Tutor PKBM Al Zaytun Raih Gelar Magister di Usia 49 Tahun: Ketika Belajar Menjadi Jalan Pengabdian Seumur Hidup


Tutor PKBM Al-Zaytun Raih Gelar Magister di Usia 49 Tahun: Ketika Belajar Menjadi Jalan Pengabdian Seumur Hidup

Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)

Langkah-langkah itu mungkin tak lagi secepat masa muda. Rambut pun mulai dihiasi uban. Namun semangat untuk belajar justru tumbuh semakin kuat. Di tengah riuh tepuk tangan dan gemuruh rasa haru dalam prosesi Wisuda Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon, Sabtu, 23 Mei 2026, seorang pria berusia 49 tahun berdiri tegak mengenakan toga kebanggaannya. Namanya Joko Sairan.

Hari itu bukan sekadar seremoni akademik. Bagi Joko, pengukuhan sebagai lulusan Pascasarjana merupakan puncak dari perjalanan panjang pencarian ilmu, perjuangan keluarga, pengabdian pendidikan, dan keyakinan bahwa belajar tidak pernah mengenal kata terlambat.

Di Auditorium Kampus 1 UGJ Cirebon, bersama 703 wisudawan lainnya dari program Sarjana, Profesi, dan Pascasarjana, Joko mengikuti prosesi wisuda yang berlangsung khidmat sejak pagi hari. Ketika kuncir toga dipindahkan sebagai simbol resmi kelulusan, senyum syukur terpancar dari wajahnya. Di balik momen singkat itu tersimpan kisah puluhan tahun perjuangan yang tidak sederhana.

Joko bukanlah sosok yang menempuh pendidikan tinggi secara linear sebagaimana kebanyakan orang. Gelar Sarjana baru berhasil diraihnya pada usia 43 tahun. Enam tahun kemudian, ia kembali membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkembang dengan menyelesaikan pendidikan Magister.

“Saya bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan ini. Pendidikan adalah anugerah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujarnya penuh rasa syukur.

Saat ditanya mengapa baru melanjutkan pendidikan tinggi pada usia yang tidak lagi muda, Joko tersenyum. Ia mengenang masa mudanya yang banyak dihabiskan untuk menjelajah berbagai daerah dan mencari pengalaman hidup.

Baginya, kehidupan adalah sekolah besar yang mengajarkan banyak hal. Namun seiring perjalanan waktu, tumbuh kesadaran bahwa pengalaman hidup perlu diperkaya dengan pendidikan formal agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Kesadaran itulah yang kemudian mengantarkannya kembali ke bangku kuliah hingga berhasil meraih gelar Magister.

Namun gelar akademik bagi Joko bukanlah tujuan akhir. Ilmu yang diperolehnya justru menjadi bekal untuk menjalankan pengabdian yang selama ini ia tekuni sebagai tutor di PKBM Al-Zaytun.

Di lembaga pendidikan nonformal tersebut, Joko menemukan makna pendidikan yang sesungguhnya.

Sebagai tutor, ia berhadapan dengan warga belajar yang datang dari berbagai latar belakang. Ada yang pernah putus sekolah karena faktor ekonomi, ada yang harus bekerja sejak usia muda, ada pula yang baru kembali belajar setelah puluhan tahun meninggalkan bangku pendidikan.

Keberagaman itulah yang membuat proses pembelajaran di PKBM Al-Zaytun menjadi pengalaman yang unik sekaligus menantang.

“Setiap warga belajar memiliki karakter dan pengalaman hidup yang berbeda. Saya dituntut untuk lebih sabar, kreatif, dan fleksibel dalam menyampaikan materi,” tuturnya.

Bagi Joko, mengajar bukan sekadar profesi. Mengajar adalah panggilan jiwa. Sebagai alumni IAI Al-Azis, ia memandang pendidikan sebagai salah satu instrumen terpenting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, pengabdiannya di PKBM Al-Zaytun menjadi bagian dari upaya mewujudkan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

Di tengah perjalanan sebagai tutor, banyak pengalaman yang membekas dalam ingatannya. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika ia harus menjemput warga belajar dari gang ke gang menggunakan mobil sewaan agar mereka dapat mengikuti kegiatan belajar.

Perjuangan itu tentu tidak mudah. Dibutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran ekstra. Namun Joko percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Banyak warga belajar yang semula enggan mengikuti pendidikan akhirnya menyadari pentingnya belajar. Bahkan tidak sedikit yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

“Ketika melihat mereka berhasil melanjutkan ke Strata 1, saya merasa sangat bangga. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya sebagai pendidik,” ungkapnya.

Menurut Joko, salah satu hal yang membuatnya terus bersemangat adalah melihat tekad para warga belajar yang tetap datang mengikuti pembelajaran meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan hidup.

Semangat mereka justru menjadi energi baru bagi dirinya untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran.

Selain itu, suasana kekeluargaan yang terbangun antara tutor, pengelola, dan warga belajar di PKBM Al-Zaytun menciptakan lingkungan belajar yang hangat dan menyenangkan.

“Di sini saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga tentang membangun harapan dan masa depan,” katanya.

Keputusan Joko untuk melanjutkan studi hingga jenjang Magister juga tidak terlepas dari dorongan dan motivasi yang diberikan oleh Syaykh Al-Zaytun. Menurutnya, pesan tentang pentingnya peningkatan kualitas pendidikan yang terus disampaikan menjadi inspirasi besar dalam perjalanan akademiknya.

Dukungan keluarga, sahabat, dan lingkungan yang selalu berpikir positif tentang pendidikan turut memperkuat langkahnya menghadapi berbagai tantangan.

Sebab, perjalanan menuju gelar Pascasarjana tidaklah mudah. Sebagai kepala keluarga sekaligus pengabdi di Mahad Al-Zaytun, ia harus membagi waktu antara tanggung jawab keluarga, pekerjaan, dan perkuliahan.

Dalam berbagai kesempatan, ia mengaku hampir menyerah menghadapi keterbatasan yang ada. Namun dukungan dari berbagai pihak membuatnya terus melangkah.

“Berkat dukungan Syaykh Al-Zaytun dan Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, Dr. (Can) Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., MBA., CRBC., seluruh proses perkuliahan dapat saya jalani dengan baik,” tuturnya.

Kini, setelah resmi menyandang gelar Magister, Joko tidak melihat pencapaian tersebut sebagai garis akhir. Sebaliknya, ia menganggapnya sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus mengabdi dan memberikan manfaat bagi masyarakat melalui dunia pendidikan.

Kisah Joko Sairan menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: bahwa belajar adalah perjalanan sepanjang hayat. Tidak ada usia yang terlalu tua untuk menuntut ilmu, tidak ada keterlambatan bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin berubah.

Di tengah tantangan zaman yang terus berkembang, semangat seorang Tutor PKBM Al-Zaytun ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar, melainkan tentang membangun kualitas diri agar mampu memberi manfaat yang lebih luas bagi sesama.

Dan pada usia 49 tahun, Joko Sairan telah membuktikan bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas usia. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk terus melangkah, belajar, dan mengabdi.**


Indramayu, 3 Juni 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!