Musyawarah dan Mufakat Yang Sudah Dipisahkan


Musyawarah dan Mufakat Yang Sudah Dipisahkan

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Budaya yang terlepas dari asuhan tradisi para leluhur yang mengedepankan etika, moral dan akhlak mulia manusia — seperti yang ada pada suku bangsa Indonesia — memang cenderung melahirkan sikap koruptif, apalagi setelah bergesernya budaya agraris dan budaya masyarakat bahari yang dapat dipastikan selalu menyesuaikan diri dengan alam lingkungan. Jadi dalam tradisi masyarakat agraris yang otentik menjadi bagian dari budaya suku bangsa Indonesia mulai tercemar dan tercerabut dari akarnya semula yang meneguhkan pekerjaan dalam bidang pertanian dan kelautan yang kemudian bergeser memasuki wilayah perkebunan yang sifatnya telah menjadi suatu usaha yang sepenuhnya mencari keuntungan sebesar-besarnya. Sehingga berbagai upaya untuk memperoleh keuntungan mulai menjadi semacam perlombaan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Maka dimulailah budaya bersaing dan berkembangnya sifat dan sikap individual yang menjadi bagian dari ciri khas warga yang kapitalistik.

Pada tahapan serupa inilah pemahaman tentang materialisme yang menjadi basis pemikiran kapitalisme semakin mendapat tempat — tak hanya di pasar — tapi juga di wilayah masyarakat agraris dan maritim atau masyarakat bahari yang juga erat terkait dengan alam lingkungan sekitarnya.

Secara spesifik budaya masyarakat bahari bisa dilihat dalam perilaku mereka beradaptasi dengan laut, sungai dan pantai, sehingga relatif memiliki kesadaran yang tinggi terhadap alam dan lingkungan serta kelestarian alam — laut hingga gunung dan hutan — untuk dijaga tanpa perintah dan pengawasan dari pemerintah yang justru memiliki semangat dan gairah untuk mengeksploitasi alam dan lingkungan dengan sesumbar akan tetap menjaga kelestarian alam. Realitasnya, bencana akibat keserakahan manusia di Indonesia terus silih berganti terjadi di berbagai tempat dan daerah

Dalam pergerakan tradisi, budaya dan peradaban manusia yang dihimpit oleh desakan teknologi modern dan keperluan yang tidak lagi sekedar cukup untuk hidup, bersamaan dengan revolusi industri muncul bersama budaya baru ini masyarakat yang memujanya hingga muncul para pekerja dan buruh yang menggantungkan hidupnya sebagai manusia upahan dari pihak majikan. Padahal, dalam masyarakat agraris maupun maritim atau bahari semua pekerjaan dilakukan secara bersama. Inilah yang mendasari tradisi atau budaya suku bangsa Indonesia yang bermula dari Nusantara terkenal dengan azas gotong royong. Dan sidat serta sikap siku bangsa Indonesia melakukan gotong royong acap disebut sebagai inti pati dari falsafah bangsa, yaitu Pancasila.

Di dalam adat istiadat, tradisi bahkan budaya manusia Indonesia yang sudah memasuki wilayah modern, sikap dan sifat gotong royong masih acap dilakukan ketika melaksanakan upacara di lingkungan keluarga. Seperti saat menikah, khitanan, kelahiran hingga upacara pemakaman dari anggota keluarga yang sedang mengalaminya peristiwa tersebut. Karenanya sifat dan sikap kekeluargaan pun masih sering ikut mewarnai suasana dalam pekerjaan dan jalinan hubungan kemasyarakatan yang lebih luas.

Budaya masyarakat industri di Indonesia yang relatif baru sejak masa kolonial bercokol di negeri ini, mulai berkembang seperti ditandai oleh buruh kontrak dan berbagai perkebunan yang menjadi bagian dari usaha kolonial Belanda di Indonesia. Dan budaya persaingan serta gesekan dalam masyarakat sebagai tabi’at bawaan kapitalisme, tidak hanya membelah mayarakat gotong royong jadi bersifat individualistik, tetapi juga ambisius, egoistik dan kemaruk. Sebab persaingan seperti yang terjadi dalam sistem pasar bebas, monopoli pun dianggap sah dan halal untuk dilakukan. Semua ini tak hanya tercermin dalam sistem ekonomi kita di Indonesia, tapi juga meliputi jabatan dan kekuasaan seperti dalam praktik politik di Indonesia untuk saling menggagahi.

Karena itu pertanyaan tentang amanah, pengabdian, perlindungan pelayanan memiliki tarif yang bisa dinegosiasikan. Inilah maknanya dari esensi musyawarah mufakat yang sudah dipindahkan.***

Banten, 1 Januari 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!