Spiritualitas Yang Membumi
Oleh Abdul Karim_
“Man’s world is imperfectly programmed by his own constitution. It is an open world… it must be fashioned by man’s own activity.”
— Peter L. Berger, The Sacred Canopy
Dalam perenungan spiritual yang jujur dan telanjang, kita kerap terjebak dalam ilusi: bahwa semakin jauh kita menafikan realitas duniawi, maka semakin tinggi pula kita mendaki tangga spiritualitas. Jacob Ereste dalam tulisannya, “Laku Spiritual Tak Boleh Abai Pada Finansial atau Material”, dengan jernih dan getir menyentil salah satu penyakit lama umat manusia yang terlampau asyik bermain-main dalam abstraksi spiritual, sambil abai bahwa bumi masih berputar, tagihan masih datang, dan perut tetap bisa lapar.
Ia mengangkat satu ironi: bahwa laku spiritual yang seharusnya membebaskan justru kadang menjebak dalam pelarian. Dalam semangat menggapai ‘tingkat advance’, manusia malah melewatkan ‘capaian elementri’ yang sederhana tapi esensial: bagaimana bisa menenangkan diri di tengah dapur yang kosong, bukan dengan pengingkaran, tetapi dengan kesadaran utuh bahwa kemiskinan bukanlah mistik, dan kelaparan bukanlah ujian yang harus didekati dengan fatalisme. Ereste menyajikan satu panorama penuh ironi, ketika laku puasa dianggap sebagai bukti spiritualitas, padahal itu bisa saja hanya menutup kenyataan bahwa memang tak ada makanan.
Spiritualitas, menurut Ereste, berkembang dalam lapisan: dari elementri ke intermediate, lalu advance, hingga gelar tak resmi sebagai maha guru. Namun jenjang ini, tegasnya, bukan seperti pendidikan formal atau sertifikasi bela diri. Ia liar, cair, dan tak bisa diukur dengan meteran manusia. Tapi bukankah justru di situlah masalahnya? Ketika spiritualitas tidak memiliki mekanisme kritik terhadap dirinya sendiri, ia rentan menjadi tirani keheningan yang menindas: seseorang bisa merasa ‘tinggi’ secara ruhani tapi memunggungi realitas sosial. Dalam bahasa Peter L. Berger, “religion is a human product, yet it acts back upon its producers.” Artinya, spiritualitas adalah bentukan sosial, tapi ia juga mempengaruhi kesadaran sosial itu sendiri.
Berger dalam The Sacred Canopy menunjukkan bahwa manusia membangun dunia melalui eksternalisasi, mengobjektifkannya, lalu menginternalisasinya kembali. Maka jika seseorang hidup dalam dunia spiritual yang mengabaikan materialitas, dunia itulah yang akan ia internalisasi. Ia tak lagi melihat kemiskinan sebagai struktur, tapi sebagai kehendak ilahi. Ia tak lagi memahami kelaparan sebagai kegagalan sistem pangan atau keadilan ekonomi, tapi sebagai bagian dari latihan batin. Dalam kondisi seperti ini, spiritualitas bukan lagi alat pembebasan, tapi alat penjinakan.
Apa yang dijelaskan Berger sebagai world-maintenance—yaitu upaya menjaga dunia sosial agar tetap stabil melalui legitimasi dan simbol—dapat terlihat dalam praktik spiritual yang dipaparkan Ereste. Ketika spiritualitas dianggap cukup menenangkan batin di tengah nihilnya beras, dunia yang tak adil tidak lagi ditantang. Ia dimaafkan. Bahkan lebih jauh, ia didewakan. Ketimpangan menjadi bagian dari narasi spiritual. Ketidakadilan dipoles menjadi pelajaran kesabaran.
Inilah yang dalam kacamata R.H. Tawney menjadi salah satu tragedi sejarah hubungan antara agama dan kapitalisme. Dalam Religion and the Rise of Capitalism, Tawney menelusuri bagaimana ajaran-ajaran moral keagamaan mulai mengendur ketika ekonomi mengambil alih panggung utama. Namun di saat yang sama, muncul kelompok-kelompok yang mencoba menghidupkan kembali kesalehan individual tanpa menyentuh akar-akar sosial dan ekonomi dari penderitaan. Tawney mencatat bahwa justru dalam fase-fase seperti itu, agama seringkali berubah menjadi ranah pribadi yang steril dari tanggung jawab sosial.
Jacob Ereste tidak sedang mengutuk laku spiritual. Ia justru memintanya untuk kembali berpijak. Ia melihat ketenangan batin sebagai capaian luhur, tapi mengingatkan bahwa spiritualitas yang sehat tak boleh menafikan rokok yang tak terbeli, kopi yang tak terseduh, atau kontrakan yang menunggak. Ketenangan bukan berarti kebekuan hati terhadap realitas. Sebab jika laku spiritual menjadikan seseorang abai terhadap kelaparan anaknya atau derita tetangganya, maka bukan kedalaman yang dicapai, melainkan keterasingan yang dikultuskan.
Ketika seseorang menganggap “semua akan baik-baik saja selama bumi berputar,” seperti yang ditulis Ereste, ini bisa menjadi penghiburan. Tapi itu juga bisa menjadi penyangkalan. Peter Berger menyebut bahwa dalam process of secularization, agama bisa kehilangan “plausibility structure”-nya ketika tidak lagi menjawab kenyataan hidup. Ketika agama atau spiritualitas hanya memberikan ketenangan batin tanpa keterlibatan sosial, ia kehilangan legitimasinya. Orang mungkin akan tetap berdoa, tapi kehilangan alasan untuk mendengar.
Tawney menyampaikan dengan gamblang bahwa persoalan ekonomi dan sosial bukan sekadar ranah sekuler. Ia menulis bahwa praktik pasar, kepemilikan, dan akumulasi kekayaan “must justify themselves at the bar of religion.” Dengan kata lain, spiritualitas sejati bukanlah yang menjauh dari dunia, tetapi yang menghakimi dunia, mempertanyakan ketimpangan, menolak eksploitasi, dan menyapa yang tertindas dengan keberpihakan, bukan sekadar penghiburan.
Jacob Ereste sedang menunjukkan wajah spiritualitas yang mulai lupa bahwa dunia ini ada. Ia mengingatkan bahwa seseorang boleh saja khusyuk dalam laku zikir, tapi jangan lupa bahwa tetangganya bisa saja tak makan nasi tiga hari. Ia menulis dengan bahasa sederhana, bahkan humoris, tapi menyimpan luka sosial yang dalam. Di balik narasi tentang orang yang tetap segar meski belum ngopi, tersimpan seruan: sadarlah, jangan bungkamkan penderitaan dengan mistifikasi.
Dalam dunia di mana banyak orang keliru menafsirkan ketenangan sebagai capaian spiritual, tulisan Ereste menjadi tamparan. Ia mengingatkan kita bahwa spiritualitas sejati bukan tentang mematungkan diri di tengah kesulitan, tetapi tetap berjalan, tetap mengaduk kopi, tetap mencari beras, sambil tetap berdoa. Bukan untuk melupakan, tapi untuk mengingat lebih dalam.
Sebab yang spiritual bukan yang lari dari dunia, tetapi yang hadir sepenuhnya, dengan seluruh luka dan cinta yang ia peluk.**
Banten, 11 Juli 2025.
—
Daftar Pustaka:
Berger, Peter L. The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. Open Road Media, 2011.
Tawney, R.H. Religion and the Rise of Capitalism. Pelican Books, 1948.
Ereste, Jacob. “Laku Spiritual Tak Boleh Abai Pada Finansial Atau Material”.
—
![]()
