Monster Pemangsa Mahluk Yang Lemah

Monster Pemangsa Makhluk Yang Lemah

Oleh : Jacob Ereste

Kecakapan berpikir dan kebijakan bertindak diperlukan manusia untuk tanpil setimbang dalam sikap dan sifat kemuliaan manusia yang memperoleh rahmat dan fitrah langsunh dari Tuhan. Inilah pentingnya kecerdasan spiritualitas untuk membimbing kecerdasan intelektualitas, agar tidak culas selalu merasa paling benar sendiri hingga abai pada pendapat dan saran dari orang lain. Bahkan acap kali juga pongah menolak kritik tanpa merasa perlu untuk mengkoreksi kebenaran dari keinginan untuk memperbaiki.

Orang pintar cukup banyak, tapi yang bijak menggunakan etika dan moralitas jauh melampaui kepongahan intelektualitas, sehingga terkadang rasionalitas pun gigur dalam kepongahan yang melampaui batas, seakan-akan ide dan pandapatnya adalah yang paling kampiun dan final serta absolut tidak bisa dan tidak boleh dikoreksi oleh siapa pun. Karena itu, sikap dan sifatnya tak lagi seperti raja diraja tak dapat dibantah, tapi acap kali sudah deperti Tuhan Yang Maha Benar dengan segala firmannya. Padahal dalam pepatah lama sudah memberi isyarat : raja zalim patut disanggah, hanya raja yang alim yang layak disembah.

Contoh keteladanan dari pamong dan abdi masyarakat semakin langka, sehingga sanepo tentang guru kecing berdiri, tidak bisa mentalahkan ada murid yang kencing sambil berlari. Seban petugas yang harus menangkap maling, justru sekarang banyak yang ikut maling. Bagaimana bingungnya warga masyarakat ketika Polisi mengakap Jaksa yang harus dipahami sebagai oknum. Begitu juga sebaliknya, Jaksa yang menangkap Polisi, seperti seorang hakim yang harus dihakimi di persidang tindak pidana korupsi. Atau petugas pencegahan penggunaan dan peredaran narkoba, justru menjadi pemakai narkoba sekaligus agen pengedar dari obat terlarang itu.

Artinya, dari beragam kasus tersebut di atas, jelas tatanan etika dan moral yang bersangkutan sudah berada dibawah titik nol. Karena itu tidak lagi perlu dipertanyakan akhlak dan keimanan dari agama yang telah menuntun dirinya hingga tersesat jauh seperti itu, sementara pengskuannya tetap beragama dan percaya kepada Tuhan. Jadi kamuflase tampilan yang bersangkutan selama ini, tidak cuma sekedar untuk menipu orang lain, taoi juga telah meniou dirinya sendiri sebagai makhluk yang munafik.

Tampaknya, hidup manusia menuju penghujung jaman pada hari-hari belakangan, semakin beragam dipenuhi kepalsuan- kepalsuan serta banyak jenis barang hingga gelar imitasi bahkan palsu. Meski hanya untuk dipakai sendiri, namun tetap mengandung unsur penipuan dalam bebtuk pencitraan diri sekedar untuk menggagahi orang lain. Dalam kontek inilah etika — yang dibangun dari tradisi dan budaya hingga menjadi kesepakatan dalam untuk hidup bersama masyarakat — telah dinodai hingga moralitas ambruk, terpuruk seperti barang tua yang lapuk.

Maka itu, saatnya kini gerakan kebangkitan kesadaran pemahaman spiritual semakin mendesak untuk disosialisasikan dalam skala semesta, agar membumi dan mengetuk menurunkan cahaya terang untuk dunia, agar semua makhluk tidak saling memangsa sesama makhluk yang lain. Sebab mereka kini menjadi monster yang terus menghalau kenyaman dan kerenteraman hati kita di sepangjang waktu.


Cilegon, 26 Oktober 2026
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!