Seni Tari Sebagai Pilar Pendidikan Holistik Di Al-Zaytun
(Seri Mengenal Tradisi-Tradisi Di Al Zaytun)
Oleh Ali Aminulloh
Seni sebagai Fondasi Pendidikan Berkarakter
Di Ma’had Al-Zaytun, seni bukanlah pelengkap dalam sistem pendidikan, melainkan bagian integral dari proses pembentukan manusia paripurna. Dalam filosofi pendidikan Al-Zaytun, keunggulan santri tidak hanya diukur dari kekuatan akidah, kedalaman ilmu pengetahuan, dan keterampilan teknis semata, tetapi juga dari kehalusan budi dan keluwesan jiwa yang tercermin melalui ekspresi seni. Syaykh menegaskan, “Jangan pernah ngeres dengan seni,” sebagai pengingat bahwa seni harus didekati dengan akhlak mulia dan niat yang jernih.
Salah satu bentuk seni yang paling mendapatkan perhatian di Al-Zaytun adalah seni tari. Sejak berdiri, Al-Zaytun telah memantapkan seni tari sebagai salah satu media pembinaan karakter santri. Dengan visi membentuk generasi Basthah fil ‘Ilmi wal Jism—generasi yang unggul dalam ilmu dan fisik—seni tari berfungsi membangun harmoni antara tubuh dan jiwa, antara ekspresi dan kontrol diri.
Jejak Langkah Pelatih dan Sistematisasi Pembelajaran Tari
Perjalanan seni tari di Al-Zaytun dimulai dengan kehadiran pelatih-pelatih tangguh seperti Inu Kertapati dari Cirebon, yang memperkenalkan santri pada Tari Topeng, Tari Merak, dan Tari Ngremo. Komitmen Al-Zaytun terhadap pembinaan seni tari terus diperkuat dengan masuknya pelatih profesional, termasuk Dra. Puruhitari yang bergabung pada Februari 2017. Sosok yang sarat pengalaman ini membawa darah seni dari kedua orang tuanya—ibu lulusan ASTI Yogyakarta dan ayah lulusan ASRI Yogyakarta. Ia juga berlatih di Pusat Latihan Tari (PLT) Bagong Kussudiardjo Surabaya.
Sejak usia SD, Puruhitari telah melatih tari di berbagai sekolah di Surabaya. Pengalamannya terus diasah hingga ke bangku kuliah di UNAIR, serta melalui pelatihan formal dan sertifikasi dari Taman Budaya Provinsi Jawa Timur. Dengan latar belakang akademis S1 Antropologi, ia membawa pendekatan budaya dan ilmiah dalam pengajaran seni tari di Al-Zaytun.
Menurut Puruhitari, kurikulum tari di Al-Zaytun dirancang sangat lengkap: dari tari tradisional, klasik, kreasi, hingga tari daerah dari berbagai wilayah nusantara. “Sampai hari ini, ada 105 jenis tarian yang telah diajarkan kepada santri,” tuturnya. Repertoar tersebut mencakup Tari Saman Aceh, Tari Jaipong Jawa Barat, Tari Bali, hingga Tari Sajojo dari Papua.
Pembinaan tari di Al Zaytun dilakukan sejak kelas 1 MI hingga kelas 12 MA, bahkan merambah ke PKBM, guru, dan mahasiswa. Jadwal latihan berlangsung setiap hari, pukul 15.00–17.00, dan sesi malam pukul 19.00–21.00 untuk persiapan pertunjukan. Semua kegiatan berlangsung di ruang latihan khusus di lantai 2 dome selatan Palagan Agung, dengan manajemen profesional di bawah organisasi STAR-Z (Seni Tari Al-Zaytun), bagian dari KOSMAZ. Demi regenerasi pelatih, dilakukan kaderisasi intensif dengan Siti Isnaini dan Iskarimatun Nisa sebagai asisten pelatih.
Dari Latihan ke Panggung Prestasi
Hasil latihan tidak berhenti di ruang tari. Seni tari di Al-Zaytun terus diaktualisasikan dalam berbagai acara internal dan eksternal. Penampilan rutin santri mewarnai peringatan 1 Syuro, forum tahunan KSU Deda Kota Indonesia, upacara 17 Agustus, Khutbatul Arsy, penyambutan mahasiswa baru, wisuda IAI Al-AZIS, festival pelajar, serta penyambutan tamu-tamu kehormatan. Bahkan, ketika diminta, santri siap tampil dalam acara pernikahan.
Partisipasi santri dalam lomba di luar kampus juga menuai prestasi membanggakan. Akhir 2024, lima santri kelas 9 meraih juara harapan dalam lomba tari tingkat Jabodetabek. Setahun kemudian, enam santri kelas 10 meraih juara 2 nasional dalam ajang yang sama. Ini menjadi bukti bahwa sistem pembinaan seni tari di Al-Zaytun tak hanya serius, tetapi juga efektif dan membuahkan hasil nyata.
Namun lebih dari itu, pendidikan tari di Al-Zaytun melampaui urusan estetika dan kompetisi. Seni tari menjadi wahana membentuk kepribadian. Santri belajar menghargai proses, bekerja sama, menjaga harmoni gerak dan emosi, menumbuhkan rasa percaya diri, serta membangun keberanian tampil di depan umum. Semua itu adalah bekal kehidupan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pelajaran kognitif di kelas.
Epilog: Menari di Atas Nilai-Nilai Kehidupan
Al-Zaytun dengan elegan telah membuktikan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang menyentuh seluruh aspek kemanusiaan. Dengan memasukkan seni tari sebagai bagian dari sistem pendidikan, Ma’had ini telah mengukir jejak pembinaan karakter yang menyeluruh—melibatkan akal, hati, dan tubuh. Di tangan para pendidik berdedikasi dan dalam lingkungan yang sarat nilai, seni tari tidak lagi sekadar gerak yang indah, tetapi menjadi bahasa jiwa yang mendidik, menginspirasi, dan membentuk insan yang utuh.
Bravo Al-Zaytun! Di atas panggung kehidupan, setiap gerakan adalah refleksi nilai, dan setiap langkah adalah jejak menuju peradaban unggul.*
Indramayu, 4 Juli 2025
—
![]()
