Perpusnas RI Resmi Meluncurkan Program Relawan Literasi Masyarakat 2026
Indramayu ,Jaya News.Com-
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) terus memperkuat gerakan literasi nasional melalui peluncuran program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026 yang digelar secara daring melalui Zoom pada Senin (18/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk para Relima yang berasal dari 322 kabupaten dan kota.
Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminudin Aziz, dalam sambutannya menegaskan bahwa penguatan literasi menjadi bagian penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, kecerdasan masyarakat saat ini tidak hanya dilihat dari pendidikan formal, tetapi juga dari kemampuan literasi yang dimiliki masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih menjadi tantangan besar karena berada pada kisaran angka 44 hingga 48. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam menghadapi tantangan pembangunan bangsa di masa depan.
“Literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi bagaimana masyarakat mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan memanfaatkannya untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Aminudin dalam kegiatan peluncuran RELIMA 2026.
Meski menghadapi efisiensi anggaran hingga hampir 48 persen yang berdampak pada sejumlah program bantuan, Perpusnas tetap berupaya mengoptimalkan gerakan literasi masyarakat melalui peran aktif para Relima di daerah. Para relawan didorong menjadi penggerak pemanfaatan bantuan buku dan aktivitas literasi agar lebih berdampak di tengah masyarakat.
Jumlah Relima tahun 2026 pun meningkat menjadi 360 orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Para relawan diharapkan lebih kreatif dan aktif dalam menjalankan program literasi di lapangan dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, komunitas, hingga sektor swasta.
Salah satu Relima Kabupaten Indramayu, Ahmad Khoeri, menilai gerakan optimalisasi literasi masyarakat harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kebijakan. Menurutnya, pembangunan literasi tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan kebijakan yang berpihak pada penguatan budaya baca dan ruang belajar masyarakat.
“Gerakan optimalisasi literasi di masyarakat harus mendapat perhatian penting dari para pemangku kebijakan. Karena ketika masyarakat sadar literasi, tentu pembangunan bangsa akan lebih unggul, masyarakat menjadi lebih kritis, dan generasi muda akan lebih siap menuju Generasi Emas 2045,” kata Ahmad Khoeri.
Ia juga menilai peran Relima bukan sekadar menjalankan program membaca, tetapi membangun kesadaran masyarakat agar literasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, literasi yang kuat akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, sosial, hingga ekonomi masyarakat.
Peluncuran RELIMA 2026 turut dirangkaikan dengan pengukuhan Duta Baca Indonesia Tahun 2026, peluncuran aplikasi INLISLite versi 3.3, serta gelar wicara literasi bertema “Relima 2026: Kolaborasi untuk Gerakan Literasi Berdampak”. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan yel-yel para relawan literasi dari seluruh Indonesia sebagai simbol semangat kolaborasi membangun budaya baca masyarakat.**
(Wari)
——
![]()
