem pembayaran digital, hingga integrasi dengan MRT, LRT, dan kereta api. Program seperti Teman Bus menjadi langkah konkret menuju layanan yang lebih profesional dan terstandar.
Namun tantangan tetap nyata. Dominasi kendaraan pribadi masih kuat, infrastruktur belum merata, dan kesadaran masyarakat untuk beralih masih menjadi pekerjaan besar. Di sinilah perbedaan paling mencolok dengan negara maju: bukan hanya pada sistemnya, tetapi pada kedisiplinan kolektif dalam menggunakannya.
Di balik semua itu, ada sosok-sosok yang sering luput dari perhatian: sopir, kondektur, dan mekanik. Mereka adalah penjaga ritme perjalanan bangsa dalam menghadapi kemacetan, tekanan waktu, dan risiko di jalan, demi memastikan setiap penumpang tiba dengan selamat.
Hari Angkutan Nasional seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum perubahan, baik dari sisi kebijakan maupun kesadaran publik. Sebab, tanpa partisipasi masyarakat, transportasi umum hanya akan menjadi pilihan kedua, bukan solusi utama.
Negara-negara maju telah membuktikan satu hal: ketika transportasi umum menjadi prioritas, kota menjadi lebih manusiawi. Jalanan lebih lega, udara lebih bersih, dan waktu lebih bernilai.
Indonesia sedang menuju ke sana. Mungkin belum sempurna, mungkin masih tertatih. Namun setiap bus yang berangkat pagi ini, setiap halte yang dibangun, dan setiap penumpang yang memilih naik angkutan umum adalah langkah kecil menuju perubahan besar.
Dan ketika roda-roda itu terus berputar, sesungguhnya yang sedang digerakkan bukan hanya kendaraan, melainkan masa depan Indonesia.**
Indonesia, 24 April 2026
——–
![]()
