Dari Persatuan Menuju Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global


Dari Persatuan Menuju Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global

(Sambutan Ketua Panitia Peringatan 1 Syuro 1448 Hijriah Al Zaytun)

Oleh : Ali Aminulloh

Perubahan besar selalu diawali oleh sebuah gagasan.

Dan gagasan yang besar selalu lahir dari mereka yang berani memikirkan masa depan jauh melampaui zamannya.

Di tengah berbagai tantangan global yang terus berkembang, mulai dari krisis pangan, perubahan iklim, disrupsi teknologi, hingga ketidakpastian geopolitik dunia, Indonesia memerlukan lebih dari sekadar optimisme. Indonesia membutuhkan arah, visi, dan kesadaran bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Semangat itulah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026).

Bertempat di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, ribuan peserta yang terdiri atas tokoh nasional, akademisi, guru besar, tokoh agama, pejabat TNI dan Polri, mahasiswa, pelajar, serta masyarakat umum berkumpul dalam satu majelis kebangsaan yang mengusung tema “Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global.”

Di balik terselenggaranya kegiatan tersebut, terdapat sosok Ust. Eji Anugrah Romadhon, S.S., M.AP., Ketua Panitia Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah Al Zaytun, yang dalam sambutannya menjelaskan makna dan latar belakang lahirnya tema besar tersebut.

Tema yang Lahir dari Perjalanan Intelektual

Menurut Eji Anugrah Romadhon, tema yang diangkat pada peringatan tahun ini bukanlah tema yang muncul secara tiba-tiba.

Tema tersebut merupakan hasil perenungan panjang dan perjalanan intelektual yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir di lingkungan Al Zaytun.

Ia menjelaskan bahwa berbagai simposium, seminar internasional, pelatihan guru berkelanjutan, serta forum-forum akademik yang menghadirkan puluhan profesor dan pakar dari berbagai disiplin ilmu telah menghasilkan satu kesimpulan penting: masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga persatuan dan membangun kemandirian.

Persatuan dan kemandirian bukanlah dua hal yang terpisah.

Keduanya saling berkaitan dan saling menguatkan.

Tanpa persatuan, bangsa akan kehilangan energi untuk bergerak bersama. Tanpa kemandirian, bangsa akan terus bergantung kepada pihak lain dalam memenuhi kebutuhan dan menentukan masa depannya.

Karena itulah tema tersebut dipilih sebagai pesan utama peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah.

Pendidikan sebagai Jalan Perubahan

Dalam paparannya, Eji menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen utama dalam mewujudkan cita-cita besar tersebut.

Menurutnya, Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang sejak awal telah memandang pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sarana membangun peradaban.

Pendidikan harus mampu melahirkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, karakter yang kuat, semangat kebangsaan, serta kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Karena itu, Al Zaytun terus mengembangkan pendidikan yang bersifat holistik dan terintegrasi.

Pendidikan yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membentuk kepribadian, keterampilan hidup, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, dan kecintaan kepada tanah air.

Menurut Ust. Eji, hanya melalui pendidikan yang berkualitas bangsa Indonesia dapat mempersiapkan generasi yang mampu menjawab berbagai tantangan masa depan.

Momentum Membangun Kesadaran Kolektif

Bagi Eji Anugrah Romadhon, peringatan Tahun Baru Islam bukan sekadar seremoni tahunan.

Hijrah mengandung makna perubahan.

Hijrah adalah keberanian meninggalkan kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.

Dalam konteks kebangsaan, hijrah berarti keberanian bangsa Indonesia untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, memperkuat persatuan, dan membangun kemandirian.

Karena itu, peringatan 1 Muharram di Al Zaytun dirancang bukan hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang refleksi kebangsaan.

Ruang untuk bertanya ke mana bangsa ini akan melangkah.

Ruang untuk merumuskan solusi terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

Dan ruang untuk mempertemukan berbagai pemikiran demi masa depan Indonesia.

Di Tengah Duka, Tetap Menyalakan Harapan

Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah tahun ini berlangsung dalam suasana yang berbeda.

Keluarga besar Al Zaytun masih merasakan duka mendalam atas wafatnya Almarhum Ustadz Ahmad Fauzi Abdul Halim, salah satu eksponen dan pejuang pendidikan yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan Al Zaytun.

Di saat yang sama, Syaykh Panji Gumilang juga belum dapat hadir secara langsung karena masih menjalani proses pemulihan kesehatan.

Namun menurut Ust. Eji, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat seluruh sivitas Al Zaytun untuk terus melanjutkan perjuangan pendidikan yang telah dirintis selama puluhan tahun.

Justru dari situ muncul kesadaran bahwa perjuangan besar tidak boleh berhenti pada satu generasi.

Gagasan harus terus hidup.

Cita-cita harus terus dilanjutkan.

Dan harapan harus terus dinyalakan.

Menyongsong Indonesia Masa Depan

Menutup sambutannya, Eji Anugrah Romadhon mengajak seluruh peserta untuk melihat masa depan Indonesia dengan penuh optimisme.

Menurutnya, Indonesia memiliki seluruh modal yang diperlukan untuk menjadi bangsa besar.

Sumber daya alam yang melimpah.

Jumlah penduduk produktif yang besar.

Keberagaman budaya yang kaya.

Serta semangat gotong royong yang menjadi identitas bangsa.

Yang diperlukan saat ini adalah kemampuan mengelola seluruh potensi tersebut melalui pendidikan, persatuan, dan kerja sama yang berkelanjutan.

Dari podium Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Eji Anugrah Romadhon mengingatkan bahwa perjalanan menuju Indonesia yang maju dan mandiri tidak dapat ditempuh sendirian.

Perjalanan itu membutuhkan persatuan.

Perjalanan itu membutuhkan pendidikan.

Dan perjalanan itu membutuhkan keyakinan bahwa bangsa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan sendiri.

Sebab sebagaimana semangat hijrah yang diwariskan sejarah, masa depan yang lebih baik selalu dimulai dari keberanian untuk berubah dan bergerak bersama menuju tujuan yang sama.**

Indramayu, 17 Juni 2026
——
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!