Terpilihnya H.Daniel Muttaqin Sebagai Ketua DPD Partai GOLKAR Jawa Barat, Sebuah Perspektif Dan Analisis


TERPILIHNYA H. DANIEL MUTTAQIN SEBAGAI KETUA DPD PARTAI GOLKAR JAWA BARAT, SEBUAH PERSPEKTIF DAN ANALISIS

Oleh : H. Adlan Daie
Analis politik, Sekretaris Umum MUI Indramayu.

Perspektif dan analisis penulis meletakkan terpilihnya H. Daniel Muttaqin, Anggota DPR RI, sebagai ketua DPD partai Golkar Jawa Barat periode 2026 – 2031 menarik dielaborasi lebih mendalam dan kontekstual, setidaknya dalam teori Bend Anderson tentang kekuatan “imajinasi politik” untuk proyeksi imajinasi dinamika elektoral pemilu tahun 2029.

Menarik tentu bukan sekedar H. Daniel Muttaqin relatif muda memimpin partai sebesar partai Golkar di Jawa Barat – bahkan terpilih secara aklamasi – tapi revelansinya tentang kebutuhan imajinasi masa depan elektoral partai Golkar di Jawa Barat di mana populasi pemilih di Jawa Barat sebesar 19%, terbesar dari seluruh provinsi di Indonesia.

H. Daniel Muttaqin secara “trah” politik tidak bisa dilepaskan dari Ayahandanya, H. Yance, bupati Indramayu (2000-2010) dan ketua DPD partai Golkar Jawa Barat (2009-2015). Ia terasah dan terbentuk dalam ekosistem sosial politik Ayahandanya, tokoh politik “historis” paling berpengaruh dalam 20 tahun pertama di era reformasi di panggung politik Indramayu.

Memang dalam siklus “sunnatullah” setiap jaman ada pemimpinnya dan setiap pemimpin memiliki batas garis orbit jamannya dengan segala dinamika dan konteksnya tapi pengaruh ekosistem sosial masa lalu adalah titik titik pijak dan simpul membingkai imajinasi politik dalam adaptasi dinamika politik masa depan (Q.S. Al Hasyr,18).

Dalam konstruksi itulah dalam perspektif penulis H. Daniel Muttaqin mewarisi karakter politik Ayahandanya, yakni “Risk taker”, sebuah keberanian mengambil resiko politik hingga ia berani dalam usia muda tampil mencalonkan diri sebagai ketua DPD partai Golkar Jawa Barat dan berhasil terpilih secara aklamasi, sebuah capaian politik “eksponensial” dari sudut pandang usianya yang relatif muda.

Partai Golkar Jawa Barat dalam pemilu 2024 dari sisi akumulasi raihan elektoral di posisi ketiga setelah partai Gerindra dan PKS dengan Raihan kursi DPRD Jawa Barat sama dengan PKS (19 kursi) tertinggal satu kursi dari partai Gerindra (20 kursi) pemenang pemilu di Jawa Barat. Ini mencerminkan sebaran elektoral partai Golkar lebih merata di setiap daerah pemilihan.

Di bawah kepemimpinan H. Daniel Muttaqin partai Golkar di Jawa Barat memiliki pra syarat dan modal politik untuk memenangkan pemilu 2029 baik raihan akumulasi elektoral maupun dalam jumlah konversi ke raihan kursi DPRD.

Infrastruktur sosial, ketrampilan politik, kepiawaian memainkan isu isu secara taktis, kemampuan orkestrasi daya tumpu sumber logistik dan kemapanan ekosistem sosial politik adalah variabel variabel kekuatan partai Golkar di atas rata rata partai partai politik lain, tak terkecuali di Jawa Barat.

Kekuatan partai Golkar adalah posisinya sebagai partai “paling tengah”, atau dalam istilah Willem Liddle “The melting pot party”, titik kumpul keragaman “aliran aliran” politik baik ideologis maupun programatis. Dengan kata lain, partai Golkar sulit dikaitkan dengan Anasir “kiri”, mustahil dituding “anti Pancasila” dan tidak mungkin dibingkai dan dilabeli sebagai partai “anti agama”.

Itulah kekuatan partai Golkar dan secara praksis terletak pada kemampuan teknokrasi “realisme pragmatism”, yang disebut oleh partai Golkar dengan istilah “kekaryaan”, tidak resisten terhadap beragam segmentasi pemilih dari kelas sosial petani penggarap hingga mantan birokrat, dari aktivis beragam “aliran” keislaman, dari para pensiunan TNI/polri lintas agama hingga komunitas milenial “hijab syar’i”.

Pra syarat dan modal politik partai Golkar di atas merujuk pada variabel indeks politik yang dikonstruksi Jeffery Wonters, pemikir politik kontemporer disebut menyatunya “political of mind” (politik gagasan), “political behavior” (ekosistem politik) dan “skill politics” (ketrampilan politik) dalam satu frame orkestrasi politik.

Partai Golkar memiliki tingkat “awareness” atau pengenalan yang luas di akar rumput, rekam jejak yang panjang dalam skill teknokrasi politik kekuasaan, adaptif dalam dinamika politik gagasan dan posisi poltik “tengah” , yakni politik kekaryaan, sebuah simpul simpul keragaman “politik aliran” yang berhimpun di dalamnya.

Problem yang tersisa tentu tidak memadai bagi partai Golkar di Jawa Barat di bawah kepemimpinan H. Daniel Muttaqin untuk membangun spirit memenangkan pemilu 2029 di Jawa Barat sekedar pada keunggulan keunggulannya di atas dengan desain tata kelola yang hanya rapi tapi birokratis melainkan harus dinamis, responsif dan sedikit manuver “genit”.

Partai Golkar dalam dinamika kontestasi elektoral pemilu 2029 harus memiliki “diferensiasi politik”, sebuah tampilan pembeda dari partai partai lain, khususnya partai Gerindra dan Partai Nasdem, dua partai “turunan Golkar” yang memiliki kedekatan “irisan elektoral”.

Rejim politik elektoral saat ini berdasarkan sejumlah riset politik elektoral memang meniscayakan partai Golkar hadir dengan hentakan hentakan politik tidak rutin di ruang ruang publik dan mampu mentransformasikan komunikasi politiknya dalam keakraban bahasa “gen Z”, generasi Z. (Pemilih usia 17 s d 29 tahun).

Di sinilah imajinasi politik H. Daniel Muttaqin dalam memimpin partai Golkar Jawa Barat diletakkan dalam proyeksi elektoral untuk memenangkan pemilu 2029 di Jawa Barat dengan variabel pra syarat dan modal sosial di atas


Selamat H. Daniel Muttaqin, mengemban amanah baru untuk maslahat kolektif publik melalui partai Golkar Jawa Barat.**

Wassalam.


Indramayu, 9 April 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!