Penataan Ruang Laut Jangan Sampai Matikan Wisata Pantai Rakyat

Oleh: Akso Aktivis Pengelola Wisata Pantai

Saya berdiri di forum Sosialisasi Penyelenggaraan Penataan Ruang Laut itu bukan sebagai pejabat, bukan sebagai akademisi. Saya berdiri sebagai orang pantai. Orang yang hidupnya dari pasir, dari ombak, dari warung kecil di pinggir pantai.

Ketika pemerintah bicara soal zonasi, soal KKPRL, soal peta warna-warni di projector itu, saya jujur saja, kepala saya langsung mikir: nasib lapak-lapak wisata kami bagaimana?

Foto ini diambil saat saya bertanya di forum itu. Saya pakai topi dan kaos hitam, bukan karena gaya-gayaan. Itu seragam harian kami di pantai.

Bagi kami, penataan ruang laut itu penting. Kami setuju laut tidak boleh serampangan. Harus ada zona konservasi, harus ada zona tangkap, harus ada zona budidaya. Tapi tolong, jangan lupakan ada ” Zona Wisata”.

Selama ini, di banyak regulasi, wisata pantai yang dikelola masyarakat lokal itu seperti anak tiri. Kami membangun gazebo dari uang patungan, kami pungut sampah setiap pagi, kami jaga mangrove agar tidak ditebang, tapi ketika ada izin investasi besar masuk, kami yang pertama disuruh geser karena dianggap tidak punya KKPRL.

Padahal, wisata pantai rakyat inilah yang menghidupi ratusan KK. Di Indramayu saja, satu spot wisata bisa menghidupi tukang parkir, tukang es kelapa, ibu-ibu penjual ikan bakar, anak muda yang jadi pemandu.

Tiga harapan saya sebagai pengelola wisata pantai terkait penataan ruang laut ini:

1. Libatkan Kami Sejak Peta Dibuat, Bukan Setelah Jadi.

Jangan sosialisasinya setelah peta jadi. Ajak kami duduk. Kami tahu di mana area ombak berbahaya, di mana area peneluran penyu, di mana spot sunrise terbaik. Pengetahuan lokal itu tidak ada di citra satelit.

2. Permudah Izin untuk Wisata Rakyat, Bukan Dipersulit.

Kalau izin KKPRL untuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) prosesnya sama sulitnya dengan izin perusahaan tambak besar, ya kami mati. Kami butuh skema afirmasi, izin kolektif, dan pendampingan, bukan hanya sosialisasi.

3. Penataan Harus Berujung pada Kesejahteraan, Bukan Penggusuran.

Tujuan akhirnya harus jelas: laut berkelanjutan untuk Indonesia Maju. Tapi Indonesia Maju itu siapa? Kalau nelayan kecil dan pengelola wisata lokal tergusur, itu bukan maju, itu mundur.

Saya dukung penataan ruang laut. Tapi saya titip pesan: Jaga laut, tapi jangan matikan orang yang menjaga laut setiap hari.

Laut itu bukan hanya peta. Laut itu hidup. Dan kami hidup di dalamnya.

Indramayu, 11 Oktober 2026.
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!