MUHAMMADIYAH INDRAMAYU DAN PELATIHAN MUBALLIGH, URGENSI MENAVIGASI ORIENTASI DAKWAH


*MUHAMMADIYAH INDRAMAYU DAN PELATIHAN MUBALLIGH, URGENSI MENAVIGASI ORIENTASI DAKWAH*

Oleh : Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI kab Indramayu.

Tulisan ini sebuah catatan apresiasi penulis atas inisiasi Prof. Dr. Junaidi Karso, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kab Indramayu mengadakan pelatihan Muballigh/Muballighah di kompleks Islamic Centre Indramayu ( Senin, 15/6/2026).

Penulis hadir dalam acara tersebut mendampingi Ketua Umum MUI kab Indramayu, KH. Syaerozi Bilal tentu bukan sekedar tentang memenuhi undangan tapi sebuah penegasan bahwa MUI adalah “melting pot”, titik kumpul keragaman ormas ormas Islam di Indramayu.

Penulis memahami Muhammadiyah sebagai entitas ormas keagamaan dari hasil studi penelitian Mitsuo Nakamura, ilmuan sosial Jepang. Ia meneliti tentang Muhammadiyah tahun 1979 – 1981 berpatner dengan Gus Dur, intelektual muda NU (saat itu), cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah dua ormas Islam paling kokoh sebagai “sayap kebangsaan”. Muhammadiyah menyebut NKRI sebagai “Darul ‘Ahdi wasy syahadah”, negara kesepakatan final kebangsaan. NU menyebutnya “Al Mu’ahadah Al Wathoniyah”, konsensus final kebangsaan.

Muhammadiyah – juga NU dan ormas ormas Islam lainnya, kini menghadapi tantangan dakwah tidak sederhana. Pasalnya, perubahan sosial telah mengalami “disrupsi” serba “melompat” secara mendadak. Alvin Toffler menyebut etika agama agama seringkali terlambat memitigasi disrupsi sosial tersebut.

Perubahan sosial yang bersifat “disrupsi” itulah yang disebut Steve Tesich sebagai era “post truth”, di mana berita “hoax” bisa memenangkan opini di ruang publik. Di sinilah tantangan Muhammadiyah menavigasi orientasi dakwah dari penetrasi “hoax” dan penetrasi ideologi islam “transnasional” via beragam platform media sosial “lintas state”.

Muhammadiyah sebagaimana juga NU sebagai ormas Islam besar di Indonesia, tak terkecuali di Indramayu Jawa Barat tidak bisa mengelak dari realitas sosial bahwa populasi muslim saat ini didominasi generasi “Z”, disebut “genz” (lahir 1997 -2012) dan generasi milenial (lahir 1981 – 1996).

Mereka adalah generasi muslim dalam kategori penelitian “Boston Consulting Group” disebut generasi “digital native” dengan ciri ciri bersifat instan, pragmatis, mudah tunduk pada pencitraan, berlimpah informasi tapi miskin literasi dan “no life no gadget” – hidup mereka terasa mati tanpa handphone.

Dalam konteks keagamaan, mereka “longgar” keterikatan secara organik terhadap ormas Islam. Hasil survey Amin Mudakkir (1918) menemukan fakta bahwa mayoritas muslim sebesar 92% di Jawa Barat dan Banten yang “mengikatkan diri” kepada ormas hanya 9% kepada NU dan selebihnya 4% kepada ormas ormas Islam lain.

Satu sisi longgarnya keterikatan populasi muslim di atas terhadap ormas ormas Islam meskipun secara tradisi keagamaan bersifat mayoritas mutlak dapat dibaca sebagai trend positif untuk menghindarkan pemahaman keagamaan bersifat lahiriyah dengan tendensi keormasan bersifat sempit.

Di sisi lain, kelonggaran tersebut potensial menjadi lahan subur bertumbuhnya ideologi Islam “transnasional” dengan tampilan Islam aksesoris baru yang diasuh media sosial secara dangkal, acapkali menyerang terhadap keislaman yang berakar dari doktrin keislaman yang berkemajuan ala Muhammadiyah dan Islam Nusantara ala NU.

Sebagai bagian dari cara menavigasi dakwah, pelatihan muballig dan muballighah Muhammadiyah Indramayu di atas harus diarahkan tidak sekedar bagaimana dakwah yang “mencerahkan” mampu mencegah penetrasi “hoax” dan penetrasi ideologi Islam “transnasional” yang destruktif dan merusak.

Lebih dari itu, harus memperkaya khazanah literasi keislaman yang membimbing umat dalam pilihan pilihan sosial yang produktif dan pilihan pilihan politik berbasis integritas, tidak mudah ditipu pencitraan yang bersifat popularitas, selebritas dan kepalsuan elektabilitas.

Dengan kata lain, momentum pelatihan muballigh dan muballighah di atas selain wadah tempat mengasah ketrampilan teknik berdakwah dan kefasihan literasi dalam spektrum doktrin keagamaan yang responsif terhadap kebutuhan tantangan zaman di era media sosial

Tapi tak kalah pentingnya membangun kesadaran kolektif di atas doktrin agama bahwa agama hadir dan dihadirkan untuk affirmasi keadilan di ruang publik. Agama tanpa afirmasi perjuangan atas keadilan hanyalah “seremoni budaya” tak berdampak.

Ke sanalah orientasi navigasi dakwah Muhammadiyah dan ormas ormas Islam lain diarahkan agar tugas dakwah menurunkan “doktrin langit” menjadi maslahat “khalifah fil Ardli”, menjadi tanggung jawab kekhalifahan di bumi.

Selamat untuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah kab Indramayu untuk Indonesia berkemajuan.**


Wassalam
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!