Pelepasan Siswa SMK NU Kaplongan Indramayu, Dari Inklusivitas Budaya Hingga Mobilitas Vertikal


*PELEPASAN SISWA SMK NU KAPLONGAN INDRAMAYU, DARI INKLUSIVITAS BUDAYA HINGGA MOBILITAS VERTIKAL*

Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris MUI kab Indramayu.

Acara pelepasan siswa siswi SMK NU KAPLONGAN, 23 Mei 2026 yang penulis hadir langsung di Ballroom Yayasan Darul Ma’arif KAPLONGAN menghadirkan apa yang disebut Alvin Toffler dalam teori transformasi budaya sebagai “cultural shock”, sebuah lompatan” budaya.

Cara Dr.Tobroni, Kepala Sekolah SMK NU KAPLONGAN, mengkonstruksi acara “pelepasan” dibuka dengan tarian kolosal “melayu” dengan lagu hit langgam melayu berjudul “Laila Canggung” yang apik dan rancak – itulah yang penulis sebut “cultural shock”, lompatan budaya.

Tarian melayu di atas boleh jadi tak penting bagi khalayak umum tapi peristiwa transformasi budaya sekecil apapun misalnya di tangan Gus Dur yang selalu menulis hal hal kecil tentang prilaku kiai kampung dari sisi “antropologi budaya” menjadi lanskap “inklusivitas”, sebuah keterbukaan lintas budaya.

Itulah perspektif pertama penulis saat menghadiri acara “pelepasan” siswa siswi SMK NU KAPLONGAN Indramayu kemarin mengirim sebuah pesan simbolik tentang keberanian melakukan “lompatan” inklusivitas lintas budaya.

Perspektif kedua tak kalah pentingnya adalah saat diumumkan siswa siswi berprestasi umumnya dari daerah daerah sekitar di mana lembaga pendidikan NU KAPLONGAN berdiri dan menampung minat pendidikan mereka.

Ini menandai bahwa keberadaan lembaga pendidikan NU KAPLONGAN menjadi titik epincentrum bagi lingkungan sosialnya, mampu menyediakan lembaga pendidikan sehingga menjadi pemantik “mobilitas vertikal” tentang kesadaran pentingnya pendidikan

Bagi penulis yang relatif intens dari jarak dekat mengenal H. Dedi Wahidi, pendiri dan desainer Lembaga pendidikan NU KAPLONGAN tentu tidak kaget. Beliau memang “la raiba fih”, tidak diragukan basis ke NU an baik latar belakang keluarga, jejak pendidikan dan aktivisme politiknya.

Tapi cara pandang beliau “open minded”, dalam kaidah NU disebut “Almuhafadloh ‘ala al.qodimish Sholih wal Alkhdu bi jadidil Aslah”, merawat tradisi yang baik dalam keseimbangan “open minded” mengambil hal hal lebih baik dari lintas kultural dan keormasan.

Yang hendak penulis garisbawahi dalam tulisan singkat ini tentang lembaga pendidikan NU KAPLONGAN dari sisi antropologi budaya dan transformasi sosial adalah :

Pertama, injeksi lompatan transformasi budaya bekerja dalam ekosistem pendidikan NU KAPLONGAN di mana mayoritas mereka bertumbuh dalam keluarga Jawa dan ekosistem sosial Jawa hingga membentuk diri dalam cara pandang “Jawa centris”, menyempit dengan potensi “intoleran” terhadap suku bangsa lain.

Generasi penari lagu Melayu yang tampil di acara tersebut dan para siswa siswi yang “dilepas” alias lulus dari jenjang pendidikan SMK NU KAPLONGAN dalam kategori usia disebut generasi “Z” atau umum disebut “genz”, kelompok generasi dibawah usia generasi “milenial”.

Mereka lahir dan bertumbuh dalam ekosistem media sosial yang dicirikan dalam penelitian Boston Consulting Group (BCS) gampang bosan, “hidup tanpa gadget seolah mati” (:”No gadget no life”), nstan, dan mudah berkerumun dibentuk algoritma digital. Itulah potensi “intoleransi”.

Temuan suvery duet peneliti Marcus Mezner dan Burhanudin Muhtadi (2018) memberikan affirmasi bahwa indeks toleransi sosial masyarakat Jawa relatif rendah jika kerja kerja kebudayaan tidak melakukan “lompatan” lintas budaya, terlebih generasi “genz” mudah dibentuk dalam kerumunan budaya oleh sistem algoritma digital.

Dalam perspektif inilah penulis meletakkan tarian “Melayu” dalam konstruksi lembaga pendidikan NU KAPLONGAN yang bertumbuh dalam dua ekosistem, yaitu Jawa dan NU tapi tidak kehilangan inklusivitas budaya di mana “melayu” jelas bukan Jawa dan bukan bagian dari budaya NU.

Kedua, jika 47 tahun silam, yakni tahun 1983 H. Dedi Wahidi tidak mengambil prakarsa mendirikan lembaga pendidikan bagi masyarakat sekitarnya, dalam imajinasi Dr. Anies Baswedan saat menjabat Mendikbud berkunjung ke lembaga pendidikan NU KAPLONGAN, sulit terjadi gerak “mobilitas vertikal”.

Dalam konstatasi Prof Soedjatmoko, Rektor Universitas PBB di Tokyo Jepang (1982) ini yang dimaksud “mobilitas vertikal”, artinya, makin tinggi rata rata pendidikan masyarakatnya makin tinggi potensi membuka jalan masa depannya.

“Pendidikan adalah instrument “social enginering”, rekayasa sosial. Semakin tinggi rata rata indeks pendidikan suatu bangsa, makin tinggi kualitas masyarakatnya, memberi alternatif jalan masa depan termasuk dalam kematangan demokrasi lintas budaya”, tulis Soedjatmoko

Jadi, nikmat Tuhan yang manalagi hendak didustakan dari keberadaan lembaga pendidikan NU KAPLONGAN atas kontribusinya terhadap indeks IPM Indramayu dengan bangunan “open minded” toleransi secara lintas budaya ?

Wassalam.


Indramayu, 23 Mei 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!