Sudahkah Kita Meraih Esensi Mudik Lebaran?

Sudahkah Kita Meraih Esensi Mudik Lebaran?

Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME. (Dosen IAI Al-Azis)

Di tengah hiruk-pikuk Lebaran hari ini, jalanan dipenuhi kendaraan, media sosial penuh dengan potret kebahagiaan, dan meja-meja makan melimpah hidangan. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan sunyi yang jarang kita tanyakan: apakah kita benar-benar sedang menyambung, atau justru sekadar menjalankan tradisi tanpa makna?

Mudik telah menjadi ritual tahunan. Orang rela menempuh ratusan kilometer, menghabiskan biaya besar, bahkan berdesakan demi satu tujuan: pulang ke kampung halaman. Rumah-rumah kembali ramai, tawa pecah di ruang tamu, tangan saling berjabat, dan kata “maaf” diucapkan berulang kali. Tapi seringkali, semua itu berhenti di permukaan: sekadar formalitas, tanpa benar-benar menyentuh hati.

Padahal dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahim. Kata yang digunakan bukan sekadar “tidak memutus”, tetapi menyambung. Ini sebuah tindakan aktif yang menuntut kehadiran, kepedulian, dan ketulusan. Dalam penjelasan para ulama seperti Imam An-Nawawi, silaturahim bukan hanya mengunjungi, tetapi juga mencakup memberi manfaat, menolong, menjaga komunikasi, bahkan menahan diri dari menyakiti. Artinya, silaturahim adalah kerja hati sekaligus kerja sosial.

Dalam kajian psikologi sosial modern, konsep ini sejalan dengan teori social bonding dan attachment theory yang dikembangkan oleh John Bowlby. Manusia secara fitrah membutuhkan keterikatan emosional yang aman. Hubungan keluarga yang hangat melahirkan rasa aman (secure attachment), yang menjadi fondasi kesehatan mental. Sementara dalam perspektif positive psychology yang dipopulerkan Martin Seligman, kualitas hubungan adalah salah satu faktor utama kebahagiaan manusia. Tanpa hubungan yang bermakna, keberhasilan materi sering kehilangan rasa.

Lebih jauh, tradisi Lebaran sesungguhnya bisa dibaca melalui kerangka yang lebih dalam, yakni Trilogi Kesadaran yang digagas oleh Syaykh Al-Zaytun: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial.

Pertama, kesadaran filosofis. Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan momen refleksi eksistensial: siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita kembali. Silaturahim dalam dimensi ini adalah upaya kembali kepada fitrah: membersihkan relasi dari ego, dendam, dan kesombongan. Ketika seseorang meminta maaf dengan tulus, sejatinya ia sedang menundukkan egonya dan mengakui keterbatasan dirinya sebagai manusia. Inilah titik di mana hubungan tidak lagi bersifat formal, tetapi menjadi jalan penyucian jiwa.

Kedua, kesadaran ekologis. Mudik bukan hanya pergerakan manusia, tetapi juga pergerakan kehidupan. Kota yang padat berkurang tekanannya, desa yang sunyi kembali hidup. Ekonomi mengalir dari pusat ke pinggiran, menciptakan keseimbangan baru. Dalam perspektif ini, silaturahim bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada ekosistem sosial-ekonomi yang lebih luas. Ia menghidupkan warung kecil, menggerakkan transportasi, dan menguatkan denyut kehidupan di kampung halaman.

Ketiga, kesadaran sosial. Inilah inti dari silaturahim itu sendiri. Dalam teori social capital yang dikemukakan Robert Putnam, jaringan hubungan dan kepercayaan adalah aset utama dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Ketika keluarga berkumpul, yang terbangun bukan hanya kehangatan, tetapi juga kepercayaan. Dari sinilah lahir peluang berupa informasi pekerjaan, usaha, bahkan kolaborasi. Rezeki seringkali mengalir bukan dari apa yang kita tahu, tetapi dari siapa yang kita kenal dan bagaimana kita menjaga hubungan itu.

Pada Senin, 23 Maret 2026, dalam suasana Lebaran yang hangat, saya berkesempatan bersilaturahim dengan kakak sepupu di Tasikmalaya, Dr. Asep Majdi Tamam, yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor III Universitas Cipasung. Pertemuan itu terasa sederhana, namun sarat makna, terlebih karena sudah lama kami tidak berjumpa. Dari beliau, saya belajar bahwa ketekunan dalam mengabdi pada ilmu bukan hanya menghadirkan keberhasilan finansial, tetapi juga keberkahan hidup yang lebih luas: pengakuan, penghormatan, dan eksistensi diri yang kuat di tengah masyarakat.

Apa yang beliau jalani sejalan dengan teori kebutuhan manusia yang dikemukakan Abraham Maslow. Setelah kebutuhan dasar seperti fisiologis dan rasa aman terpenuhi, manusia akan naik pada kebutuhan sosial (rasa memiliki), kebutuhan penghargaan (esteem), hingga puncaknya aktualisasi diri. Silaturahim seperti yang terjadi dalam pertemuan itu tidak hanya memenuhi kebutuhan sosial, yaitu rasa terhubung dan diterima, tetapi juga menguatkan kebutuhan akan penghargaan dan makna diri. Kita merasa diakui, dihargai, dan memiliki tempat dalam kehidupan orang lain.

Dalam perspektif ulama klasik, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar Al-Asqalani, makna “dilapangkan rezeki” dalam hadits tidak selalu berarti bertambah secara kuantitas, tetapi bisa juga berupa keberkahan seperti rasa cukup, tenang, dan bermanfaat. Sementara “dipanjangkan umur” tidak hanya secara biologis, tetapi juga dalam makna kebermaknaan hidup. Ini selaras dengan temuan psikologi modern: orang yang memiliki hubungan sosial yang kuat cenderung lebih sehat, lebih panjang umur, dan lebih bahagia.

Tradisi Lebaran di Indonesia sejatinya adalah manifestasi besar dari semua ini. Ia bukan sekadar budaya, tetapi sistem yang kompleks, yaitu menggabungkan nilai spiritual, psikologis, dan ekonomi sekaligus. Mudik menjadi jembatan yang menghubungkan kembali yang jauh, halal bihalal menjadi ruang rekonsiliasi, dan kebersamaan menjadi energi yang menghidupkan.

Namun di sinilah letak ujian sesungguhnya. Apakah kita pulang hanya untuk memenuhi kewajiban sosial, atau benar-benar ingin memperbaiki hubungan? Apakah kata “maaf” yang kita ucapkan hanya tradisi lisan, atau lahir dari kesadaran filosofis yang dalam, kesadaran ekologis yang luas, dan kesadaran sosial yang tulus?

Sebab ucapan tanpa ruh hanya akan lewat di telinga, tanpa pernah sampai ke hati.

Lebaran sejatinya bukan tentang baju baru, hidangan mewah, atau perjalanan panjang. Ia adalah momentum untuk merajut kembali yang sempat terputus, melembutkan yang sempat mengeras, dan menghidupkan kembali hubungan yang hampir mati. Di sanalah rezeki menemukan jalannya, dan kehidupan mendapatkan maknanya.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi, “sudah berapa rumah yang kita kunjungi?”, tapi “sudah berapa hati yang benar-benar kita sentuh?”

Karena pada akhirnya, yang membuat hidup terasa lapang bukanlah banyaknya harta, tapi luasnya hubungan yang kita jaga. Dan yang membuat hidup terasa panjang bukanlah jumlah tahun, tapi kedalaman makna yang kita isi di dalamnya.**


Indonesia, 27 Maret 2026
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!