Muktamar LESBUMI Sangat Diharap Mampu Merumuskan Pakem Bagi Umat Islam Untuk Memaknai Amar Ma’ruf Nahi Munkar Serta Rahmatan Lil Alamin


*Muktamar LESBUMI Sangat Diharap Mampu Merumuskan Pakem Bagi Umat Islam Untuk Memaknai Amar Ma’ruf Nahi Munkar Serta Rahmatan Lil Alamin*

Penulis : Jacob Ereste

Muktamar LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) pada Jum’at hingga Minggu, 12-14 Juni 2026 di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Jombang, mengusung tema “Kembali ke Akar” diharap menjadi ajang pertemuan tokoh, seniman dan pelaku budaya serta para akademisi bersama mahasiswa dan masyarakat.

Beragam kegiatan dalam rangkaian muktamar LESBUMI ini juga diharap bisa mempertemukan gagasan seni dan budaya yang mengakar dalam tradisi bernilai ekonomi kreatif yang menyegarkan kehidupan masyarakat dalam kondisi ekonomi yang sumpek pada akhir belakangan ini di Indonesia.

Acara muktamar LESBUMI yang akan berlangsung selama tiga hari ini bersifat terbuka untuk saling mengenal, mengakrabkan serta memaknai kekayaan seni dan budaya bangsa Indonesia yang memiliki bekal sejarah dari berbagai suku bangsa Nusantara yang kini menjadi satu bangsa Indonesia.

Akan hadir sejumlah tokoh, ulama, pegiat seni, pelaku serta pemikir kebudayaan dari berbagai daerah untuk mewarnai pelangi budaya Nusantara yang telah menjadi Indonesia Raya. Kehadiran sejumlah tokoh seni dan budaya serta keagamaan akan memperkukuh eksistensi LESBUMI melalui muktamar yang akan menjadi acuan bagi umat Islam — tak hanya di Indonesia — untuk membangun peradaban masa depan yang lebih baik, manusiawi dan bernas menebar nilai-nilai spiritualitas yang mampu menjaga etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai khalifatullah di muka bumi.

Kebudayaan yang mampu membangun peradaban yang baik bagi manusia di masa depan tidak terlepas dari dinamika sosial, pendidikan yang meliputi budaya terbaik dan terpilih guna memperkuat jati diri bangsa Indonesia yang kelak akan menjadi mercu suar penerang jagat dari kegelapan. Adapun tema “Kembali ke Akar” tampak dapat dipahami untuk bersikap teguh pada akar tradisi dan budaya bangsa Nusantara — yang telah menjadi bangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia dengan puncak dan keunggulan genius lokalnya yang kaya raya tiada bandingan. Kekayaan dan keberagaman akar tradisi dan budaya bangsa Indonesia, bukan cuma sekedar modal, tetapi potensi bagi bangsa Indonesia untuk menjadi garda terdepan dalam membangun fondasi dari peradaban dunia untuk manusia di masa depan yang lebih beradab.

Karena itu, rangkaian acara Muktamar LESBUMI pantas dan patut dilengkapi dengan pameran karya seni, kaligrafi, pertunjukan, pementasan serta orasi kebudayaan hingga kerajinan dan sebagainya sebagai hasil kerja kreatif para seniman serta budayawan bangsa Indonesia yang sungguh membanggakan. Sehingga seni dan budaya semakin akrab dan karib serta ramah yang mampu menyapa dan menggugah warga masyarakat — tak hanya sebatas bagi umat Islam semata — tapi harus bersifat global dan universal. Setidaknya, dari eksistensi LESBUMI yang sudah berkiprah jauh sejak awal kemerdekaan dan puncaknya pada 20 tahun terakhir masa Orde Baru aktif dan berperan besar dalam peraturan kebudayaan dengan lembaga lain hingga saat Manikebu (Manifestasi Kebudayaan) di penghujung masa pujangga (sastrawan) baru yang sangat berperan dalam menancapkan watak bangsa yang kukuh dan kuat menghadapi terpaan jaman. Karena itu, ruh seni dan budaya tradisi dari bangsa Indonesia tetap relevan untuk tetap ikut memperkuat dan memperkukuh kepribadian bangsa Indonesi yang majemuk dan plural, tak hanya dalam wujud dari karya seni, macopatan, pantun, ludruk, tari topeng hingga beragam bentuk seni bela diri patut mendapat perhatian untuk dikelola sebagai potensi seni dan budaya bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.

Karena itu, kampus sebagai ruang belajar dan dapur peracik seni dan budaya — seperti yang dipelopori oleh Universitas Hasbullah — dapat menjadi tauladan, untuk kemudian dapat lebih diperluas menjadikan Masigit juga menjadi pusat pengembangan ilmu dan pengetahuan, seni serta budaya Islamis agar dapat lebih berperan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa hingga bisa keluar dari kungkungan kemiskinan, baik yang disebabkan oleh kultural maupun struktural.

Setidaknya, seni dan budaya Islam yang terbingkai dalam LESBUMI bisa setara dan sebanding dengan potensi umat Islam di Indonesia yang terbilang mayoritas, karena boleh dikata tiada satu pun lembaga kesenian dan kebudayaan yang dapat menjadi rujukan bagi umat Islam. Sementara kampus — apalagi jumlah Mesigit — begitu banyak bertumbuh di berbagI tempat dan daerah, namun yang ada hanya sebatas ibadah formal seperti sholat — utamanya ceramah — terkesan tidak berkembang, jika tidak boleh dikata monoton, dan sangat membosankan. Oleh karena itu, sungguh besar harapan pada pelaksanaan muktamar LESBUMI kali ini akan menghasilkan rumusan yang jenial untuk menjadi pegangan umat Islam ber-amar ma’ruf nahi munkar melalui media seni dan budaya dengan lebih leluasa untuk memaknai rahmatan lil alamin. Setidaknya, nilai-nilai spiritual sebagai penjaga etika, moral dan akhlak mulia manusia dapat terjaga dan terpelihara dengan baik bagi segenap warga bangsa Indonesia yang akan segera memasuki Era Indonesia Emas, setelah seabad bersabar dan menunggu untuk bebas dari kemiskinan dan kebodohan.**


Banten, 7 Juni 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!