Fajar Paskah: Masihkah Ada Ruang untuk Kemanusiaan?
(Refleksi Hari Paskah, 5 April)
Oleh: Ali Aminuloh
Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Di saat lonceng gereja berdentang menyambut fajar Paskah 5 April 2026, di belahan bumi lain, deru mesin perang masih menjadi melodi harian yang memilukan. Paskah tahun ini hadir bukan sekadar sebagai ritual tahunan, melainkan sebuah interupsi radikal di tengah carut-marut peradaban yang sedang mengalami krisis moral akut.
Kesaksian dari Seberang Iman
Sebagai bangsa Indonesia, sekaligus seorang akademisi Muslim, saya melihat Paskah melampaui batas-batas liturgis gerejawi. Dalam kacamata intelektual dan spiritualitas Islam, peristiwa ini merupakan pengingat akan kemenangan kebenaran di atas penindasan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa spirit Paskah yaitu pengorbanan dan pembaruan. Ini adalah oase di tengah gurun kebencian global. Paskah bukan hanya milik umat Kristiani, tapi merupakan pesan universal bagi siapa saja yang merindukan keadilan dan perdamaian di tengah ancaman Perang Dunia yang kian nyata.
Kebangkitan di Tengah Reruntuhan
Paskah 2026 mengangkat tema “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” (2 Korintus 5:17). Tema ini menjadi sangat krusial ketika wajah dunia tercoreng egoisme kekuasaan. Jika Paskah secara historis berakar dari Pesach, yaitu pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, maka hari ini ia harus dimaknai sebagai pembebasan dari perbudakan kebencian. Di tengah dentuman peluru, Paskah memanggil kita untuk memulihkan martabat manusia yang seringkali dikorbankan demi ambisi politik.
Krisis Moral dan Trilogi Kesadaran
Kita menghadapi dekadensi moral di mana kebohongan dipoles dan ketidakadilan dinormalisasi. Dalam konteks ini, gagasan Trilogi Kesadaran dari Syaykh Al-Zaytun menjadi jembatan refleksi lintas iman yang relevan:
Kesadaran Filosofis: Paskah mengajak kita kembali pada hakikat bahwa manusia diciptakan untuk hidup, bukan untuk mematikan. Kebangkitan adalah simbol kemenangan nilai luhur atas insting destruktif.
Kesadaran Ekologis: Simbol telur dan kelinci merujuk pada kehidupan alam. Pembaruan kemanusiaan tak lengkap tanpa pertobatan ekologis. Di saat perang merusak tanah dan udara, Paskah memanggil kita menjaga “rahim” bumi.
Kesadaran Sosial: Inilah esensi yang paling nyata. Kesadaran sosial menuntut kita bergerak dari kesalehan pribadi menuju kesalehan publik, seperti menolong yang tertindas tanpa memandang sekat agama.
Refleksi Bangsa Plural: Menjadi Saksi Kasih
Bagi kita di Indonesia, Paskah di tengah masyarakat yang majemuk adalah momentum untuk merajut kembali tenun kebangsaan yang sempat koyak. Pluralitas bukan kutukan, melainkan laboratorium kasih yang nyata.
Simbol Telur Paskah yang keras di luar namun menyimpan kehidupan di dalam, adalah metafora bagi jiwa kita. Meskipun kita berbeda dalam balutan luar (agama, ras, golongan), kita semua membawa benih kemanusiaan yang sama.
Menjadi “Manusia Baru” sesuai pesan Paskah 2026 berarti berani keluar dari gua mementingkan diri sendiri. Sebagai bangsa yang plural, Paskah mengajak kita untuk tidak hanya merayakan ritual, tapi menghidupi substansi: bahwa kasih harus lebih kuat dari benci, dan perdamaian adalah satu-satunya jalan menuju masa depan.
Selamat Paskah 2026 !. Semoga momentum ini benar-benar membarui kemanusiaan kita semua.**
Indonesia, 5 April 2026
—–
![]()
