Bermitra Dengan PTN Unggulan, Wamen Viva Yoga: Membangun Kawasan Transmigrasi Memerlukan dan Menggunakan Ilmu Pengetahuan


Bermitra Dengan PTN Unggulan, Wamen Viva Yoga: Membangun Kawasan Transmigrasi Memerlukan dan Menggunakan Ilmu Pengetahuan
 
JAKARTA-JAYANEWS.COM – Membangun kawasan transmigrasi memerlukan dan menggunakan ilmu pengetahuan untuk itu Kementerian Transmigrasi melibatkan perguruan tinggi untuk menggali berbagai potensi yang ada di kawasan. “Kementerian Transmigrasi perlu bersinergi dengan pihak lain dalam merealisasikan program-program unggulannya”, ujar Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi kepada wartawan, Kalibata, Jakarta, (4/6/2026).
 
Program kerja sama dengan perguruan tinggi negeri (PTN) unggulan lewat Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2025, dengan UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, dan Institut Teknologi 10 November, dalam meriset potensi sumber daya alam dan ekonomi di 154 kawasan transmigrasi yang tersebar di seluruh Indonesia dilanjutkan di tahun 2026, TEP 2026. Perguruan tinggi yang terlibat menurut Viva Yoga ditambah dengan Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
 
“Kita libatkan generasi muda yang mempunyai talenta dan skill yang luar biasa dalam program Trans Patriot”, ujarnya. “Ilmu yang dimiliki civitas akademika perlu direalisasikan di kawasan transmigrasi”, tambahnya. Dengan hadirnya warga kampus di berbagai kawasan transmigrasi membuat Viva Yoga optimis program Trans Patriot mampu memberi trickle down effect.
 
Dalam program TEP, Kementerian Transmigrasi memberi kesempatan kepada para sarjana, master, dan doktor yang memiliki inovasi, kreasi, untuk bersama membangun kawasan transmigrasi. Minat pendaftar dari berbagai jenjang strata menurut Viva Yoga sangat luar biasa. Dari 1.476 orang yang dibutuhkan, yang mendaftar mencapai 10.359 orang. “Para pendaftar tidak hanya dari perguruan tinggi mitra namun juga dari perguruan lain bahkan ada juga yang dari luar negeri”, ungkapnya. Dari pelamar yang lolos, 246 orang ditempatkan sebagai ketua tim dan 1.230 orang menjadi anggota tim.
 
Mereka yang sudah dinyatakan lolos dalam seleksi selanjutnya akan disebar ke 41 Kawasan Transmigrasi Prioritas Nasional, 10 Kawasan Transmigrasi di Pulau Papua, dan 2 Kawasan Transmigrasi Prioritas Kementerian.
 
TEP 2026 menurutnya merupakan tindak lanjut dari TEP 2025. Hasil riset yang menjadi bahan rekomendasi menjadi masukan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk merencanakan pembangunan. “Pada TEP 2026 Kita lebih fokus pada implementatif”, tuturnya. Implementatif dari berbagai riset yang sudah ada diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi di kawasan transmigrasi.
 
Viva Yoga mengatakan mereka yang menjadi TEP 2026 akan menghadapi situasi lapangan yang berbeda dengan perkotaan. Kawasan transmigrasi yang dituju merupakan kawasan yang terbilang pelosok nusantara di mana infrastruktur masih belum memadai, transportasi minim, dan berbagai kendala dan tantangan lainnya. “Mereka yang mempunyai jiwa yang kuat, patriot, dan nasionalisme yang akan menjadi transformer atau pembawa perubahan di kawasan transmigrasi”, ujar mantan Anggota Komisi IV DPR itu.

Ilmu pengetahuan yang mereka miliki didorong untuk bisa diimplementasikan dan dikolaborasikan dengan transmigran, masyarakat lain yang menempati kawasan transmigrasi, dan pemerintah daerah.
 
TEP 2026 menurut Viva Yoga sebagai wujud Kementerian Transmigrasi membangun bangsa dari pinggiran, dari bawah, desa. “Dari lahan-lahan kosong itulah kemudian tercipta pusat-pusat pertumbuhan baru yang tersebar di Indonesia”, ucap pria asal Lamongan, Jawa Timur, itu.**
 
Ardi Winangun
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!