Dari Tutor PKBM Al-Zaytun Menuju Wisudawan Berprestasi: Kisah Hartono Menembus Batas Pendidikan
Oleh: Hartono, S.Pd. M.Pd (Tutor PKBM Al Zaytun)
JAKARTA-JAYANEWS.CIM – “Pendidikan bukan tentang seberapa jauh seseorang pernah tertinggal, melainkan seberapa kuat ia memilih untuk terus melangkah.” Kalimat itu seakan menemukan wujud nyatanya dalam sosok Hartono. Dari seorang relawan pesantren yang sempat terhenti pendidikannya pada jenjang SMP, ia berhasil menapaki perjalanan panjang yang mengantarkannya menjadi wisudawan magister berprestasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97. Lebih dari itu, ia kini berdiri di garis depan sebagai Tutor PKBM Al-Zaytun, lembaga yang dahulu membantunya kembali menemukan jalan menuju pendidikan.
Perjalanan Hartono bukanlah kisah yang dibangun dalam semalam. Sejak tahun 2000, ia telah mengabdikan diri sebagai relawan aktif di Yayasan Pesantren Indonesia. Di tengah aktivitas pengabdian tersebut, tersimpan sebuah harapan yang terus menyala: melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti.
Pendidikan formal Hartono berakhir di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun keterbatasan itu tidak memadamkan semangat belajarnya. Setelah bertahun-tahun menjalani aktivitas sosial dan pengabdian di lingkungan pesantren, ia memutuskan mengambil langkah berani. Pada tahun 2010, Hartono mendaftarkan diri pada Program Paket C di PKBM Al-Zaytun, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan setara sekolah menengah atas.
Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam kehidupannya. Dengan ketekunan dan disiplin belajar yang tinggi, Hartono berhasil menyelesaikan pendidikan Paket C dan dinyatakan lulus pada tahun 2013. Kelulusan itu bukan sekadar memperoleh ijazah setara SMA, melainkan membuka gerbang menuju cita-cita yang lebih besar.

Setahun kemudian, pada 2014, Hartono melanjutkan pendidikannya ke Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia (IAI Al-Azis). Ia memilih Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), sebuah bidang yang selaras dengan pengalaman pengabdiannya di lingkungan pesantren dan kecintaannya terhadap dunia pendidikan. Setelah menjalani proses perkuliahan yang panjang, Hartono berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 2021 dengan IPK 3,22.
Namun, bagi Hartono, gelar sarjana bukanlah garis akhir. Justru pada tahun yang sama, ia kembali ke tempat yang pernah mengubah arah hidupnya. Sejak 2021, Hartono mengabdi sebagai Tutor PKBM Al-Zaytun. Dalam peran tersebut, ia membimbing para peserta didik dewasa yang sedang berjuang melanjutkan pendidikan, sebagaimana dirinya dahulu.
Di ruang-ruang belajar PKBM, Hartono tidak hanya mengajarkan materi pelajaran. Ia juga menularkan pengalaman hidup, semangat pantang menyerah, serta keyakinan bahwa usia dan latar belakang bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Kehadirannya menjadi bukti nyata bahwa pendidikan nonformal mampu melahirkan perubahan sosial yang signifikan.
Komitmennya terhadap dunia pendidikan terus bertumbuh. Pada tahun 2024, Hartono melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada Program Studi PGMI. Masa studi yang dijalani selama 1 tahun 7 bulan 6 hari menjadi periode yang penuh tantangan sekaligus pembuktian.
Hasilnya sungguh membanggakan. Pada tahun 2026, Hartono menyelesaikan pendidikan magisternya dengan IPK 3,97. Prestasi ini menunjukkan lonjakan akademik yang luar biasa dan menjadi cerminan dari konsistensi belajar yang tidak pernah surut.
Puncak perjalanan akademik tersebut dirayakan pada Selasa, 9 Juni 2026. Di tengah suasana khidmat prosesi wisuda, Hartono menjadi bagian dari 475 wisudawan yang dikukuhkan oleh UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Jumlah tersebut terdiri atas 455 lulusan sarjana (S1), 18 lulusan magister (S2), dan 2 lulusan doktor (S3).
Bagi banyak orang, prosesi wisuda mungkin hanya menjadi seremoni akademik. Namun bagi Hartono, momen itu adalah simbol kemenangan atas berbagai keterbatasan yang pernah dihadapi. Dari lulusan SMP, peserta Paket C, mahasiswa sarjana, hingga akhirnya meraih gelar magister dengan predikat membanggakan.
Kisah Hartono memberikan pelajaran berharga bahwa pendidikan adalah perjalanan sepanjang hayat. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, memperbaiki diri, dan mengejar cita-cita. Ia juga membuktikan bahwa pendidikan nonformal memiliki peran strategis dalam membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan melanjutkan sekolah.
Lebih dari sekadar prestasi akademik, perjalanan Hartono menunjukkan pentingnya memberi kembali kepada komunitas. Setelah merasakan manfaat pendidikan, ia memilih kembali ke PKBM Al-Zaytun sebagai tutor, membantu orang lain menapaki jalan yang pernah ia lalui. Dari seorang peserta didik menjadi pendidik, dari penerima manfaat menjadi penggerak perubahan.

Hari ini, nama Hartono bukan hanya dikenal sebagai wisudawan berprestasi. Ia adalah simbol harapan bagi para pembelajar dewasa, para relawan, para pekerja, dan siapa pun yang pernah merasa tertinggal dalam pendidikan. Perjalanannya membuktikan bahwa kesempatan kedua selalu ada bagi mereka yang memiliki kemauan untuk terus belajar.
Wisuda 9 Juni 2026 bukanlah akhir dari cerita Hartono. Sebaliknya, itulah awal babak baru pengabdian yang lebih luas. Sebagai Tutor PKBM Al-Zaytun dan lulusan magister yang berprestasi, Hartono telah menunjukkan bahwa pendidikan mampu mengubah hidup, dan pengabdian mampu memberi makna pada setiap pencapaian.Feature ini sudah disusun dengan gaya media human interest: lead inspiratif, alur kronologis, penguatan nilai perjuangan, serta penekanan bahwa Hartono adalah Tutor PKBM Al-Zaytun yang lahir dari proses pendidikan di PKBM itu sendiri sehingga memiliki daya inspirasi yang kuat bagi warga belajar dewasa.**
RED/AA
—–
![]()
