AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR DALAM MEMAKNAI RAHMATAN LIL ALAMIN SEBAGAI KHALIFAH DI BUMI

*Amar Ma’ruf Nahi Munkar Dalam Memaknai Rahmatan Lil Alamin Sebagai Khalifah di Bumi*

Oleh : Jacob Ereste

Usaha keras membangun gerakan kesadaran pemahaman dan pendalaman spiritual minimal sejak 7 tahun terakhir di Indonesia bisa dikata telah memasuki babak berikutnya untuk ditampilkan dalam skala global hingga dapat menyentuh relung hati umat manusia di seluruh permukaan bumi, agar dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, melupakan orientasi duniawi yang jauh untuk mengendus surgawi.

Gerakan kesadaran spiritual global sangat penting dan perlu untuk menahan birahi duniawi yang cenderung menjajah, mencaplok, setidaknya menguasai sumber daya alam untuk kepentingan sendiri, baik dalam skala nasional maupun internasional atas nama negara dan bangsa yang merasa lebih berhak menikmati kebahagiaan, keamanan dan kenyamanan hidup tanpa perduli dengan hak dan kepentingan pihak lain yang berhak untuk hidup layak dan pantas hingga memiliki kepribadian dan kemerdekaan yang sejati.

Karena itu, perang yang masih terus berkecamuk di berbagai belahan dunia — atas nama dan kepentingan apapun — sedang merumuskan hasil akhirnya dalam perenungan dan permenungan pertobatan dalam penyesalan saat merinci nilai-nilai material dan spiritual yang hangus sia-sia, bahwa untuk menikmati ketenteraman dan kenyamanan dalam hidup yang bahagia tidak perlu melumat kebahagiaan orang lain yang juga memupus kebahagiaan diri sendiri.

Perang Iran melawan berbagai yang penuh nafsu dan birahi menjajah cukup jelas mengisyaratkan basis dasar adalah spiritualitas yang sangat tinggi dan tangguh untuk membiarkan hasrat penjajahan dengan motivasi apapun. Karena pada hakikatnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa — seperti yang termuat dalam tekad kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah disepakati dan dimaklumatkan — nyaris 100 tahun silam yang kelak harus dirayakan dalam ujud yang nyata, yaitu era Indonesia Emas yang berkilau menjadi cahaya yang menerangi dunia.

Karena itu gerakan kesadaran spiritual global sudah dimulai berbasis dari buni Nusantara yang kini disebut Indonesia — karena memiliki potensi besar yang lengkap dan komplit dari berbagai bentuk dan macam ragam seperti bumbu dapur penyedap kudapan bergizi penuh nutrisi untuk memperkuat daya hidup manusia di bumi, untuk kemudian melancong dan bertamasya di langit, semakin dekat dengan aras Tuhan.

Meski begitu, toh perjuangan dan kerja keras masih perlu dilanjutkan. Seperti perang yang sedang menyusun resume kemenangan di dalam kekalahan yang nyata untuk dievakuasi ulang. Sebab hakikat dari kemenangan yang sesungguhnya kemampuan menghentikan peperangan sebelum terjadi untuk tidak menyaksikan kehancuran yang terjadi baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain. Sebab Tuhan sendiri menciptakan manusia sebagai penghuni bumi tidak untuk membuat kerusakan, karena harus hidup rukun dan damai untuk menjaga makna terdalam pesan dari langit : rahmatan lil alamin sebagai khalifah di muka bumi.

Pada akhirnya, dalam perspektif gerakan kesadaran pemahaman spiritual global inilah relevansi rahmatan lil alamin terkait erat dengan manusia sebagai wakil Tuhan — khalifatullah — untuk senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tanpa keraguan sedikitpun, apalagi hanya sekedar terhadap rezim yang zalim dan korup serta khianat terhadap sumpah dan janji untuk menunaikan amanah rakyat.


Banten, 11 September 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!