Pengkhianatan Terhadap Amanah Rakyat Kelak Pasti Akan Menuai Azab Juga
Oleh : Jacob Ereste
Wartawan Lepas
Merawat dan mengembangkan akal sehat, tidak cukup bijak bila tidak dibarengi upaya merawat dan mengembangkan kecerdasan spiritual yang bermuara di dalam batin. Dan batin itu sendiri harus diasuh oleh hati yang bersih, jujur serta ikhlas menerima segenap kekurangan yang belum bisa disempurnakan dengan penuh kesabaran. Inilah dasar pijak laku spiritual yang kelak mampu menggantar segenap jasad dan ruh berada dalam pelukan Tuhan.
Dalam suasana keyakinan serupa ini kebahagiaan, kenyamanan, ketenteraman bisa diperoleh untuk menjalani hidup di dunia sampai pada akhirat.
Akal sehat dan kecerdadan spiritual dengan sendirinya akan membimbing jalan hidup pada route spiritualitas yang lurus, seperti dimaknai oleh esensi dari rahmatan lil alamin.
Pada jalan lurus ini pula, niat dan hasrat hingga perbuatan buruk bisa dihindari. Sehingga etika, moral dan akhlak senantiasa terjaga menjadi pagar pembatas diri untuk tidak melewati batas kepatutan yang bukan hak bagi kepentingan diri yang berada pada wilayah otoritas sunnatullah.
Sebab sunnatullah itu — meski pun bisa dilakukan, tapi tidak boleh dilanggar bahkan tidak pula boleh dibantah. Karena akibatnya dapat membuat diri celaka seperti yang acap disebut dan dipahami oleh banyak orang sebagai tulah, azab atau hukuman yang tiada pernah bisa diduga dan dielak dengan cara apapun.
Pada tahapan serupa inilah bisa dipahami adanya kekuasaan Tuhan itu pasti dan berperan dalam hidup setiap manusia. Termasuk makhluk hidup serta seluruh alam semesta ini, sehingga sering menyapa manusia dengan caranya menghadirkan bencana yang nyata.
Karena itu, korupsi, pengkhianatan terhadap rakyat yang telah memberi kepercayaan untuk menjalankan amanah, meski untuk sementara mampu mengelak dari hukum positif yang telah menjadi kesepakatan bersama, kelak akan mendapat ganjaran yang setimpal atau bahkan lebih berat dari yang telah dilakukan orang yang bersangkutan.
Begitulah tulah, azab atau karna akan menimbun mereka yang telah melakukan keculasan, kerakusan, ketamakan atau merampas hak rakyat yang semestinya bisa menikmati juga rizki yang telah disebarkan Allah SWT untuk banyak orang, bukan untuk diri dan keluarganya sendiri serta kronis atau komplotannya.
Inilah realitas yang tengah terjadi di Indonesia sekarang ini. Masalah keadilan, kesetaraan serta kemerdekaan yang cuma dinikmati oleh segelintir orang yang berkomplot memanipulasi atas nama kekuasaan yang mengkhianati amanah rakyat. Risikonya dari pengkhianatan terhadap amanah rakyat ini, tentu saja tiada terkira ganjarannya yang pula harus dan pasti didapatkan. Karena bisikan rakyat yang menderita adalah bisikan Tuhan yang selalu enggan didengarkan.**
Banten, 31 Januari 2026
——-
![]()
