Membangun Manusia, Meneguhkan Pancasila, dan Menyemai Peradaban
Oleh Ali Aminulloh (Disarikan dari pesan Prof Ermaya pada Milad Syaykh Al Zaytun ke 80)
Kamis, 30 Juli 2026, menjadi kunjungan ketiga Prof. Dr. H. Ermaya Suradinata, S.H., M.H., M.S. ke Ma’had Al-Zaytun. Kunjungan pertamanya berlangsung ketika ia hadir sebagai narasumber kuliah umum. Pada kesempatan berikutnya, Guru Besar Ilmu Pemerintahan dan Hukum tersebut kembali hadir dalam Simposium Pendidikan. Adapun kunjungan ketiganya memiliki suasana yang berbeda: ia datang untuk menghadiri peringatan hari lahir ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang.
Di hadapan ribuan hadirin yang memadati arena peringatan, Prof. Ermaya didaulat menyampaikan pesan-pesan milad. Ia tidak sekadar mengucapkan selamat ulang tahun, tetapi menyampaikan refleksi akademik mengenai pendidikan, pembangunan manusia, kebebasan berpikir, spiritualitas, keberagaman, Pancasila, dan masa depan peradaban Indonesia.
Bagi Prof. Ermaya, usia 80 tahun bukan hanya angka dalam perjalanan biologis seseorang. Usia tersebut merupakan penanda perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, pengabdian, gagasan, dan karya nyata. Karena itulah, sambutannya berkembang menjadi pembacaan atas perjalanan Syaykh Al-Zaytun dalam membangun manusia dan mempersiapkan generasi masa depan.
Tiga Kunjungan, Satu Benang Merah Pemikiran
Kehadiran Prof. Ermaya untuk ketiga kalinya memperlihatkan bahwa hubungannya dengan Ma’had Al-Zaytun tidak berhenti pada perjumpaan seremonial. Dalam tiga kunjungan tersebut terdapat satu benang merah yang sama, yaitu perhatian terhadap pendidikan, pembangunan karakter, kepemimpinan, dan kehidupan kebangsaan.
Pada kunjungan pertama, ia hadir dalam ruang akademik melalui kuliah umum. Pada kunjungan kedua, ia ikut memasuki percakapan yang lebih luas mengenai arah pendidikan melalui Simposium Pendidikan. Sementara itu, dalam kunjungan ketiga, ia melihat langsung hasil dari suatu perjalanan pendidikan yang berlangsung panjang: sebuah komunitas besar yang dibangun melalui gagasan, kedisiplinan, kerja, dan cita-cita peradaban.
Suasana peringatan milad semakin kuat ketika Prof. Ermaya membuka sambutannya dengan salam lintas agama dan salam kebangsaan. Ia menyampaikan salam Islam, salam sejahtera, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu, Salam Pancasila, dan pekik “Merdeka”.
Rangkaian salam tersebut bukan sekadar formalitas. Ia mencerminkan pandangan bahwa Indonesia dibangun di atas kenyataan sosial yang majemuk. Agama, suku, bahasa, adat istiadat, dan kebudayaan yang berbeda tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, kemajemukan harus menjadi kekuatan yang disatukan oleh cita-cita kebangsaan.
Prof. Ermaya kemudian menyampaikan penghormatan kepada Ummi Faridah, keluarga besar Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, seluruh sivitas akademika Ma’had Al-Zaytun, para tokoh bangsa, sahabat, tamu kehormatan, dan seluruh hadirin.
Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang hadir, antara lain Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein, yang telah dikenalnya sejak mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Gita Wirjawan, Sultan Paser, serta para undangan lainnya. Penyebutan tersebut memperlihatkan bahwa peringatan milad bukan hanya menjadi pertemuan keluarga besar Al-Zaytun, tetapi juga ruang silaturahmi berbagai unsur bangsa.
Suasana resmi kemudian mencair ketika Prof. Ermaya membuka pesannya dengan pantun:
Di Al-Zaytun banyak burung,
Terbang rendah hinggap di pohon jati.
Semoga Syaykh Abdussalam Panji Gumilang,
Bersama Ummi Faridah selalu indah menjalani kehidupan ini.
Pantun tersebut disambut hangat oleh hadirin. Di balik kesederhanaannya, tersimpan doa agar perjalanan pengabdian Syaykh Al-Zaytun dan Ummi Faridah selalu disertai kesehatan, kebahagiaan, serta keberkahan.
Delapan Puluh Tahun: Jejak Perjuangan dan Pengabdian
Prof. Ermaya mengajak seluruh hadirin mensyukuri nikmat Allah Swt. atas usia ke-80 Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Delapan puluh tahun, menurutnya, merupakan usia yang penuh makna karena menjadi saksi perjalanan panjang perjuangan, pengabdian, dan karya.
Ia memberikan pemaknaan simbolis terhadap angka delapan. Dalam bentuknya, angka delapan seperti garis yang terus berputar dan tidak terputus. Angka tersebut menggambarkan perjalanan yang terus bergerak, perjuangan yang tidak berhenti, dan pengabdian yang berkesinambungan.
Pemaknaan itu dipandang selaras dengan perjalanan Syaykh Al-Zaytun. Gagasan yang dibangun tidak berhenti pada wacana, tetapi diterjemahkan melalui pendidikan, pengelolaan lingkungan, pertanian, ketahanan pangan, pembangunan infrastruktur, dan pembinaan masyarakat.
Namun, di tengah penghormatan terhadap perjalanan seorang tokoh, Prof. Ermaya tidak melupakan akar keluarga yang melahirkan dan membentuknya. Ia mengajak hadirin mendoakan kedua orang tua Syaykh Al-Zaytun, yakni almarhum K.H. Rasyidi dan almarhumah ibunda tercinta.
Kedua orang tua tersebut telah melahirkan, membesarkan, mendidik, serta mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada putranya. Warisan orang tua tidak selalu berupa kekayaan material. Warisan yang paling kuat justru berupa nilai, keberanian, kedisiplinan, iman, semangat belajar, dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.
Prof. Ermaya mendoakan agar seluruh amal ibadah kedua orang tua Syaykh diterima oleh Allah Swt. dan keduanya ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Ia juga mengajak hadirin mendoakan Syaykh Al-Zaytun bersama Ummi Faridah agar senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, kekuatan, perlindungan, dan keberkahan dalam melanjutkan pengabdian.
Dalam pandangannya, usia 80 tahun memang merupakan perjalanan yang panjang jika dilihat dari ukuran kehidupan manusia. Namun, usia tersebut menjadi sangat singkat apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal. Kesadaran tentang keterbatasan waktu itulah yang seharusnya mendorong manusia mengisi hidup dengan karya yang bermanfaat.
Ilmuwan Pendidikan yang Membangun Kehidupan
Salah satu penilaian penting Prof. Ermaya adalah penempatannya terhadap Syaykh Panji Gumilang sebagai ilmuwan dalam bidang pendidikan. Ilmuwan, dalam pengertian ini, bukan hanya orang yang memahami teori, menulis konsep, atau berbicara di ruang akademik. Ilmuwan adalah seseorang yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus menerapkannya untuk membangun manusia dan kehidupan.
Syaykh Al-Zaytun dipandang tidak hanya membicarakan pendidikan, tetapi membangun sebuah lingkungan pendidikan. Ia tidak semata-mata menjelaskan pentingnya kemandirian, tetapi mengembangkan kegiatan yang menopang kemandirian. Ia tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan alam, tetapi mengembangkan pertanian, peternakan, pengelolaan pangan, dan tata lingkungan sebagai bagian dari sistem pendidikan.
Dalam konteks tersebut, pendidikan tidak dipersempit sebagai kegiatan belajar di dalam kelas. Pendidikan merupakan proses menyeluruh yang membentuk cara berpikir, cara bekerja, cara berhubungan dengan sesama, cara memperlakukan alam, dan cara menempatkan diri di hadapan Tuhan.
Prof. Ermaya melihat Syaykh Al-Zaytun berhasil memadukan petunjuk Al-Qur’an dengan realitas kehidupan modern. Nilai-nilai agama tidak berhenti sebagai ajaran spiritual yang hanya dibaca atau dihafalkan. Nilai tersebut diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata, mulai dari pendidikan, pertanian, ketahanan pangan, pembinaan masyarakat, hingga pembangunan peradaban.
Dalam kerangka itu, Al-Qur’an menjadi sumber nilai yang memberi arah, sedangkan ilmu pengetahuan menjadi instrumen untuk mewujudkan nilai tersebut dalam kehidupan. Keduanya bukan wilayah yang harus dipertentangkan. Agama dan ilmu pengetahuan justru dapat saling menguatkan.
Ilmu agama memberikan orientasi moral, spiritual, dan kemanusiaan. Ilmu pengetahuan memberikan kemampuan kepada manusia untuk membaca alam, memecahkan masalah, mengembangkan teknologi, mengelola sumber daya, dan meningkatkan kualitas kehidupan.
Prof. Ermaya menegaskan bahwa Syaykh Al-Zaytun selalu menempatkan ilmu agama sebagai fondasi utama. Dari fondasi tersebut dikembangkan ilmu pengetahuan yang benar dan membawa kemaslahatan. Apabila ilmu agama dipadukan dengan ilmu dunia, akan lahir manusia yang memiliki moralitas, integritas, kecakapan, serta kemampuan membangun peradaban.
Menjembatani Kitab Suci dan Realitas Kehidupan
Prof. Ermaya juga menaruh perhatian terhadap cara Syaykh Al-Zaytun menghubungkan teks kitab suci dengan realitas kehidupan. Kitab suci tidak boleh dipisahkan dari persoalan-persoalan manusia. Ia harus mampu memberikan orientasi ketika manusia menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, persoalan lingkungan, kebutuhan pangan, pembangunan ekonomi, dan dinamika kebangsaan.
Karena itu, memahami teks keagamaan tidak cukup dilakukan secara verbal. Pemahaman harus menghasilkan tindakan yang memperbaiki kehidupan. Ayat tentang menjaga alam harus tampak dalam perilaku ekologis. Ajaran tentang persaudaraan harus hadir dalam kehidupan sosial. Perintah menuntut ilmu harus diterjemahkan melalui lembaga pendidikan yang bermutu. Seruan untuk bekerja harus diwujudkan dalam produktivitas dan kemandirian.
Hubungan antara kitab suci dan kehidupan modern memerlukan kemampuan berpikir yang terbuka. Teks harus dipahami dengan ilmu, konteks, dan kesadaran terhadap tujuan moralnya. Dengan cara itu, agama tidak kehilangan kesuciannya, tetapi juga tidak terasing dari kehidupan manusia.
Prof. Ermaya memahami gagasan tersebut sebagai upaya membentuk manusia yang memiliki kebebasan berpikir, tetapi tetap berlandaskan hati nurani dan cahaya Ilahi. Kebebasan berpikir tidak berarti manusia dapat bertindak tanpa batas. Kebebasan justru menuntut tanggung jawab moral yang lebih besar.
Seseorang yang bebas berpikir harus mampu membedakan antara kebebasan dan kesewenang-wenangan. Ia harus berani bertanya, meneliti, menguji, dan mengembangkan gagasan, tetapi tetap mempertimbangkan kebenaran, kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan.
Cahaya Ilahi dan hati nurani menjadi kompas agar kebebasan tidak kehilangan arah. Dengan demikian, pendidikan harus melahirkan manusia yang merdeka dalam berpikir sekaligus matang dalam moralitas.
Menghormati Perbedaan sebagai Dasar Kehidupan Bangsa
Bagi Prof. Ermaya, cara berpikir yang bebas dan bertanggung jawab memiliki hubungan langsung dengan kehidupan kebangsaan. Indonesia tidak dibangun dari satu identitas. Bangsa ini terdiri atas beragam suku, budaya, bahasa, adat istiadat, agama, dan kepercayaan.
Keragaman tersebut membutuhkan pemimpin dan warga negara yang mampu menghormati perbedaan. Seorang pemimpin tidak boleh hanya melayani kelompok yang sama dengan dirinya. Kepemimpinan harus mengayomi seluruh masyarakat, termasuk mereka yang berbeda pandangan, latar belakang, maupun keyakinan.
Prof. Ermaya menghubungkan pemikiran tersebut dengan cita-cita para pendiri bangsa, terutama Ir. Soekarno. Pancasila tidak lahir di ruang yang kosong. Dasar negara itu digali dari kenyataan sejarah, kebudayaan, kehidupan sosial, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat Nusantara.
Karena itu, Pancasila tidak seharusnya hanya dihafalkan sebagai lima sila. Pancasila harus menjadi jiwa bangsa dan diwujudkan dalam cara memperlakukan manusia. Ketuhanan harus melahirkan penghormatan terhadap agama. Kemanusiaan harus melahirkan perlakuan yang adil. Persatuan harus mengatasi kepentingan kelompok. Kerakyatan harus melahirkan musyawarah, sedangkan keadilan sosial harus diwujudkan melalui kebijakan dan tindakan nyata.
Prof. Ermaya melihat semangat tersebut tumbuh dan dipraktikkan di Ma’had Al-Zaytun. Kehidupan pendidikan yang dibangun di dalamnya berusaha memadukan religiositas, kebangsaan, kedisiplinan, keterbukaan, kerja produktif, dan penghormatan terhadap kemajemukan.
Salam lintas agama yang disampaikannya pada awal sambutan menjadi simbol dari gagasan itu. Keimanan tidak mengharuskan seseorang memusuhi mereka yang berbeda. Sebaliknya, kedalaman iman seharusnya memperkuat sikap menghormati martabat manusia.
Membangun Negara Harus Dimulai dari Manusia
Salah satu pokok pemikiran terpenting dalam sambutan Prof. Ermaya adalah pernyataan bahwa di Al-Zaytun manusia dibangun terlebih dahulu. Sebab, membangun negara harus dimulai dari membangun manusianya.
Pembangunan sering kali diukur melalui pertumbuhan ekonomi, gedung, jalan, teknologi, dan berbagai proyek fisik. Seluruh hal tersebut memang penting. Namun, kemajuan material dapat kehilangan makna apabila tidak disertai pembangunan manusia.
Gedung yang megah tidak akan melahirkan peradaban apabila manusianya tidak berintegritas. Teknologi yang maju dapat menjadi sumber kerusakan apabila tidak diarahkan oleh moralitas. Kekayaan alam dapat habis apabila dikelola tanpa tanggung jawab. Kekuasaan dapat berubah menjadi penindasan apabila tidak dikendalikan oleh hati nurani.
Negara-negara maju, menurut Prof. Ermaya, selalu memiliki karakter bangsa yang kuat. Kemajuan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi oleh manusia yang disiplin, jujur, produktif, berpengetahuan, bertanggung jawab, dan memiliki visi masa depan.
Indonesia pun akan menjadi bangsa besar apabila manusianya mempunyai integritas, moralitas, kompetensi, serta rasa takut kepada Tuhan. Rasa takut kepada Tuhan dalam konteks ini bukan ketakutan yang melemahkan, melainkan kesadaran bahwa setiap kekuasaan, ilmu, jabatan, dan keputusan harus dipertanggungjawabkan.
Pembangunan manusia harus berlangsung secara utuh. Pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual. Ia juga harus membentuk kecerdasan emosional, sosial, moral, spiritual, ekologis, dan kebangsaan.
Di sinilah Prof. Ermaya menempatkan arti penting pembangunan karakter. Pendidikan harus menjadikan seseorang cakap sekaligus baik, terampil sekaligus jujur, berani sekaligus bertanggung jawab, dan merdeka dalam berpikir sekaligus menghormati martabat sesama.
Spiritualitas sebagai Penjaga Arah Ilmu Pengetahuan
Prof. Ermaya mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tanpa pembangunan spiritual dapat kehilangan arah. Ilmu memberikan kemampuan kepada manusia, tetapi spiritualitas membantu menentukan untuk apa kemampuan itu digunakan.
Ilmu dapat menciptakan teknologi untuk memajukan kehidupan, tetapi ilmu yang tidak diarahkan oleh nilai juga dapat menghasilkan alat penghancur. Kemampuan ekonomi dapat meningkatkan kesejahteraan, tetapi tanpa etika ia dapat melahirkan eksploitasi. Kekuasaan dapat digunakan untuk melayani rakyat, tetapi tanpa moralitas ia dapat berubah menjadi alat pemenuhan kepentingan pribadi.
Oleh sebab itu, pembangunan karakter, tasawuf, kedekatan kepada Tuhan, dan pembinaan akhlak memperoleh tempat penting dalam pendidikan. Tasawuf dalam kerangka tersebut bukan pelarian dari kehidupan dunia. Tasawuf justru menjadi latihan untuk membersihkan diri dari kesombongan, kerakusan, kebencian, dan keinginan menguasai orang lain.
Kedekatan kepada Tuhan harus melahirkan kedekatan kepada manusia. Ibadah harus memperhalus akhlak. Pengetahuan keagamaan harus memperkuat keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan kesediaan bekerja untuk kepentingan bersama.
Spiritualitas dengan demikian menjadi penjaga arah ilmu pengetahuan. Ia memastikan bahwa kemajuan tidak hanya menghasilkan manusia yang semakin kuat, tetapi juga semakin bijaksana.
Doa bagi Keberlanjutan Cita-Cita Al-Zaytun
Menjelang akhir sambutannya, Prof. Ermaya menyampaikan harapan agar kehadiran Al-Zaytun terus membawa keberkahan bagi Indonesia. Ia memandang momentum ulang tahun ke-80 Syaykh Al-Zaytun sebagai kesempatan untuk mendoakan keberlanjutan pengabdian.
Doa tersebut tidak hanya ditujukan bagi kesehatan dan umur panjang Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang. Di dalamnya tersimpan harapan agar gagasan-gagasan pendidikan, kemandirian, kebangsaan, dan pembangunan peradaban dapat terus dikembangkan.
Umur panjang memiliki makna apabila digunakan untuk memperluas manfaat. Kesehatan memiliki arti apabila menopang pengabdian. Ilmu menjadi bernilai apabila diwariskan kepada generasi berikutnya. Adapun lembaga pendidikan akan menjadi besar apabila mampu melampaui usia para pendirinya dan terus menjawab tantangan zaman.
Prof. Ermaya berharap Syaykh Al-Zaytun diberi kesempatan untuk terus mewujudkan cita-cita besarnya dalam membangun pendidikan, bangsa, dan peradaban. Ia juga mendoakan agar seluruh gagasan tersebut memberikan manfaat, tidak hanya bagi generasi sekarang, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.
Pesan milad itu kemudian ditutup dengan pantun:
Potong kelapa jangan dibelah,
Kalau dibelah airnya tumpah.
Mari kita bersyukur kepada Allah,
Semoga pertemuan ini membawa berkah.
Prof. Ermaya mengakhiri sambutannya dengan salam lintas agama, Salam Pancasila, dan pekik “Merdeka”. Sambutan berakhir, tetapi pesan yang disampaikannya meninggalkan refleksi panjang.
Peringatan usia ke-80 Syaykh Al-Zaytun pada akhirnya bukan semata-mata perayaan pertambahan umur. Momentum itu menjadi ruang untuk membaca kembali makna hidup, ilmu, pendidikan, kebangsaan, dan pengabdian.
Dari pesan Prof. Ermaya dapat dipahami bahwa peradaban tidak lahir hanya dari bangunan yang tinggi dan teknologi yang canggih. Peradaban lahir dari manusia yang berilmu, memiliki karakter, terbuka dalam berpikir, menghormati keberagaman, mencintai bangsa, dan tetap menempatkan Tuhan sebagai sumber orientasi kehidupan.
Di situlah pendidikan menemukan tugasnya yang paling mendasar: bukan sekadar mengantarkan manusia memperoleh ijazah, tetapi membentuk manusia yang mampu menjaga kehidupan dan membawa bangsanya menuju kemajuan.**
Indramayu, 1 Agustus 2026
——
![]()
