MENJAGA PIPA PERADABAN TETAP MENGALIR: JALAN AL-ZAYTUN MENUJU 2050

Menjaga Pipa Peradaban Tetap Mengalir: Jalan Al-Zaytun Menuju 2050

Oleh : Ali Aminulloh

Pendidikan tidak semestinya berhenti ketika seseorang menerima ijazah. Ia harus terus mengalir dari ruang kelas menuju kehidupan, dari pelajar kepada alumni, dari pengetahuan menjadi karya, dan dari sebuah lembaga menuju masyarakat luas. Jika aliran itu dijaga, pendidikan tidak hanya meluluskan manusia terdidik, tetapi juga membangun peradaban.

Gagasan itulah yang mengemuka dalam sambutan Datuk Sir Imam Prawoto, K.R.S.S., MBA, CRBC, pada peringatan ulang tahun ke-27 Ma’had Al-Zaytun, Kamis, 27 Agustus 2026. Ketua Yayasan Pesantren Indonesia tersebut mendapat amanah mewakili Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang untuk menyampaikan arah strategis Al-Zaytun menuju 2050.

Peringatan itu dihadiri sejumlah tokoh nasional, akademisi, guru besar, pemuka masyarakat, purnawirawan TNI, tamu dari Malaysia dan Kanada, wali santri, pendidik, mahasiswa, serta pelajar. Keragaman para tamu memperlihatkan bahwa perjalanan Al-Zaytun tidak hanya menjadi perhatian satu komunitas, tetapi telah membuka ruang perjumpaan lintas profesi, daerah, bangsa, dan generasi.

Dalam pidatonya, Datuk Imam memaknai usia 27 tahun sebagai rekam jejak keteguhan. Hampir tiga dasawarsa perjalanan tersebut dibangun melalui kerja keras, kerja cerdas, dan keberanian memelihara visi besar.

“Ulang tahun ini bukan sekadar perayaan, melainkan momentum evaluasi, konsolidasi, dan proyeksi menuju Al-Zaytun 2050,” ujarnya.

Evaluasi diperlukan agar lembaga mampu membaca capaian dan kekurangannya secara jujur. Konsolidasi dibutuhkan untuk menyatukan kembali kekuatan. Sementara proyeksi menjadi cara untuk memastikan bahwa perjalanan pendidikan tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan perubahan zaman.

Arah strategis itu dirumuskan melalui One Pipe Education System atau sistem pendidikan satu pipa. Konsep tersebut menggambarkan pendidikan sebagai proses berkelanjutan yang menghubungkan seluruh tahapan kehidupan manusia.

Alirannya dimulai sejak pendidikan usia dini, berlanjut ke pendidikan dasar dan menengah, kemudian menuju perguruan tinggi dan pascasarjana. Namun, proses tersebut tidak berakhir setelah wisuda. Alumni tetap menjadi bagian dari sistem pendidikan karena pengetahuan, pengalaman, dan pengabdiannya dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan lembaga.

Pendidikan juga mengalir dari kelas menuju masyarakat. Apa yang dipelajari peserta didik harus menemukan bentuknya dalam karya dan kontribusi sosial. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur berdasarkan jumlah lulusan atau ijazah yang diterbitkan, tetapi melalui manfaat yang dihasilkan.

Iman, ilmu, karya, dan akhlak menjadi unsur utama dalam aliran tersebut. Keempatnya dipadukan dengan sains, teknologi, kewirausahaan, serta kemandirian ekonomi.

Tujuannya bukan hanya menghasilkan manusia yang mengetahui banyak hal, tetapi membentuk pribadi yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab. Kompetensi perlu disertai moralitas, sementara kecakapan profesional harus diarahkan kepada pengabdian.

“Yang ingin dihasilkan bukan sekadar pemegang ijazah, tetapi manusia yang membawa karya, karakter, dan kontribusi,” tegas Datuk Imam.

Pada 2050, Al-Zaytun diharapkan mampu melahirkan teknokrat yang piawai memanifestasikan nilai dan maksud ajaran Ilahi dalam realitas kehidupan. Dari sistem tersebut juga diharapkan lahir ilmuwan bermoral, diplomat berwawasan global, petani modern, teknopreneur, dan pemimpin yang mengabdi.

Rumusan itu memperlihatkan bahwa pendidikan agama dan penguasaan teknologi tidak ditempatkan sebagai dua kutub yang bertentangan. Nilai ketuhanan menjadi landasan etik, sedangkan ilmu pengetahuan menjadi instrumen untuk memperbaiki kehidupan.

Kampus dalam visi tersebut bukan sekadar kumpulan gedung perkuliahan. Ia dirancang menjadi laboratorium hidup yang memiliki kemandirian dalam bidang pangan, energi, dan air.

Di dalamnya, kegiatan belajar, bekerja, beribadah, meneliti, dan memproduksi berjalan secara terpadu. Peserta didik tidak hanya memahami konsep melalui buku, tetapi mengalami langsung proses penerapannya.

Kemandirian pangan dapat dipelajari melalui pertanian dan peternakan. Kemandirian energi dikembangkan melalui riset serta pemanfaatan sumber energi terbarukan. Pengelolaan air menjadi bagian dari pendidikan ekologis. Sementara kegiatan produksi menumbuhkan keterampilan dan jiwa kewirausahaan.

Gagasan tersebut diperluas melalui novum gradum, sebuah langkah baru untuk mengembangkan pendidikan yang adaptif terhadap masa depan. Salah satu wujudnya adalah cetak biru Politeknik Indonesia Raya yang diarahkan menjangkau 500 kabupaten di seluruh Indonesia.

Setiap pusat pendidikan dirancang sebagai kampus cerdas yang memanfaatkan internet untuk menghubungkan berbagai perangkat dan sistem. Di dalamnya dikembangkan bangunan ramah lingkungan, laboratorium terintegrasi, teaching factory, serta inkubator bisnis yang disesuaikan dengan potensi setiap daerah.

Teaching factory menghubungkan pembelajaran dengan proses produksi sebagaimana berlangsung di dunia kerja. Peserta didik tidak hanya menerima teori, tetapi berlatih menghasilkan produk, mengendalikan mutu, menggunakan teknologi, dan menyelesaikan persoalan nyata.

Sementara itu, inkubator bisnis diperlukan untuk membantu gagasan peserta didik berkembang menjadi usaha produktif. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Kurikulumnya diarahkan menggunakan pendekatan berbasis capaian atau outcome-based education, kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, serta sistem ganda yang menghubungkan pendidikan dengan dunia industri.

Bidang keilmuan yang dikembangkan mencakup ilmu data, kecerdasan buatan, bisnis digital, energi terbarukan, ekonomi industri, pertanian presisi, dan logistik maritim.

Pilihan bidang tersebut berkaitan erat dengan tantangan masa depan Indonesia. Transformasi digital membutuhkan penguasaan data dan kecerdasan buatan. Krisis lingkungan menuntut pengembangan energi terbarukan. Ketahanan pangan memerlukan pertanian presisi. Sementara karakter Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan kemampuan logistik dan teknologi maritim.

Namun, visi besar tidak dapat diselesaikan hanya melalui pernyataan. Datuk Imam mengakui bahwa pengembangan pendidikan di 500 kabupaten memerlukan standardisasi mutu, pemerataan dosen dan tenaga pendidik, ketersediaan fasilitas, retensi talenta, serta pendanaan berkelanjutan.

Standardisasi diperlukan agar perluasan akses tidak menurunkan kualitas. Pemerataan tenaga pendidik memastikan bahwa daerah tidak hanya memperoleh bangunan, tetapi juga manusia yang mampu menghidupkan proses belajar.

Retensi talenta menjadi tantangan lain. Lulusan terbaik perlu memperoleh ruang untuk berkarya dan membangun daerahnya. Karena itu, ekosistem pendidikan harus mampu menghadirkan kesempatan penelitian, pekerjaan, usaha, dan pengabdian.

Seluruh agenda tersebut membutuhkan sinergi antara lembaga pendidikan, dunia usaha, pemerintah, alumni, dan masyarakat. Tidak satu pun unsur dapat menjalankannya sendirian.

Dalam One Pipe Education System, alumni menempati kedudukan strategis. Mereka bukan ujung dari pipa pendidikan, melainkan jaringan yang menjaga alirannya tetap hidup.

Alumni dapat menjadi mentor bagi peserta didik, penghubung dengan industri, pembuka jejaring investasi, serta teladan pengabdian di tengah masyarakat. Pengalaman mereka dapat dikembalikan kepada lembaga untuk memperbarui pembelajaran.

Menuju 2050, Al-Zaytun mencita-citakan sedikitnya satu juta alumni yang membawa satu DNA: cinta kepada almamater dan kesiapan berkhidmat.

Cinta almamater dalam konteks tersebut tidak berhenti pada nostalgia. Ia diwujudkan melalui kesediaan menyumbangkan pemikiran, pengalaman, jejaring, tenaga, dan kemampuan ekonomi untuk menjaga keberlanjutan pendidikan.

Datuk Imam menyampaikan gagasan kontribusi alumni sebesar 5 hingga 7,5 persen dari penghasilan. Kontribusi tersebut diproyeksikan untuk membiayai beasiswa, penelitian, teaching factory, serta pembangunan institusi pendidikan baru yang mengadaptasi model Al-Zaytun.

Gagasan itu merupakan bentuk investasi antargenerasi. Alumni yang dahulu memperoleh pendidikan membantu membuka kesempatan bagi generasi berikutnya. Dengan demikian, manfaat pendidikan terus berputar dan tidak berhenti pada kepentingan individu.

Visi Al-Zaytun 2050 pada akhirnya berdiri di atas tiga fondasi: kemandirian, keunggulan intelektual, dan perdamaian universal.

Perdamaian tidak dibangun dengan menyeragamkan seluruh perbedaan. Manusia tetap memiliki identitas, keyakinan, budaya, dan pandangan yang beragam. Tugas pendidikan adalah merajut perbedaan tersebut menjadi kekuatan bersama.

“Perbedaan tidak diseragamkan, tetapi dirajut menjadi kekuatan,” kata Datuk Imam.

Ia kemudian menggunakan metafora pertumbuhan untuk menggambarkan kesinambungan pendidikan. Pendidikan dasar menanam benih. Pendidikan menengah menyiram dan memupuknya. Perguruan tinggi serta alumni menghasilkan buah.

Buah yang diharapkan adalah manusia yang cerdas pikirannya, kokoh moralnya, kuat karyanya, dan luas pengabdiannya.

Metafora tersebut memperlihatkan bahwa setiap jenjang pendidikan memiliki peran yang saling berhubungan. Kegagalan pada satu tahap dapat memengaruhi tahapan berikutnya. Sebaliknya, ketika seluruh proses terawat, pendidikan mampu melahirkan manusia yang tumbuh secara utuh.

Peringatan ulang tahun ke-27 Al-Zaytun pun menjadi titik pertemuan antara rekam jejak dan cita-cita. Pengalaman hampir tiga dasawarsa dijadikan fondasi untuk memandang 2050 dan memperluas investasi pendidikan berkualitas menuju satu abad Indonesia Merdeka.

Sambutan itu kemudian ditutup dengan doa. Datuk Imam memohon kesehatan bagi Syaykh Al-Zaytun, Umi Farida Al-Widad, dan seluruh hadirin. Ia juga memohon rezeki serta kemampuan untuk melanjutkan program pembangunan yang sedang berjalan dan mewujudkan pendidikan di 500 kabupaten.

Doa tersebut menegaskan bahwa visi besar membutuhkan lebih dari sekadar kecanggihan perencanaan. Ia memerlukan kekuatan spiritual, keteguhan moral, kerja bersama, dan kesediaan berkhidmat dalam waktu panjang.

Pesan Datuk Sir Imam Prawoto pun bermuara pada satu ajakan: jagalah pipa pendidikan agar iman, ilmu, karya, dan pengabdian terus mengalir. Sebab, ketika pendidikan tidak berhenti pada ijazah, Al-Zaytun dapat memberikan manfaat lebih luas. Dari Al-Zaytun untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk peradaban dunia.**

Indramayu, 5 September 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!