Membangun Peradaban dalam Qurban: Ketika Daging Dibagikan Bersama Martabat Kemanusiaan
Oleh : Ali Aminulloh
Di banyak tempat, hari raya qurban kerap menghadirkan dua wajah sekaligus: kebahagiaan dan ironi. Di satu sisi, gema takbir mengalun penuh syukur. Namun di sisi lain, masih tampak antrean panjang, kerumunan yang saling berdesakan, bahkan wajah-wajah lelah yang harus mempertaruhkan harga diri demi mendapatkan beberapa kilogram daging. Qurban yang semestinya menjadi simbol kemuliaan manusia, kadang justru berubah menjadi panggung yang mempertontonkan kesenjangan sosial.
Padahal, sejak awal sejarahnya, qurban hadir sebagai lompatan besar peradaban manusia.
Islam datang menghapus tradisi pengorbanan manusia yang pernah hidup dalam berbagai peradaban kuno. Ritual persembahan yang dahulu menjadikan manusia sebagai korban atas nama kekuatan besar, digantikan dengan hewan ternak. Itu bukan sekadar perubahan teknis ibadah, melainkan revolusi kemanusiaan. Dari yang tidak manusiawi menuju yang manusiawi. Dari penghilangan nyawa manusia menuju penghormatan terhadap martabat manusia.

Namun hari ini, tantangan peradaban itu muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Bukan lagi tubuh manusia yang dikorbankan, melainkan kehormatan dan harga dirinya. Demi mendapatkan daging qurban, sebagian orang harus rela berdesak-desakan, berpanas-panasan, bahkan menanggung rasa malu di hadapan keramaian. Kemiskinan terkadang dipertontonkan tanpa sadar. Kekayaan pengurban terlihat mencolok di hadapan kepapaan penerima. Akibatnya, qurban kehilangan sebagian ruh kemanusiaannya.
Di tengah fenomena itulah, Ma’had Al Zaytun memberikan pelajaran penting tentang bagaimana qurban dapat dijalankan sebagai jalan membangun peradaban.

Sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi serta perdamaian menuju masyarakat yang sehat, cerdas, dan manusiawi, Al Zaytun mempraktikkan pelaksanaan qurban dengan sistem yang tertata, rapi, dan penuh penghormatan kepada penerima manfaat.
Semua dimulai dari pendataan mustahik. Pendataan dilakukan oleh pihak-pihak yang benar-benar memahami kondisi masyarakat, seperti pengurus Jamaah Kabatullah Indonesia (JKI), anggota P3KPI (Perkumpulan Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia), serta pihak-pihak yang ditunjuk. Data tersebut kemudian dilaporkan dan diajukan kepada Syaykh Al Zaytun sebagai dasar pelaksanaan distribusi qurban.
Setelah itu, dibuatlah kupon pengambilan daging yang dibagikan dua hari sebelum pelaksanaan. Para mustahik pun telah diberi informasi secara jelas mengenai waktu dan titik kumpul, sehingga tidak terjadi kerumunan yang tidak tertata.
Yang menarik, bantuan yang diberikan bukan hanya daging qurban sebanyak dua kilogram, tetapi juga beras lima kilogram. Sebab, qurban bukan hanya tentang membagikan daging, melainkan memastikan masyarakat dapat benar-benar menikmati hidangan dan kebahagiaan hari raya bersama keluarganya.

Distribusi pun dilakukan dengan penuh penghormatan. Daging dan beras dihantarkan ke titik-titik yang telah ditentukan. Kegiatan diawali dengan basmalah. Para petugas menyampaikan salam dari Syaykh Al Zaytun, lalu mendoakan para penerima agar diberikan kesehatan, rezeki yang berkah dan melimpah, serta anak keturunan yang saleh dan salehah.
Suasana kemudian dilanjutkan dengan doa bersama untuk Syaykh Al Zaytun, keluarga besar Al Zaytun, dan bangsa Indonesia agar senantiasa diberikan keberkahan dan kesejahteraan. Setelah itu, perwakilan mustahik diberikan kesempatan menyampaikan prakata.
Pembagian dilakukan satu per satu berdasarkan urutan kedatangan dengan tertib dan penuh penghormatan. Setiap penyerahan diawali dengan basmalah dan ijab kabul sederhana yang disertai doa. Tidak ada teriakan. Tidak ada desakan. Tidak ada wajah yang dipermalukan.
Yang hadir justru senyum, doa, dan rasa persaudaraan.
Di akhir kegiatan, seluruh penerima bersama-sama mengucapkan terima kasih kepada Syaykh Al Zaytun. Rangkaian acara kemudian ditutup kembali dengan basmalah.
Inilah qurban yang membangun peradaban.
Qurban yang tidak hanya memotong hewan, tetapi juga memotong ego, kesombongan, dan cara pandang yang merendahkan manusia. Qurban yang menghadirkan kegembiraan tanpa melukai harga diri. Qurban yang membuat semua orang pulang dengan senyum: membawa daging, membawa beras, dan yang lebih penting, membawa rasa dimuliakan sebagai manusia.**
Indonesia, 28 Mei 2026
——
![]()
