Refleksi Milad ke-79 HMI: Khidmat atau Sorotan?
Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.
Setiap tanggal 5 Februari, sejarah kembali mengetuk kesadaran kita.
Bukan dengan suara lantang, melainkan dengan pertanyaan yang pelan, namun menghunjam:
apakah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) masih setia pada khidmat, atau justru larut dalam sorotan?
Paradoks itu terasa kian nyata hari ini.
Di satu sisi, HMI lahir dari rahim keprihatinan dan cinta pada bangsa.
Di sisi lain, nama kader-kadernya kerap muncul di ruang publik dengan kontroversi, bahkan kegaduhan.
Dari idealisme ke headline, dari pengabdian ke perdebatan.
Namun justru di situlah Hari HMI menemukan relevansinya.
Dari Yogyakarta 1947: Kesadaran yang Ditanam, Bukan Dipamerkan
HMI didirikan pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta oleh Lafran Pane bersama sejumlah mahasiswa Islam.
Bukan untuk sekadar berhimpun, apalagi mencari panggung.
Melainkan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa Islam agar hadir dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
Kesadaran, itulah kata kuncinya.
Kesadaran bahwa ilmu harus berpihak.
Kesadaran bahwa iman harus menjelma amal.
Kesadaran bahwa mahasiswa bukan penonton sejarah, tetapi pelaku yang memikul tanggung jawab zaman.
Karena itu, Kongres HMI ke-1 pada 1947 menetapkan Hari HMI bukan sebagai seremoni kosong, melainkan momentum refleksi. Sebuah jeda untuk bertanya: masihkah kita berjalan di jalur itu?
Kader, Kontroversi, dan Cermin Publik
Dalam perjalanan panjangnya, HMI melahirkan ribuan kader.
Sebagian menjadi negarawan, intelektual, ulama, dan aktivis sosial.
Sebagian lain, tak bisa dimungkiri, menjadi figur kontroversial.
Nama seperti Egi Sujana sering hadir di ruang publik dengan pernyataan keras dan sikap konfrontatif. Bagi sebagian orang, ia cermin keberanian. Bagi yang lain, simbol kegaduhan.
Di sinilah paradoks itu kembali menajam:
apakah kontroversi selalu berarti pengkhianatan terhadap khidmat?
Ataukah justru menjadi ujian kedewasaan kader dalam mengelola idealisme?
HMI, sejak awal, tidak mencetak manusia yang seragam. Ia melahirkan manusia yang berpikir. Dan pikiran, jika tak dibingkai kebijaksanaan, bisa menjadi cahaya, bisa pula menjadi api.
Khidmat sebagai Jalan Sunyi
Tema peringatan Hari HMI 2026: “Khidmat HMI untuk Indonesia” terasa seperti ajakan pulang. Pulang dari hiruk-pikuk citra. Pulang dari obsesi viral. Pulang ke makna awal berhimpun: melayani, bukan menonjolkan diri.
Khidmat bukan berarti diam. Khidmat adalah bekerja tanpa perlu tepuk tangan. Berjuang tanpa harus selalu disorot kamera. Inilah khidmat yang sunyi, namun mengakar.
Menanam Kesadaran: Warisan Pemikiran Syaykh Al-Zaytun
Dalam khazanah kader HMI, ada pula sosok Syaykh A S. Panji Gumilang, yang lebih dikenal sebagai Syaykh Al-Zaytun. Terlepas dari kontroversi yang mengiringi nama beliau, satu gagasan penting patut dicatat: menanam kesadaran, menumbuhkan kemanusiaan sebagai inti peradaban.
Kesadaran itu bertingkat:
Kesadaran filosofis: kemampuan berpikir mendalam, tidak reaktif, dan tidak dangkal. Memahami apa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa sebelum berbuat sesuatu.
Kesadaran ekologis: memahami bahwa manusia bukan penguasa tunggal bumi, melainkan penjaga amanah.
Kesadaran sosial: keberpihakan pada kemanusiaan, keadilan, dan martabat sesama.
Dalam kerangka ini, khidmat bukan slogan, tetapi proses panjang membentuk manusia yang utuh dan seimbang (basyaran sawiyyan): berakal, berakhlak, dan berempati.
HMI dan Pertanyaan yang Tak Pernah Usai
Hari ini, HMI berdiri di persimpangan.
Antara sejarah dan masa depan. Antara khidmat dan sorotan. Antara kesadaran dan sensasi.
Hari HMI bukan sekadar upacara bendera, seminar, atau penggalangan dana.
Ia adalah cermin besar yang memantulkan wajah kadernya sendiri.
Apakah kita masih menanam kesadaran, atau sibuk memanen popularitas? Apakah kita hadir untuk Indonesia, atau hanya untuk ego kita masing-masing?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya dibawa pulang setiap kader HMI setiap 5 Februari.
Karena pada akhirnya, sejarah tak akan mengingat siapa yang paling lantang.
Sejarah hanya mencatat siapa yang paling khidmat.**
Indonesia, 5 Februari 2026
——
![]()
