Kalau benar aroma riswah mulai tercium dalam kontestasi organisasi, maka ini bukan lagi soal siapa menang dan siapa kalah. Ini soal marwah NU.
Konferwil NU Jawa Barat jangan sampai berubah menjadi arena transaksi suara. Suara dalam NU bukan barang dagangan. Amanah para kiai bukan komoditas yang bisa ditukar dengan uang, fasilitas, atau kepentingan.
Jangan biarkan budaya transaksional masuk ke rumah besar NU.
Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pandangan. Tetapi ketika kepentingan mulai dibeli dan suara mulai ditukar, saat itulah seluruh warga NU harus berani bersuara.
Mencintai NU bukan hanya hadir ketika menang. Mencintai NU berarti berani menjaga NU ketika marwahnya sedang dipertaruhkan.
Konferwil Jawa Barat harus menjadi forum khidmah, musyawarah, dan adab—bukan pasar transaksi kekuasaan.
Jangan biarkan NU dirusak dari dalam.
Jaga marwahnya. Jaga amanahnya. Jaga barokahnya.
Indramayu, 8 Oktober 2026
——
![]()
