Perempuan Tak Beralas Kaki Dan Suara Bangsa Yang Terluka Di TIM Jakarta
JAKARTA-JAYA NEWS.COM – Peluncuran buku karya Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie,berjudul “Dari Mimpi Peradaban Menuju Lahirnya Bangsa Berkesadaran” dilangsungkan pada Selasa, 17 Juni 2025, Gedung Teater Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta,mulai jam 16.00 WIB hingga 18.30 WIB, menjadi saksi sebuah momen historis dalam lanskap intelektual dan kebangsaan Indonesia.
Di panggung yang diselimuti nuansa teatrikal dan penuh simbolisme, lahirlah buku terbaru karya Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie yang berjudul “Dari Mimpi Peradaban Menuju Lahirnya Bangsa Berkesadaran.”
Buku ini bukan sekadar kumpulan gagasan. Ia adalah jerit nurani, kegelisahan, dan pemberontakan intelektual seorang Connie terhadap nasib bangsa yang tak kunjung beranjak dari keterpurukan. Dalam suasana yang penuh haru dan reflektif, hadir para tokoh bangsa dari lintas latar: akademisi, politisi, aktivis, dan pemikir.
Di antara para undangan kehormatan, hadir pula utusan Syaykh Al Zaytun—Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS, MBA, CRBC, dan Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., ME—yang menempati kursi VVIP sebagai wujud penghormatan terhadap kontribusi mereka dalam perjuangan intelektual kebangsaan.
Nama-nama besar turut serta memeriahkan acara ini,diantranya Prof. Jimly Asshiddiqie, Anies Baswedan, Rieke Diah Pitaloka, Refly Harun, dan sederet tokoh lainnya.
Acara dibuka dengan lagu “Indonesia Pusaka” yang menyayat hati, disusul pembacaan puisi oleh Jordan, sang pembawa acara, yang menggambarkan semangat perlawanan pemikiran Connie atas ketidakadilan dan kekacauan bangsa.
Teater Pemikiran dan Keberanian Seorang Connie
Sebuah tirai panggung terbuka pelan-pelan. Seorang perempuan anggun, mengenakan kebaya hitam, berdiri tegak di tengah panggung tanpa alas kaki. Di sekelilingnya tergolek seonggok kain putih seperti kafan, dikelilingi lilin-lilin mati. Ia adalah Connie. Melalui gaya pembacaan teatrikal, ia membacakan bait-bait isi bukunya dengan penekanan emosional pada kalimat-kalimat tertentu—menyuarakan luka, harapan, dan keberanian.
Ketika Jordan bertanya mengapa ia tidak mengenakan alas kaki, Connie menjawab lugas, “Agar kita membumi.” Sebuah jawaban sederhana yang mengandung makna mendalam. Maka, Jordan pun melepas sepatunya, diikuti oleh semua pembicara yang tampil setelahnya. Sebuah isyarat simbolik bahwa di ruang pikir, semua setara.
Jenderal (Purn) Prof. Hendropriyono membuka sesi tanggapan. Ia menyoroti keberanian Connie, yang mampu menembus dinding negara adidaya seperti Rusia dan bahkan dipercaya oleh Presiden Vladimir Putin. Puti Guntur Soekarno menyoroti dua kata kunci dalam buku ini: “beradab” dan “berkesadaran.”
Akbar Faizal menyebut Connie sebagai perempuan tanpa urat takut. Ia mengenang saat Connie hadir dalam podcast-nya membahas isu sensitif tentang anggaran pertahanan nasional sebesar Rp1.760 triliun.
Sementara Soraya Haque, seorang doktor hukum forensik, menilai bahwa politik telah membuat negeri ini bising.
“Yang paling jujur adalah mayat,” katanya. Namun buku Connie, katanya, justru mampu membangkitkan jiwa bangsa yang hampir mati.
Sebagai penanggap terakhir, Rocky Gerung menyebut dirinya sebagai “filsuf forensik,” membedakan dirinya dari Soraya yang “dokter forensik.”
“Kalau dokter forensik membuat mayat bicara, filsuf forensik justru mempertanyakan mengapa orang hidup tak bisa bicara,” katanya. Ia memuji Connie sebagai perempuan “unstoppable” dalam dunia yang sering membungkam suara perempuan.
Epilog: Seruan Sunyi yang Menggetarkan Kesadaran
Sebelum acara ditutup, satu penanggap khusus menyoroti kerusakan alam akibat eksploitasi tambang yang brutal. Sebuah pengingat bahwa kesadaran bangsa juga harus mencakup kesadaran ekologis.
Sebagai bentuk apresiasi, sang penulis memberikan ukiran khas Jepara kepada para penanggap dan Jordan selaku pembawa acara.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan wawancara dengan media.
Peluncuran buku ini bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah panggung perlawanan. Sebuah ruang yang menghidupkan kembali nalar dan kesadaran. Connie Rahakundini Bakrie, dengan segenap jiwa dan pikirannya, telah menorehkan jejak berani. Ia mengingatkan kita bahwa sebuah bangsa tidak akan pernah menjadi besar jika kehilangan kesadaran atas dirinya sendiri. Di panggung TIM yang khidmat itu, kata-kata tak hanya dibaca—mereka menyala, menggugah, dan menghidupkan kembali mimpi peradaban.**”
Laporan langsung Kontributor Jaya-News.com
Ali Aminulloh
—
![]()
