BUKU ISLAM ALA PRABOWO SUNGGUH BERHASIL MENYEDOT PERHATIAN PUBLIK

*Buku Islam Ala Prabowo Sungguh Berhasil Menyedot Perhatian Publik*

Oleh : Jacob Ereste

Kisah seorang pemimpin politik, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dalam caranya mengamalkan ajaran dan tuntunan Islam sebagai pegangan hidup — keyakinannya dalam beragama — menjadi heboh akibat sejumlah nama yang dicantumkan oleh penulis buku, yaitu Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri dan Mush’ab Muqoddas, mereka yang diklaim sebagai kontribusi dari isi buku tersebut menyanggah bahwa apa termuat dalam buku tersebut bukan pandangan dan pendapat mereka yang diklaim ikut memberikan kesaksian dan pembenaran.

“Islam Ala Prabowo : Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” telah diluncurkan secara resmi di Ballroom Hotel Mercure, Ancol, Jakarta pada 26 Agustus 2025 yang diterbitkan untuk cetakan pertama pada April 2025. Artinya, baru setelah 4 bulan kemudian dipublis secara terbuka untuk publik yang diinisiasi sejumlah tokoh dari Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Komplain dari sejumlah tokoh yang merasa namanya dicatut dalam isi buku ini — setelah setahun berlalu pun — justru membuat viral dan populer penampilannya sekarang, karena mereka yang merasa tercatut namanya itu mengkomplain anggapan keterlibatan sepihak mereka sebagai kontributor dalam susunan isi buku ini.

Jika benar begitu adanya, kekeliruan ini merupakan pelanggaran etis, sekaligus tidak adanya konfirmasi atau semacam pemberitahuan sebelum semua itu dilakukan untuk yang bersangkutan. Karena pihak penulis, editor serta penerbit dapat dikenakan sanksi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka dalam menyusun, mengedit dan menerbitkan buku yang bisa disebut pemalsuan ini.

Yang pasti, buku ini tidak langsung booming ketika di launching — hingga tidak langsung menjadi pembicaraan publik setelah lebih dari setahun menggantang — sejak 26 Agustus 2025 hingga September 2026, dan ketika itu — sehari sebelumnya, 25 Agustus 2025 — terjadi aksi besar hingga berakibat mengalihkan perhatian publik jadi terperangah pada aksi yang tekah menimbulkan banyak korban — satu pemuda terlindas Rantis Kepolisian dan aksi terusan yang terjadi di berbagai tempat. Acara peluncuran buku dalam suasana tersebut — mungkin saja bukan sebuah kebetulan — jelas jadi luput menjadi perhatian banyak orang, utamanya dari pemberitaan awak media cetak maupun media sosial berbasis internet yang semakin diidolakan oleh warga masyarakat.

Dari telisikan Atlantika Institut Nusantara dengan mengulik berbagai, peluncuran buku ini dilakukan pada 26 Agustus 2025 yang dirangkai dengan acara Rapat Koordinasi Nasional Baznas yang dihadiri oleh Ketua, Dr. KH. Noor Achmad bersama Ketua Umum MUI KH. Anwar Iskandar. Dari berbagai informasi dan data, ketika acara peluncuran buku ini secara resmi dilakukan hadir juga Menteri Agama, Prof. Dr. Nazaruddin Umar, konin mewakili Presiden. Dan dari telisikan Atlantika Institut Nusantara berikutnya juga diketahui bahwa buku ini diinisiasi Ketua MPR RI, Ahmad Muzani. Dan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim tercantum cukup jelas sebagai penulis epilog buku yang membuat heboh, seakan menjadi upaya pengalihan isu dari beragam masalah yang tengah merundung warga masyarakat yang semakin terhimpit biaya hidup yang semakin berat

Muatan isi buku 348 halaman ini : mengungkap tentang nilai-nilai Islam, keadilan, perdamaian dan spiritualitas dalam perjalanan hidup serta kepemimpinan Pranowo Subianto. Sedangkan pandangan dari berbagai perspektif tokoh tokoh agama, akademisi dan pejabat negara berkisar pada karakter keumatan Prabowo Subianto sebagai pemimpin.

Kehebohan dari buku ini, karena ada sanggahan dari berbagai pihak yang menyanggah tidak pernah ikut menulis tulisan yang mencantumkan nama mereka, seperti dari keluarga KH. Muhammad Abdurrahman Al Kautsar dan TGB (Tuan Guru Bajang) Muhammad Zainul Majdi yang merasa tidak pernah menuliskan materi untuk menjadi bagian dari idi buku tersebut. Berikutnya sanggahan dari KH. M. Said Agil Siradj yang dicantumkan sebagai kontributor isi buku yang memang terkesan diharap menyedot perhatian publik — sensasional — agar menjadi gunjingan publik dan laku.

Bahkan, Gus Hilmi Firdausi meragukan narasi keagamaan dari isi buku ini, karena belum pernah mendengar Pranowo Subianto mampu melafalkan surah Al Fatihah, seperti yang pernah dilakukan Presiden Indonesia terdahulu dengan fasih dan merdu hingga mampu menggugah siapa pun yang mendengarkannya.

Belakangan, buku ini akhirnya harus dapat dipahami dan dimaksudkan sebagai beragam tafsir dari berbagai tokoh tentang nilai-nilai keislaman yang terungkap dari laku spiritual Prabowo Subianto dalam mengekspresikan pemahaman serta penghayatan dari nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas agama yang diyakininya, yaitu Agama Islam. Tampaknya begitulah kesan terhadap buku tentang Islam Ala Prabowo Subianto sungguh berhasil dan sukses menyedot perhatian publik. Hingga kini banyak diburu untuk dapat dimiliki oleh maniak pembaca buku.

Kendati begitu narasi ceritanya buku yang cukup menghebohkan ini, bisa bernilai positif bagi Prabowo Subianto dihadapan umat Islam, tapi juga bisa bernilai negatif, karena ditulis dengan cara yang serampangan, seakan tidak memahami etika menulis dengan tata cara dan etika serta pemahaman tentang hak cipta terhadap pemilik tulisan yang sangat mungkin cuma dikatakan secara lusan. Misalnya saat ceramah maupun obrolan lepas di luar forum yang formal untuk disajikan kepada publik.**


Pecenongan, 7 September 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!