Ketika Belajar Tak Mengenal Usia: Dari Upacara Khidmat hingga Dialog Hangat tentang Gen Z
Oleh: Nurdiana (Tutor PKBM Al-Zaytun}
“Liburan boleh tiba, tetapi semangat belajar tidak boleh jeda.” Barangkali itulah pesan yang paling terasa pada wajah-wajah cerah warga belajar PKBM Al-Zaytun pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026. Di tengah suasana akhir semester yang biasanya dipenuhi rasa lega dan harapan baru, mereka berkumpul bukan sekadar untuk menutup kegiatan belajar, melainkan untuk merayakan perjalanan ilmu yang telah ditempuh selama satu semester penuh.
Bertempat di Lantai 1 Gedung Bazar Ma’had Al-Zaytun, hari terakhir pembelajaran sebelum libur panjang berlangsung dalam balutan suasana yang khidmat sekaligus hangat. Upacara penutupan semester dan kegiatan edukatif yang menyertainya menjadi mozaik indah yang memperlihatkan bahwa belajar tidak mengenal usia, dan ilmu selalu menemukan jalannya untuk menyapa siapa saja yang mencarinya.

Ketika Upacara Menjadi Ruang Refleksi
Pukul 08.30 WIB, seluruh warga belajar telah memenuhi ruangan dengan tertib. Upacara pembukaan pembelajaran sekaligus penutupan semester dimulai di bawah panduan Nurbaeti yang bertugas sebagai Master of Ceremony.
Dengan penuh tanggung jawab, petugas upacara dari kelas C2 menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh percaya diri.
Saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang, disusul Mars dan Hymne PKBM, suasana berubah menjadi penuh semangat. Tidak hanya menjadi rutinitas seremonial, setiap bait lagu seolah mengingatkan bahwa pendidikan adalah bagian penting dari perjalanan membangun bangsa.
Momentum semakin bermakna ketika Sapta Janji Dharma Bakti dibacakan bersama. Kalimat-kalimat yang terucap bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ikrar yang menguatkan tekad untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dalam amanatnya, Pembina Upacara, Ustadz Hartono, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas upacara yang telah menjalankan tugas dengan sangat baik. Beliau juga mengucapkan selamat kepada warga belajar yang telah dinyatakan lulus maupun yang berhasil naik kelas.
Lebih dari sekadar menyampaikan informasi akademik, Ustadz Hartono menitipkan pesan yang menyentuh hati. Ia mengingatkan bahwa proses belajar tidak berhenti ketika sekolah libur. Semangat mencari ilmu harus tetap hidup, baik di rumah, di lingkungan masyarakat, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir amanatnya, beliau mengumumkan masa libur sekolah yang berlangsung mulai 31 Mei hingga 4 Juli 2026.
Upacara yang berakhir pukul 09.00 WIB itu kemudian dilanjutkan dengan sesi dokumentasi dan foto ijazah bagi warga belajar Paket A kelas 6 dan Paket B kelas 9.
Momen sederhana itu menjadi penanda perjalanan panjang yang telah mereka lalui, sekaligus gerbang menuju jenjang pendidikan berikutnya.

Belajar Menjadi Orang Tua di Era Generasi Z
Selepas suasana formal upacara, nuansa kegiatan berubah menjadi lebih santai dan penuh keakraban. Namun semangat belajar tetap menyala.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAI Al-Azis (Institut Agama Islam Al-Zaytun Indonesia) hadir berbagi ilmu kepada seluruh warga belajar Paket A, B, dan C.
Kegiatan dibuka oleh Nurrohmah yang bertindak sebagai MC sekaligus tutor PKBM Al-Zaytun. Setelah itu, panggung edukasi diberikan kepada dua mahasiswa KPI, Umar Sahid dan Difana Safitri.
Materi yang diangkat terasa sangat dekat dengan kehidupan para peserta. Mengingat sebagian besar warga belajar merupakan para ayah dan ibu yang telah berkeluarga, tema “Seni Berkomunikasi dalam Keluarga: Menghadapi Anak Gen Z” menjadi pilihan yang sangat relevan.
Dengan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami, Umar dan Difana menjelaskan pentingnya komunikasi yang sehat dalam keluarga. Mereka mengajak peserta memahami karakteristik Generasi Z yang tumbuh di tengah derasnya arus teknologi dan media digital.
Tidak sedikit peserta yang mengangguk-angguk sambil tersenyum ketika berbagai contoh komunikasi sehari-hari dibahas. Mulai dari cara menyampaikan nasihat kepada anak, membangun kedekatan emosional, hingga mengurangi kesalahpahaman yang sering muncul akibat perbedaan cara pandang antargenerasi.

Gelak Tawa yang Menjadi Jembatan Pembelajaran
Bagian paling menarik terjadi ketika sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Ruangan yang semula tenang mendadak hidup oleh berbagai pertanyaan, pengalaman pribadi, dan kisah-kisah keluarga yang dibagikan para peserta.
Satu per satu warga belajar menyampaikan tantangan yang mereka hadapi dalam mendampingi anak-anak di era digital. Ada yang bertanya tentang kebiasaan anak bermain gawai, ada pula yang berbagi pengalaman sulitnya mengajak anak berdialog secara terbuka.
Suasana menjadi semakin cair ketika celetukan-celetukan khas para ibu memancing gelak tawa seluruh peserta. Tawa yang pecah berkali-kali itu bukan sekadar hiburan, melainkan bukti bahwa proses belajar dapat berlangsung dengan menyenangkan dan membahagiakan.
Di balik canda dan tawa tersebut, tersimpan pelajaran berharga.
Para peserta memperoleh wawasan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan keluarga mereka. Ilmu yang didapat hari itu terasa dekat, membumi, dan menjawab kebutuhan nyata yang mereka hadapi setiap hari.
Pulang dengan Senyum dan Harapan Baru
Tepat pukul 11.00 WIB, seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Namun kehangatan yang tercipta sepanjang pagi masih terasa kuat.
Sebelum meninggalkan lokasi, para warga belajar saling berjabat tangan, bermaaf-maafan, dan mengucapkan selamat menikmati masa libur. Ada rasa haru yang menyelinap di antara senyum dan canda yang mengiringi perpisahan sementara itu.
Setelah melewati berbagai aktivitas pembelajaran dan ujian semester genap yang menguras tenaga dan pikiran, kini mereka dapat menikmati waktu istirahat bersama keluarga. Namun mereka pulang bukan hanya membawa rasa lega, melainkan juga membawa bekal ilmu, pengalaman, dan semangat baru.
Hari itu menjadi bukti bahwa pendidikan bukan sekadar soal nilai, ijazah, atau kenaikan kelas. Pendidikan adalah tentang bertumbuh sebagai manusia, memperbaiki diri, mempererat hubungan dengan sesama, dan menyalakan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Maka ketika langkah kaki mereka meninggalkan Gedung Bazar Ma’had Al-Zaytun, yang mereka bawa bukan hanya rencana liburan panjang. Mereka membawa keyakinan bahwa setiap ilmu yang dipelajari hari ini akan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup esok hari.
Selamat berlibur, warga belajar PKBM Al-Zaytun. Sampai berjumpa kembali pada 4 Juli 2026 dengan semangat baru, harapan baru, dan kelas yang baru.**
Indramayu, 1 Juni 2026
——–
![]()
