Perenungan dan Penyesalan Saat Ulang Tahun di Usia Senja

Oleh : Jacob Ereste

Kesepian di tengah kegaduhan bagi seorang tokoh yang pernah berkibar dalam skala nasional pada berbagai aktivitas yang nyaris tidak berbekas, akibat abai terhadap konstruksi bangunan sosial yang harus dibangun dengan arsitek yang bernuansa kemanusiaan. Sebab beban egosentrisitasnya yang berat menghabiskan semua energi hanya untuk populeritas dan pencitraan diri, tidak mengisi getaran tali oersahabatan yang sejati.

Kini saat memasuki usia senja ia sadari sudah terlambat. Sehingga saat sakit pun setiap orang yang pernah bersentuhan dengan batin dan jiwanya seperti sedang mengkalkulasi rugi dan untung seperti rumusan hidupnya yang asosialis, meski tak pernah disadari sebagai bagian dari sikap dan sifat kapitalis yang paling purba dari persdaban manusia. Kesepian dirinya di tengah keramaian dan kegaduhan semakin ditasakan ketika usia menjelang senja, seperti hari-hari belakangan ini yang terasa berad pada puncak klimak dera dan derita yang tidak tertahankan.

Pada tidak, pada saat ulang tahun dirinya yang dirayakan super mewah dan spesial yang hadir justru mereka yang tidak begitu dia kenal. Sehingga dia pun bisa memastikan bahwa mereka yang berdatangan itu pun tidak benar-benar sosok dirinya yang sesungguhnya. Akibatnya, pesta ulang tahun dirinys yang diharap meriah dan memberi kesan yang menyenangkan dan menggimbirakan hati, justru meremuk redamkan hatinya yang terasa semakin kosong dan hampa, bahwa sesungguhnya dirinys tidak memiliki apa-apa, kecuali rasa kesepian ditengah pasta besar hari ulang tahun dirinya dapat memulihkan hubungan persahabatan dan perkawanan di masa silamnya yang kosong, tidak menebarkan bebih persaudaraan yang mempunyai bunga harus dan buah kezat yang matang untuk dilahap pada usianya yang semakin renta.

Karena itu di dalam perenungan kesadaran penyesalan dirinya, ia nenvayangkan saat kematian dirinya tiba. Tak seorang satu wajah pun yang masih tersisa dalam ingatan tampak hadir di rumah duka yang lebih sepi dan dingin dibanding demasa hidupnya yang penuh kegemerkapan, tapi tak satu pun diantara mereka yang juga hanya memanfaatkan kesempatan hanya untuk mengibur diri dari tekanan hidup yang tidak pernah terlintas sedikitpun ketika itu. Kini semua itu dipahami sebagai karma dari ketidakperdulian dirinya pada masa lalu yang penuh gemetlap dan kemewahan, namun tidak pernah sampai ke lubuk hati mereka yang pernah mengelu-elukan dirinya seperti manusia setengah dewa.

Ia menyaksikan penguburan jasadbya hanya dihadiri anak, istri dan cucu tanpa ekspresi wajah yang verarti disampung penggali kubur dan ustad kampung yang ogah-ogahan untuk melafaskan do’a bagi dirinya pekuburan yang sangat luas dihadiri oleh banyak orang yang melayst dan membacakan do’a untuk sehabat dan kerabat meteka, bukan untuk dirinya.

Dari perenungan semacam itulah perayaan hari ulang tahun dirinys terasa semakin hampa. Tapi penyesalan tidak lagi berguna, karena waktu tidak mungkin diputar balik ke belakang. Abak, istri dan cucunya kini tampak lebih sibuk untuk membagikan panganan dan minuman yang lezet kepada warga seisi kampung, kareba yang disantap oleh mereka yang hadir dalam acara ulang tahun super mewah itu jumlahnya tidak seberapa dibanding jumlahnya panganan dan minuman yang tersedia, maklum dia pikir dan takin bagwa ulang tahunnys kali ini ini dia percaya adalah kesempatan untuk yang terakhir kali.


Cilincing, 18 Oktober 2026
—–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!