SEPENGGAL KISAH : MALAM PIJAR DI DESA CIGONDANG, LABUAN, BANTEN 2018

Sepenggal kisah : Malam Pijar di Desa Cigondang , Labuan, Banten 2018.

Karya : Wari Wicatman
Dewan Redaksi Jayanews.com


Tahun 2018.
Aku menjejakkan kaki di Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Aku berkunjung kerumah seorang teman.
Udara desanya panas sedikit sejuk, karna daerahnya berada ditepi pantai dekat dengan pegunungan, jalanannya masih tanah, dan suara jangkrik jadi musik malamnya.

Aku menginap di rumah temanku bernama Santoso ,orang asli Lampung punya istri di Cigondang Labuan. Rumah panggung kayu, lantai lotengnya kayu, berderit tiap diinjak, tapi lantai dasar rumah udah keramik. Kami ngobrol lama di beranda sambil minum kopi hitam kesukaanku, membicarakan laut, dagang dipasar, dan kabar politik dari kota.

Tengah malam, suasana berubah.
Dari kejauhan, di arah Selat Sunda, langit tiba-tiba memerah. Rupanya anak gunung Krakatau sedang mengalami erupsi.

Itu “Anak Gunung Krakatau”.
Orang Banten menyebutnya “Rakata”.

Gunung itu sedang “erupsi”.
Lidah pijar lava menyembur ke atas, memantul di awan dan membuat seluruh garis pantai Labuan jadi terang seperti siang. Ombak pun ikut kemerahan.

Belum selesai terkejut, tanah di bawah kami bergetar kecil seperti gempa,namun orang pesisir labuan menyebutnya” lini “. Gelas di meja berdenting. Jantungku langsung naik.Saya takut akan terjadi sesuatu .

Dengan nada panik aku bertanya, “Ini bahaya nggak?!”

Temanku cuma tersenyum tenang, menepuk bahuku.
“Jangan panik om , kejadian seperti ini sudah biasa terjadi,” ujarnya.

Kalimat itu menenangkanku. Di luar, Rakata terus menyala. Di dalam, lampu neon tetap berpendar. Malam itu aku belajar satu hal: bahwa tinggal di dekat gunung berarti hidup berdampingan dengan kekuatannya.
Takut boleh, tapi jangan sampai melupakan tenang.
Kucoba meminum kopi dan mengisap sebatang rokok untuk berusaha tenang .Malam makin larut namun mataku enggan terpejam.Aku lanjutkan ngobrol dengan temanku hingga larut malam dan kami baru bisa beristirahat menjelang pagi.

Sampai sekarang aku masih ingat terang pijar itu. Bukan karena menakutkan… tapi karena indah dan mengingatkan betapa kecilnya kita di hadapan alam.
Semoga keadaan disana baik baik aja,walau sampe sekarang kejadian itu terus terulang hingga saat ini.**

Indramayu , 5 September 2026.
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!