Bidan: Yang Pertama Menyambut Kehidupan (Refleksi Hari Bidan Internasional, 5 Mei)


Bidan: Yang Pertama Menyambut Kehidupan

(Refleksi Hari Bidan Internasional, 5 Mei)

Oleh Ali Aminulloh

Tangis pertama seorang bayi sering terdengar nyaring, memecah sunyi, mengundang haru, lalu disambut senyum keluarga yang lega. Namun sebelum tangis itu menjadi tanda kehidupan, ada satu sosok yang kerap luput dari perhatian: perempuan yang berdiri di sisi ibu, menenangkan, memandu, berjaga, dan memastikan batas tipis antara hidup dan mati dapat dilalui dengan selamat.
Dialah bidan.

Ia bukan tokoh yang masuk dalam album kenangan keluarga. Namanya sering tak tercatat dalam cerita panjang seorang anak. Tetapi justru tangannyalah yang pertama menyentuh tubuh manusia ketika memasuki dunia. Sebelum seseorang mengenal siapa pun, baik guru, pemimpin, bahkan negaranya sendiri, ia lebih dulu disambut oleh bidan.

Maka Hari Bidan Internasional setiap 5 Mei sesungguhnya bukan sekadar seremoni profesi kesehatan. Ia adalah pengingat bahwa peradaban manusia dimulai dari ruang persalinan, dari sebuah perjuangan sunyi yang sering hanya diisi oleh erang ibu, doa keluarga, dan keteguhan seorang bidan. Organisasi bidan dunia, International Confederation of Midwives, bahkan mengangkat tema tahun 2026 “One Million More Midwives”, sebuah alarm keras bahwa dunia masih kekurangan hampir satu juta bidan untuk menjamin keselamatan ibu dan bayi.

Ironinya, di negeri yang saban tahun lantang berbicara tentang generasi emas, profesi yang menjaga pintu masuk generasi itu justru belum sepenuhnya ditempatkan pada martabat yang semestinya.

Dalam Trilogi Kesadaran yang digagas Syaykh Al Zaytun, manusia dituntut memiliki kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Tiga kesadaran ini terasa sangat relevan ketika menatap nasib bidan di Indonesia, sebab profesi ini bukan sekadar soal medis, melainkan menyangkut pandangan bangsa terhadap kehidupan itu sendiri.

Kesadaran filosofis mengajarkan bahwa setiap tindakan manusia harus berangkat dari pemahaman mendalam tentang makna keberadaan. Dalam konteks kebidanan, makna itu sangat jelas: bidan menjaga titik awal kehidupan. Mereka bukan sekadar membantu persalinan, melainkan memastikan seorang ibu tetap hidup untuk memeluk bayinya, dan seorang bayi mendapat hak pertamanya untuk bernapas.

Di ruang itulah sesungguhnya masa depan bangsa dipertaruhkan.

Namun betapa sering bangsa ini melupakan hal mendasar tersebut. Bidan dituntut siaga dua puluh empat jam, harus sigap menghadapi komplikasi, harus tenang menghadapi kepanikan keluarga, harus cermat mengambil keputusan, tetapi penghargaan yang diberikan kerap tidak sebanding dengan beban psikologis maupun risiko profesinya. Mereka menjadi profesi yang dibutuhkan pada saat genting, tetapi kerap dilupakan ketika sistem berbicara soal kesejahteraan.

Kesadaran ekologis menuntut manusia mampu memahami dan menaklukkan tantangan lingkungan. Pada titik inilah perjuangan bidan Indonesia sesungguhnya begitu getir.

Di kota besar, persalinan mungkin terjadi di ruang steril dengan lampu terang dan alat lengkap. Namun di banyak pelosok negeri, kelahiran sering berlangsung di rumah kayu yang sempit, di pulau terpencil yang hanya bisa dijangkau perahu, di pegunungan yang harus ditempuh berjam-jam, bahkan di wilayah banjir yang memutus akses ambulans.

Ketika hujan turun, jalan berubah lumpur, listrik padam, sinyal hilang, bidan tetap harus datang.

Mereka menenteng tas persalinan menembus gelap, menyeberangi sungai, atau dibonceng motor seadanya demi satu tujuan: jangan sampai ibu itu melahirkan sendirian.

Tidak sedikit bidan desa yang menjadi satu-satunya harapan masyarakat. Saat dokter tak tersedia, rumah sakit terlalu jauh, dan kendaraan sulit didapat, bidanlah yang hadir paling dulu. Mereka berhadapan bukan hanya dengan darah dan tangis, tetapi juga dengan alam yang tidak ramah.

Sayangnya, negara acap kali hanya mengandalkan heroisme mereka tanpa sungguh-sungguh menghadirkan dukungan. Fasilitas minim, alat kesehatan terbatas, insentif daerah terpencil tersendat, bahkan perlindungan kerja sering kali tidak jelas. Seolah-olah pengabdian adalah alasan yang cukup untuk menutup semua kekurangan sistem.

Padahal pengabdian tidak seharusnya dijadikan dalih untuk membiarkan ketidakadilan.

Kesadaran sosial, pilar ketiga dalam trilogi tersebut, mengingatkan bahwa manusia hidup dalam jejaring saling menolong. Bidan di Indonesia menjalankan fungsi sosial yang jauh melampaui profesi medis.

Mereka menjadi tempat bertanya bagi ibu muda yang kebingungan menyusui. Mereka menjadi penyuluh gizi di posyandu. Mereka mendampingi keluarga miskin yang cemas memikirkan biaya persalinan. Mereka menjadi saksi pernikahan dini, anemia ibu hamil, stunting, hingga depresi pasca melahirkan. Di desa-desa, bidan bahkan sering menjadi orang pertama yang dipanggil ketika keluarga panik, jauh sebelum masyarakat berpikir mendatangi rumah sakit.

Dengan kata lain, bidan adalah wajah negara yang paling dekat dengan rahim rakyatnya.

Dari tangan bidan, kita bisa membaca apakah negara sungguh hadir atau hanya pandai membuat slogan kesehatan.

Sayangnya, banyak bidan masih bergulat dengan status honorer yang tak menentu, jam kerja tanpa batas, tugas administratif bertumpuk, serta tekanan psikologis yang jarang dibicarakan. Mereka memikul tanggung jawab besar, tetapi tidak selalu mendapatkan perlindungan hukum dan sosial yang memadai ketika terjadi komplikasi.

Ini adalah ironi besar.

Bangsa ini ingin menurunkan angka kematian ibu. Bangsa ini ingin mencegah stunting. Bangsa ini ingin melahirkan generasi unggul. Tetapi bangsa ini belum sepenuhnya menyejahterakan perempuan-perempuan yang bekerja di garis pertama semua agenda tersebut.

Kita sering mengucapkan selamat Hari Bidan, mengunggah poster apresiasi, atau menuliskan kata terima kasih. Namun sesungguhnya bidan tidak membutuhkan pujian seremonial semata. Mereka membutuhkan sistem yang berpihak: pendidikan yang kuat, alat yang lengkap, insentif yang adil, transportasi yang layak, perlindungan hukum, dan penghormatan sosial.

Sebab di ruang persalinan itu, bidan tidak sedang sekadar membantu seorang ibu melahirkan.

Ia sedang menjaga agar bangsa ini tetap memiliki masa depan.

Setiap bayi yang menangis untuk pertama kali adalah simbol harapan baru. Tetapi di balik tangis itu, ada langkah kaki bidan yang sering tak terdengar, ada peluh yang tak dihitung, ada kecemasan yang ditelan sendiri, ada pengabdian yang terlalu lama dianggap biasa.

Mereka adalah orang pertama yang menyambut kehidupan.

Sudah sepatutnya negeri ini berhenti menjadikan mereka sekadar pelengkap statistik kesehatan, lalu mulai menempatkan mereka sebagai penjaga peradaban yang sesungguhnya.**


Indonesia, 5 Mei 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!