Teologi, Kecerdasan Buatan, dan Masa Depan Pendidikan Islam: Gagasan Etika Digital dari Seminar Internasional Al-Zaytun


Teologi, Kecerdasan Buatan, dan Masa Depan Pendidikan Islam: Gagasan Etika Digital dari Seminar Internasional Al-Zaytun

(Disarikan dari paparan Dr. Irvan Iswandi, SE. MT)

Oleh : Ali Aminulloh

Mahad Al-Zaytun bersama Institut Agama Islam (IAI) Al-Azis menyelenggarakan Seminar Internasional pada 10 Juni 2026 di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al-Zaytun Indonesia. Kegiatan ilmiah ini menghadirkan tiga guru besar, yakni Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed. Prof. Dr. H. Idzam Fautanu, MA. dan Prof. Dr. Joshua David Hollman, Ph.D. serta seorang dosen IAI Al-Azis, Dr. Irvan Iswandi, SE. MT.. Seminar yang diikuti sekitar 3.920 peserta ini mempertemukan dosen, guru, pengurus yayasan, mahasiswa, pelajar, wali santri, hingga petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia (P3KPI) dalam satu forum dialog akademik lintas disiplin.

Di tengah gelombang transformasi digital yang semakin cepat, seminar tersebut tidak hanya membahas perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tetapi juga mengangkat pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana teknologi dapat berkembang tanpa kehilangan pijakan moral, etika, dan nilai-nilai spiritual?

Salah satu pemikiran menarik disampaikan oleh Dr. Irvan Iswandi, S.E., M.T., Wakil Rektor Bidang Administrasi IAI Al-Azis. Dalam paparannya yang berjudul “A Theology-Based Digital Ethics Framework for Islamic Higher Education Information System: A Government Perspective”, ia mengajak peserta melihat perkembangan AI bukan sekadar fenomena teknologi, melainkan bagian dari budaya populer yang telah menyatu dengan kehidupan generasi muda.

Menurut Irvan, saat ini hampir seluruh mahasiswa dan pelajar telah terbiasa menggunakan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk membantu proses belajar, menyusun tugas, melakukan riset, hingga menyelesaikan pekerjaan akademik. Sebagai dosen yang mengajar pemrograman, ia mengakui bahwa penggunaan AI oleh mahasiswa merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Yang terpenting bukan lagi melarang penggunaannya, melainkan memastikan bahwa pengguna mampu mempertanggungjawabkan hasil yang diperoleh dari teknologi tersebut.

“AI adalah alat. Persoalannya bukan pada alatnya, tetapi pada bagaimana manusia menggunakannya secara bertanggung jawab,” demikian esensi yang mengemuka dalam presentasinya. Ketika mahasiswa menghasilkan program komputer dengan bantuan AI, misalnya, mereka tetap harus memahami logika, proses, dan alasan di balik setiap jawaban yang diberikan sistem.

Tantangan Etika di Era Kecerdasan Buatan

Irvan menjelaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menghadapi berbagai tantangan baru yang lahir dari kemajuan teknologi digital. Di antaranya adalah pelanggaran privasi, penyalahgunaan data mahasiswa, bias algoritma, ketidakjujuran akademik, plagiarisme berbasis AI, kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan otomatis, hingga ancaman keamanan siber.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan teknologi tidak lagi cukup diselesaikan melalui pendekatan teknis semata. Universitas memerlukan tata kelola yang mampu mengintegrasikan efektivitas teknologi dengan tanggung jawab moral. Dari sinilah muncul pertanyaan penelitian yang menjadi dasar kajian Irvan: bagaimana perguruan tinggi Islam dapat mengelola teknologi digital secara efektif sekaligus tetap sesuai dengan prinsip-prinsip etika Islam?

Dari Data Menuju Kebijaksanaan

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Irvan menggunakan pendekatan DIKW Hierarchy (Data, Information, Knowledge, Wisdom). Menurutnya, data hanyalah fakta-fakta mentah yang belum memiliki makna. Ketika data diproses dan diorganisasi, ia berubah menjadi informasi. Informasi yang dipadukan dengan pengalaman melahirkan pengetahuan (knowledge). Adapun tingkat tertinggi adalah kebijaksanaan (wisdom), yakni kemampuan menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang tepat.

Dalam konteks pendidikan tinggi, kebijaksanaan menjadi tujuan akhir transformasi digital. Teknologi tidak boleh berhenti pada kemampuan mengumpulkan data dalam jumlah besar, tetapi harus mampu membantu manusia mengambil keputusan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Membangun Kerangka Etika Digital Berbasis Teologi

Berdasarkan kerangka tersebut, Irvan menawarkan model etika digital yang bertumpu pada lima fondasi teologis Islam, yakni Tauhid, Amanah, Adil, Ihsan, dan Maslahah.

Tauhid menempatkan teknologi sebagai sarana untuk melayani manusia dan mendukung kemaslahatan hidup, bukan menjadi tujuan itu sendiri. Amanah menekankan tanggung jawab dalam mengelola data dan informasi yang dimiliki institusi pendidikan. Adil menghendaki agar algoritma dan sistem digital bebas dari diskriminasi maupun bias yang merugikan kelompok tertentu. Ihsan mendorong peningkatan kualitas layanan digital secara berkelanjutan, sedangkan Maslahah mengarahkan teknologi agar memberikan manfaat seluas-luasnya bagi pendidikan, masyarakat, dan kemanusiaan.

Bagi Irvan, nilai-nilai tersebut merupakan fondasi yang sangat relevan untuk menjawab berbagai problem etika yang muncul akibat perkembangan AI. Teknologi yang kehilangan orientasi moral berpotensi menjadi instrumen yang merusak, sementara teknologi yang berlandaskan nilai-nilai teologis dapat menjadi sarana pemberdayaan manusia.

Menuju Transformasi Digital yang Berpusat pada Manusia

Selain fondasi teologis, kerangka yang ditawarkan juga mencakup aspek ethical governance, tata kelola AI dan data, integritas akademik, serta transformasi digital berkelanjutan. Dalam praktiknya, tata kelola digital harus menjunjung prinsip akuntabilitas, transparansi, keadilan, dan tanggung jawab.

Ia juga menekankan pentingnya human-centered technology, yakni teknologi yang dirancang berdasarkan kebutuhan manusia, bukan sekadar kecanggihan fitur. Banyak aplikasi yang tampak kompleks dan modern, namun justru menyulitkan pengguna karena tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Oleh karena itu, transformasi digital harus tetap berpijak pada pengalaman dan kenyamanan manusia sebagai pengguna utama.

Di sisi lain, layanan digital juga harus bersifat inklusif dan berkelanjutan. Perkembangan teknologi yang sangat cepat menuntut perguruan tinggi untuk membangun sistem tata kelola yang adaptif, sehingga mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan arah dan nilai dasar yang menjadi identitasnya.

Menyatukan Teknologi dan Spiritualitas

Seminar Internasional yang diselenggarakan Mahad Al-Zaytun dan IAI Al-Azis ini menunjukkan bahwa perdebatan mengenai kecerdasan buatan tidak lagi hanya berkisar pada soal kemampuan mesin, tetapi juga menyentuh pertanyaan filosofis dan teologis yang lebih dalam. Bagaimana manusia menjaga nilai kemanusiaan di tengah dominasi algoritma? Bagaimana pendidikan membentuk generasi yang cerdas secara digital sekaligus matang secara moral?

Melalui forum yang mempertemukan akademisi nasional dan internasional tersebut, Al-Zaytun kembali menegaskan pentingnya membangun peradaban ilmu yang tidak memisahkan kemajuan teknologi dari dimensi etika dan spiritualitas. Sebab pada akhirnya, sebagaimana disampaikan Dr. Irvan Iswandi, masa depan pendidikan tinggi Islam tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa bijak teknologi itu digunakan untuk kemaslahatan umat manusia.**


Indramayu, 12 Juni 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!