Mencari Tepian Samudera Pemahaman di Tengah Keruhnya Laut Indramayu

Mencari Tepian Samudera Pemahaman di Tengah Keruhnya Laut Indramayu

Oleh : Wari
Dewan Redaksi Jayanews.com


“Tak seorang pun dapat mencapai tepian samudera pemahaman sejati kecuali ia mampu melepaskan apa apa yang ada di langit dan di bumi.”

Kalimat ini saya baca dari sebuah kitab tua, Kitáb-i-Íqán. Tapi rasanya sangat relevan dengan apa yang terjadi di pesisir kita hari ini.

Kita hidup di zaman di mana semua orang merasa paling paham. Di media sosial, semua orang menjadi hakim. Di warung kopi, semua orang menjadi ahli politik. Di ruang rapat dewan, semua orang merasa paling benar soal anggaran Rp18,7 miliar itu.

Kita menggenggam terlalu banyak: menggenggam jabatan, menggenggam gengsi, menggenggam rasa paling benar, menggenggam kekecewaan pada aparat, menggenggam amarah pada mahasiswa yang demo. Tangan kita penuh.

Padahal, untuk mencapai tepian samudera, tangan harus kosong.

“Samudera Itu Bernama Pemahaman Sejati”

Saya teringat foto seorang diri berjalan di Pantai Karangsong menjelang maghrib beberapa hari lalu. Di hadapannya samudera yang tak bertepi, di atasnya langit yang luas. Manusia terlihat sangat kecil di hadapan keduanya.

Itulah mungkin maksud dari kutipan itu.

“Apa apa yang ada di langit dan di bumi” bukan hanya soal harta benda. Dalam tafsir sufi, itu adalah segala keterikatan: keterikatan pada pujian manusia (langit), dan keterikatan pada kekuasaan dunia (bumi).

Selama kita masih terikat ingin dipuji netizen, kita tidak akan pernah paham arti pengabdian. Selama kita masih terikat ingin mempertahankan kursi, kita tidak akan pernah paham arti pelayanan.

Kapolres Indramayu yang memungut sampah setelah demo kemarin mungkin sedang melepaskan sedikit dari “langit dan bumi” itu melepaskan gengsi jabatan bintang dua di pundak, untuk memungut plastik bekas air mineral di aspal jalanan gedung DPRD. Kecil, tapi itu sebuah pemahaman.

Dua mahasiswa yang terluka saat aksi 28 Oktober lalu juga sedang melepaskan – melepaskan rasa nyaman di kos, demi turun menyuarakan keresahan rakyat. Itu juga bentuk pelepasan.

“Indramayu Butuh Samudera Pemahaman”

Hari ini Indramayu sedang keruh. Laut kita keruh oleh sampah plastik. Politik kita keruh oleh isu korupsi. Hubungan mahasiswa dan aparat sempat keruh oleh benturan.

Kita tidak butuh lagi orang yang menggenggam. Kita butuh orang yang melepaskan.

Melepaskan ego untuk duduk bersama. Melepaskan kepentingan untuk mendengar. Melepaskan kebencian untuk memaafkan.

Karena samudera pemahaman sejati itu tidak ada di Jakarta, tidak ada di ruang sidang DPRD, tidak ada di kolom komentar Instagram. Ia ada di tepian keheningan, ketika seseorang berani berkata: “Saya tidak tahu segalanya, saya perlu belajar.”

Mungkin, untuk memahami Indramayu, kita harus melepaskan dulu Indramayu yang ada di kepala kita yang penuh prasangka dan stereotip dan melihat Indramayu yang ada di depan mata: yang lelah, yang butuh didengar, dan yang butuh dipeluk, bukan hanya diurus.

Pada akhirnya, tidak ada yang bisa menyeberangi samudera dengan perahu yang penuh dengan beban. Harus ada yang dibuang ke laut.

Pertanyaannya, beranikah kita melepaskan?

Indramayu Jumat 30 Oktober 2026

Catatan :
Tulisan ini terinspirasi dari kutipan Kitáb-i-Íqán, salah satu kitab suci Agama . Esensi ajarannya tentang pelepasan diri (detachment) memiliki kesamaan dengan ajaran tasawuf dalam Islam, yaitu zuhud, yang relevan sebagai renungan universal.

—-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!