Oleh : Jacob Ereste
Kesaksian Perjalanan Spiritual yang saya tulis membersamai Sri Eko Sriyanto Galgendu yang kini terkenal sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara yang juga acap disebut oleh berbagai pihak sebagai Wali Spiritual. setidaknya sudah lebih dari tujuh tahun bila terhitung sejak tahun 2019. Sejumlah kumpulan tulisan yang sudah terpublikasi melalui berbagai media — umumnya media sosial berbasis internet — sudah ingin diterbitkan pada tahun 2025, karena terhambat oleh berbagai masalah, diantaranya karena sponsor untuk penerbitan kumpulan tulisan tersebut mengalami musibah.
Kumpulan tulisan sejak tahun 2019 ini diperkirakan sudah 1.200 judul yang meliputi berbagai acara dan kunjungan serta ziarah ke sejumlah makam leluhur maupun tempat yang memiliki nilai sakral semacam petilasan atau suatu tempat yang dianggap sakral karena pernah menjadi tempat para wali dan raja se Nusantara, bahkan tercatat juga acap dikunjungi oleh para tokoh nasional untuk memperoleh ilham atau petunjuk untuk memulai suatu pekerjaan besar agar mendapat restu atau palilah dari para leluhur yang sangat mulia dalam laku spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dari sejumlah tulusan kesaksian ini diperkiran sudah bisa diterbitkan 7 buah buku yang meliputi sekitar 120 judul tulisan untuk setiap jilid, sehingga sejak tahun 2019 sudah ada 7 buah buku yang terdiri dari jilid pertams hingga yang ke tujuh.
Semula hendak diterbitkan pada tahun 2025 untuk menandai aktivitas penulis setelah berusia 70 tahun, sebagai ekspresi dari rasa syukur kepada Allah SWT disebabkan telah dikarunia usia n
memasuki babak bonus, meski tiada perlu terlalu berharap untuk dirayakan dengan menyembelih seekor hewan yang bisa disantap bersams sahabat dan kerabat yang ada, karena yang lebih penting dari semua itu adalah rasa syukur karena telah dikarunia usia panjang untuk membuat jejak bahwa selama hidup tidak hanya meninggalkan batu nisan yang tak terukir indah untuk dikenang.
Kesaksian perjalan spiritual Sri Eko Sriyanto Galgendu yang saya tulis, memang tidak sedikit diselingi oleh tulisan lain, meski nuansa spiritual yang ada di dalam tulisan lain itu tetap terasa selera dan aroma spiritualnya yang samar-samar atau bahkan mungkin tersamar di atas kesadaran bawaan yang sudah terlanjur mengakar.
Adapun maksud dari hasrat membukukan kumpulan sejumlah tulisan dalam bentuk bunga rampai ini, setidaknya ingin ikut menandai gelegak dari literasi di Indonesia yang tak kunjung padam, kendari cahayanya dalam keremangan yang terkesan kelam atau bahkan gelap. Sebab hanya dengan begitu secercah cahaya kecil pun perlu dipercikkan untuk ikut memberi isyarat bahwa bara api yang kecil sekalipun tidak boleh padam untuk ikut memberi tanda-tanda jaman yang pernah melintas kemarin dan hari ini untuk hari esok yang lebih baik dan indah untuk dikenang.
Bunga rampai kesaksian perjalanan spiritual yang dilakukan Sri Eko Sriyanto Galgendu ini pun, diharap menjadi semacam perjalan kilas balik yang bisa mengusut laku spiritual yang telah dilakukannya sejak 30 tahun silam, sekitar masih berusia 25 tahun yang terus ditekuni hingga menjelang usia 60 tahun dirinya sekarang. Dalam usia yang lebih matang sekarang ini, pasti dan tentu sedang berada di puncak capaian yang terus bergerak — menanjak — hingga klimak yang tidak bisa diperkirakan lagi ujungnya, jika tidak ditelisik dari masa lalu, masa kini untuk merawang masa depan yang lebih indah dan pasti akan sangat mengagumkan. Karena itu, buku bunga rampai kesaksian perjalanan spiritual ini menjadi penting untuk menandai gerakan kesadaran kebangkitan pemahaman spiritual yang sangat dibutuhkan oleh segenap manusia untuk kembali menata konsistensi dan komitmen diri atas dasar etika dan moral untuk menjaga akhlak mulia agar tidak membuat kerusakan tatanan hidup bersama alam dan malhluk hidup lainnya — tak hanya terhadap sesama manusia — sebagai khalifatullah fil’ardhi.
Jadi, membangun dan. merawat bumi, menegakkan hukum dan mewujudkan keadilan, serta menjadi pemimpin dari diri sendiri, keluarga dan masyarakat untuk kebaikan bersama. (Al Baqarah ayat 30) adalah amanah ilahiyah yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan sebagai pekerjaan yang mulia untuk kemuliaan bersama manusia.
Kesaksian Perjalanan Spiritual yang saya tulis untuk Sri Eko Sriyanto Galdendu perlu dibukukan agar bisa lebih mudah dikoreksi, diusut, ditelusuri tahapan dari gerakan perjalan spiritual untuk menggerakkan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual — sebagai pitensi besar suku bangsa Nusantara — yang tidak pernah diperhitungkan d
sebagai asset yang tiada terkira nilainya bagi bangsa dan negara Indonesia untuk menjadi mercu suar penerang dunia yang gelap dan pengap akibat mabuk material sehingga abai terhadap nilai-nilai spiritual yang telah mengakibatkan kerusakan di dunia, tidak hanya sebatas material, tetapi juga meliputi tatanan hidup dan kehidupan dalam segenap aspek yang terkait dengan ulah dan prilaku manusia yang tidak beradab. Sehingga harapan dari kehadiran buku dari bunga rampai yang memberi kesaksian ini dapat dijadikan acuan, referensi untuk merumuskan jalan yang lebih baik membangun kebersamaan untuk keharmonisan, kedamaian dan kebahagiaan bersama hidup di planet bumi ini yang semakin terasa gersang dan menggerahkan.
Banten, 31 Oktober 2026
Resume pengantar dari buku *Bunga Rampai Kesaksian Perjalanan Spiritual Sri Eko Sriyanto Galgendu* yang saya tulis ulang ini setelah gagal terbit pada tahun 2025 silam, semoga segera menjadi permanen untuk menjadi pengantar buku yang terdiri dari 7 bagian ini dapat terwujud pada awal tahun 2027. Amin… amin Ya Rabb.
—-
![]()
