Dialog Ramadhan di Katedral Manusia Pantas Belajar Pada Kesetiaan Burung Nuri Dalam Menjaga Kelestarian Sebatang Pohon
Penulis Jacob Treste
Wartawan Lepas
Dialog Ramadhan 2026 di Katedral Jakarta, 3 Maret 2026 mengusung topik “Peran Strategis Tokoh Agama Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan” yang diselenggarakan Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAAK) Keuskupan Agung Jakarta.
Acara Dialog Ramadhan 2026 ini dihadiri berbagai tokoh agama-agama berlangsung di Graha Pemuda, Katedral, Jakarta. Berkenan memberi tausiah Menteri Agama, Prof. Dr. Nazaruddin Umar., MA.
Menurut sahibul hajat, acara Dialog Ramadhan ini sengaja diselenggarka untuk dapat saling berbagi pengalaman dalam “Upaya Menjaga Keutuhan Alam Ciptaan” sebagai tempat hunian bersama.
Bahasa agama — sebagai amanah — ungkap Nazaruddin Umar dakam perspektif spiritual seperti alam yang menandai keberadaan Tuhan yang nyata.
Pemahaman terhadap Tuhan bagi masyarakat tradional dahulu Tuhan dipercaya ada dalam setiap diri manusia. Sedangkan sekarang, Tuhan dipercaya berada di langit. Jadi pemahaman tentang Tuhan selalu berubah dari satu jaman ke jaman berikitnya. Seperti halnya agama sekarang utamanya bagi kalangan gen-z adalah apa yajg tersaji secara viral di media sosial.
Karena itu, selama manusia tidak percaya bahwa bumi dan seisinya dianggap sesuatu yang tidak sakral, maka kerusakan di bumi akan terus terjadi.
Pungky Jiwandono yang memandu acara diskusi menampilkan dua nara sumber utama, Prof. Didik Supandi bersama Ignatius Kardinal Suharyo. Dan menurùt Didik Sùpandi, revolùsi indùstrì 4.0 dan 5.0 menjadi fase barù bagi manusia mengkompresi ruang menjadi begitu dekat.
Shallow ecology (ekologi dangkal) hanya fokus pada kepentingan manusia. Into deep ecology jauh lebih luas cakupannya, karena memahami hak hidup bukan semata-mata kepentingan manusia, tetapi juga hak milik makhluk hidup lainnya.
7 prinsip dasar Deep Ecology adalah deversity (keanekaragaman), complexity (kompleksitas), autonomy (otonomi), decentralisasi, symbiosis dan egalitarianisme (biosferik). Pada penghujung dialog, Sri Eko Sriyanto Galgendu berkenan memberikan “Kitab MA HA IS MA YA”, kepada Ignatius Kardinal Suharyo yang ikut termuat diantara 79 orang tokoh di dalam kitab yang dihasilkan dari monolog selama 20 jam non stop.
Kehadiran “Kitab MA HA IS MA YA” ini, tampak mempuntai keterkaitan secara tak langsung dengan
gerakan sekularisasi seperti yang disinggung oleh Nazaruddin Umar sebelumnya yang berdampak pada nilai-nilai spiritual yang tersublumslasi dalam bentuk material. Sehingga sumber daya alam yang juga sakral itu sepenuhnya hanya dipahami sebagai sumber daya alam akan terus menerus diekploitasi seperti yang terjadi di Indonesia dengan segenap birahi keserakahan tiada perduli pada kerusakan alam dan lingkungan hidup bagi semua makhluk yang ada.
Sementara Ignatius Kardinal Suharyo justru berkisah tentang seekor kijang yang sedang menjadi incaran seorang pemburu yang meleset membidikkan anak panahnya yang beracun, sehingga menyadar ke sebatang pohon yang ada didekatnya.
Alkisah, pohon yang terkena sasaran anak panah beracun sang pemburu itu, membuat pohon jadi meranggas layu terlulai terancam mati. Namun seekor burung nuri yang setia menjag pohon itu enggan untuk meninggalkan pohon yang malang itu. Keruan saja sang pemburu menjadi penasaran terhadap kesetiaan sang burung nuri yang teguh sikapnya itu.
Dongeng tentang pohon yang malang itu menggambarkan secara simbolik bahwa sebatang pohon pun harus dijaga dengan kesetiaan seperti yang dilakukan oleh burung nuri yang dapat dicontoh oleh manusia untuk tetap menjaga lingkungan hidupnya.**
Katedral, 3 Maret 2026
——-
![]()
