NDERES PUISI, LAKU BATIN MEMENDAM LUKA PERADABAN : PRAWACANA PUISI PUISI JAWA DERMAYU SUPALI KASIM


NDERES PUISI, LAKU BATIN MEMENDAM LUKA PERADABAN : PRAWACANA PUISI PUISI JAWA DERMAYU SUPALI KASIM

Oleh : H. Adlan Daie
Sekretaris Umum MUI kab Indramayu/Ketua Forum Sastra Indramayu (FSI-1994).

Puisi adalah “laku batin”, mustahil diringkas dalam satu definisi. Memahami puisi semata mata dari sudut pandang dan standart literasi bersifat ilmiah adalah bentuk “simplifikasi” dan penyederhanaan – hanya menyentuh “kulit luar” puisi.

Puisi sulit diteorikan proses lahirnya kecuali terbatas mendekati pilihan diksi, pola ungkap dan kategorisasi bentuk misalnya puisi liris (Goenawan Muhamad) puisi pamflet (Rendra), puisi “mbling” (Emha Ainun Nadjib), dll.

Itu sebabnya, terus terang penulis sulit merekonstruksi “laku batin” proses lahirnya buku puisi puisi Jawa Dermayu Supali Kasim berjudul “Desa Mawa Lelara, Nagri Mawa Memedi” (2026) – malam ini diluncurkan dalam resepsi budaya di pelataran DKI – Dewan Kesenian Indramayu (1 Maret 2026).

Spirit “Iqro”, ayat pertama yang turun di bulan Romadlon, mari kita jadikan momentum menghidupkan spirit “nderes” kedalaman “insight” puisi puisi Supali Kasim di atas betapa pun penulis memiliki keterbatasan atas penguasaan kedalaman makna diksi diksi budaya Dermayu dalam puisi puisinya.

Malam ini kita berkumpul bukan untuk membongkar “laku batin” puisi puisi Jawa Dermayu Supali Kasim kecuali “Nderes” dengan segala varian bentuk artikulasi tafsirnya : maca puisi, puisi tari, puisi rupa, puisi suara, guneman puisi” – untuk menolak menyerah bahwa kesadaran moral dalam puisi harus diwariskan.

Penulis telah mengenal puluhan tahun silam Supali Kasim, penulisnya, ternyata ia begitu “keras kepala”, istiqamah merawat kaki kaki cakrawala budaya lokal , menghidupkan literasi puisi (sastra) bahasa “ibu” (Jawa Dermayu) di tengah trend budaya yang “tidak ramah”, memendam luka peradaban.

Konsistensinya dalam “laku budaya”Jawa Dermayu telah menghasilkan tujuh buku sastra Jawa dermayu : puisi , cerpen, naskah drama, dll sejak tahun 2012 hingga tahun 2026

Ini bukan sekedar pantas untuk diapresiasi antara lain lewat buku puisi puisi Jawa dermayu yang ditulisnya berjudul “Sawiji Dina Sawiji Mangsa”, sebagai buku puisi terbaik untuk kategori sastra Jawa tahun 2021.

Penghargaan diberikan oleh yayasan “Rancage”, sebuah lembaga nirlaba, digawangi tokoh tokoh otoritatif secara keilmuan dengan integritas moralitas tinggi seperti Ajib Rosidi (Budayawan), Hatjapamekas – pegiat anti korupsi, dll.

Ini lebih sublimatif tentang kesetiaan tak berbatas bahwa bahasa Jawa dermayu bukan soal kebanggaan primordial tetapi tentang identitas kultural yang harus dirawat dan diberi “jiwa” kultural bahwa sastra Jawa Dermayu memiliki hak eksistensial setara dalam dialektika sosial..

Sebagai “laku batin”, puisi dan sastra yang lahir dari “inner power” Supali Kasim, mengutip Arif Budiman adalah “tampak biasa biasa saja tapi memendam kisah luka batin yang tak tertahankan untuk disuarakan”. Arif Budiman adalah sosiolog, penulis buku “tafsir sosiologis” puisi puisi Chairil Anwar, Sang “Binatang Jalang”.

Dalam perspektif George Orwell, Sastrawan berkebangsaan Inggris, penulis buku “Iconic” berjudul “Binatangisme politik” – puisi adalah ingatan hidup yang menolak kekejaman menjadi kebiasaan, menolak ketidak adilan “dinormalisasi”.

Tentu Supali Kasim tidak seeksplosif Arif Budiman Dan George Orwell di atas untuk “mendereskan” puisi puisi Jawa Dermayu yang dilahirkannya tapi tekanannya adalah bahwa Era “kecerdasan buatan” (AI) yang digandrungi pasar digital modern hanya alat bantu, bukan pengganti nurani puisi, tidak dapat meminggirkan kekuatan “bahasa ibu”.

AI hanya membantu riset, visualisasi dan alih wahana, namun suara nurani puisi tetap menjadi kompas laku keselamatan jalan hidup, bertumpuk pada kearifan lokal dan kekuatan diksil yang membasis bumi.

Itulah “the power off” puisi. Itulah “Fitroh” puisi. Hanya puisi yang menolak pencanggihan kebohongan yang diulang ulang meskipun dengan lirik yang “lirih” dan “luruh”, seperti puisi Jawa Dermayu Supali Kasim di bawah ini :

TAUN ANYAR, POLITIK LAWAS

tanggalan wis genti
lembaran januari
iki dina kaping siji
taun anyar maséhi

tanggalan wis genti
ramé-ramé mau bengi
bledogan wis mari
uga kembang api

yén nongton berita ning tivi
bati dugal lan lara ati
banyumata sumatra brebes mili
tapi bantuan luar negri diblolihi

yén nongton berita ning tivi
akéh kocap lan kritik sing peduli
nangapa blolih bantuan luar negri
nangapa kiyeng utang luar negri

nongton berita tivi bari wédangan
umahé sing ngritik dikirimi bathang ayam
lan selembar surat ancaman
nginum keselek wédang blaratan

tanggal siji tanggalan abang
kaya sedurungé taun sangang puluh woluan
apa kudu ngucapaken taun anyaran
taun anyar, politik lawas ning adepan

1 Januari 2026

Itulah puisi, tak kuasa menahan “laku batin” memendam luka peradaban, tak tahan untuk ditulis dan diucapkan meskipun lirih dan luruh di depan beton beton kuasa politik. “Tahun anyar, tapi kelakuan politik lawas” – problem kultural budaya kita, tak berubah, bahkan makin canggih instrument kemunafikannya

Kemunafikan dalam konstruksi budaya Emha Ainun Nadjib menemukan panggung depan dalam teater pencitraan politik. Pencitraan adalah pemalsuan dan pemalsuan adalah kriminalitas batin. Rakyat dipaksa untuk mencintai kepalsuan dan kebohongan”.

Lalu, apakah puisi – juga sastra dan laku budaya tidak penting dan tidak berguna di tengah di tengah massifikasi “kecerdasan buatan” (AI) dan kemunafikan politik yang terstruktur, sistemik dan massif?

Puisi hadir betapa pun ia berteriak “lirih” dan “luruh” adalah lorong alternatif bagi “ingatan yang ditertibkan negara”. Puisi menuntun jalan bagi suara yang terpinggirkan, bagi luka batin yang tidak tercatat dalam arsip negara.

Tanpa puisi, tanpa sastra – luka sosial mudah diulang. Puisi novel dan kesaksian sastra membangun empati lintas waktu dan generasi untuk memungkinkan penderitaan batin masa lalu dirasakan kembali oleh mereka yang tidak mengalaminya

Inilah spirit puisi, spirit sastra, sebuah kekuatan kata kata, jalan penuntun menuju kesadaran baru menjulang langit yang tercerahkan tapi tidak melupakan kedalaman “rasa” bahasa ibu. **


Indramayu, 26 Februari 2026.
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!