*Menulis Sebagai Bagian Dari Laku Spiritual*
Oleh : Jacob Ereste
Menulis itu bagian dari buah laku spiritual yang paling dasar, karena suasana hati menjadi pemimpin dan penentu akal sehat untuk berpikir rileks dan enak tanpa merasa ada tekanan. Karena itu, semua hobby dan kesukaan yang sesungguhnya tidak memandang harga dan jenis makanan yang mewah, sebab harga atau ongkos yang mahal tetap menjadi pilihan atas desakan hati yang bisa menundukkan nalar intelektual sejenius apapun.
Itulah sebabnya banyak orang yang memiliki intelektual tinggi, acap terkesan naib memelihara binatang yang sangat mahal harga dan ongkos pemeliharaannya tidak terkira mahal nilainya. Lalu atas nama hobby itu pula, mereka penuh rasa suka rela untuk untuk merawat binatang peliharaannya itu, tidak kalah nain dengan mereka yang memiliki hobby terhadap tanaman — meski secara ekonomi terkadang tidak memberi manfaat apa-apa, seperti tanaman bonsai bunga kamboja. Padahal, jika menanam terong atau cabe saja nilainya jelas bisa menekan anggaran pengeluaran dapur yang semakin gila-gilaan biayanya yang diperlukan.
Jadi jelas sesungguhnya suasana hati akan sangat menentukan intensitas, ketekunan dan keseriusan melakukan pekerjaan apapun, utamanya bagi profesi seorang penulis, karena suasana hati itu mempunyai daya dorong yang cukup kuat misalnya dibanding dengan hasrat atau perintah otak.
Ibarat bantuan yang terlambat untuk diberikan, maka daya gugah dari bantuan itu bisa menjadi sia-sia, tiada arti apa-apa. Persis seperti pemberian obat yang terlambat, apa lagi gunanya kalau mereka yang membutuhkan obat itu sudah terlanjur wafat. Maka itu seorang penulis akan selalu menjaga suasana hatinya untuk merasa nyaman dan tenteram, meski hanya dengan kopi dan rokok yang yang pas-pasan, tidak berikut camilan.
Oleh karena itu, bagi seorang penulis — terutama bagi mereka yang tumbuh secara alami sebagai penulis — keinginan menulis dalam suasana hati yang sudah siap untuk menancapkan kalimat pertama dalam tulisannya sungguh tidak bisa ditunda sejenak pun. Sebab begitu suasana hati berubah — tidak terus mengikuti alur cerita tulisan yang hendak diuraikan, semua bisa jadi berantakan tidak karu-karuan. Atas dasar ini pula, ketika hasrat menulis sudah menggelegak seperti air kopi yang siap diseduh dan diracik, harus segera dilakukan dalam kondisi dan situasi seperti apapun, kendati baru sebatas draf yang kelak masih harus dikoreksi dan disempurnakan.
Menunda momentum yang datang seperti pamali bagi seorang penulis, karena momentum itu akan berlalu dan tidak akan kembali lagi. Oleh karena itu, egosentrisitas seorang penulis harus diakui cukup persis seperti sensitivitas dari suasana hatinya yang juga menjadi andalan dam dimanjakan.
Sebab hasil tulisan yang dibuat dalam suasana hati yang marah, pasti akan sangat berbeda dari tulisan yang dihasilkan dari suasana hati yang riang gembira dan penuh keceriaan sambil menatap dunia sekitarnya. Jadi, suasana hati pun bisa dipengaruhi oleh lingkungan tempat dari tulisan itu dihasilkan. Karena itu, seorang penulis sering mencantumkan waktu dan tempat saat tulisan itu dibuat, karena sang penulis waktu dan tempat yang dia cantumkan itu tidak kalah penting nilai kesaksiannya kelak ketika harus dibaca ulang.
Gambaran suasana hati seorang penulis ini — apapun pilihan genre dari jenis tulisannya — sekedar untuk memahami bahwa tingkat sensitivitas dan untuk suasa untuk memanjakan hatinya — seperti yang acap dinilai oleh banyak orang sebagai perasaan yang romantis itu — bisa saja benar, meskipun tidak sepenuhnya tepat, karena seorang penulis memang harus selalu memelihara suasana hatinya yang enjoy, agar dapat selalu menghasilkan tulisan dimanapun dan saat kapan pun. Termasuk, jurnalis yang akan membuat karya jurnalistik.
Maka itu, suatu janji yang telah disepakati bersama — bagi seorang penulis — bukan cuma sekedar hutang yang harus dibayar dan ditepati — tetapi akan menjadi catatan yang sulit terhapus dari ingatan. Sebab konsistensi itu juga bagian etika, disiplin diri yang bisa menggradasi reputasi dan harga diri. Artinya jelas, dalam perilaku serupa ini sungguh relevan dengan laku spiritual yang harus berbasis pada etika, moral yang terbingkai indah dalam figura akhlak mulia manusia sebagai fitrah pemberian Tuhan yang patut dijaga dan dipelihara agar hidup tetap memiliki nilai keluhurannya yang sakral.
Banten, 24 September 2026
——
![]()
