Fir’aun Sebagai Penguasa Yang Melegenda Dalam Khazanah Politik dan Budaya Indonesia


Fir’aun Sebagai Penguasa Yang Melegenda Dalam Khazanah Politik dan Budaya Indonesia

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Kisah Raja Fir’aun menjadi trend topik di Indonesia pada akhir belakangan ini. Untuk mengetahui ini sesungguh sebagai fenomena apa ini dalam pengertian politik dan budaya di Indonesia, kami dari internal terbatas Atlantika Institut Nusantara sepakat menjadikan narasi histori Raja Fir’aun yang hidup pada 1000 tahun lebih sebelum tarikh Masehi ini jadi topik bagasan dalam acara minum kopi santai di akhir pekan, Sabtu 17 Januari 2026 di keheningan desa Kohot yang masuk wilayah Sengketa dalam kawasan PIK II di Pantai Utara, Tangerang, Banten.

Kisah Raja Fir’aun yang melegenda itu — karena memang tercatat juga dalam Al Qur’an, untuk menjadi ingatan dan menjadi peringatan bagi generasi berikutnya hingga lebih dari 3000 tahun kembali menjadi fenomenal — karena kisah Raja Fir’aun memang cukup banyak disebut juga dalam kitab suci lain yang berasal dari langit. Dan pada waktu belakang ini di Indonesia, sosok Fir’aun kembali diungkap daru berbagai versi dan perspektif pandang untuk melukiskan sketsa di Indonesia sekarang ini sebagai analogi daro sikap dan sifat seorang pemimpin yang otoriter, zalim dan menyalahgunakan kekuasaan dengan semena-mena. Dalam perspektif politik, sosok seorang Fir’aun menjadi perlambang penguasa yang korup dan tidak adil serta tega terhadap rakyat yang dia pimpin. Dalam perspektif budaya sosoknya menjadi model seorang pemimpin yang tidak memiliki etika, moral dan akhlak keagamaan yang baik dan benar.

Kisah Raja Fir’aun jelas menggambarkan sosok penguasa yang tidak perduli kepada rakyat. Hingga di dalam Al Qur’an sosok Fir’aun terlukis sebagai pemimpin yang kejam dan keji, tega menganiaya rakyatnya, bahkan membunuh tanpa beban dan rasa berdosa. Bahkan, dia mengklaim dirinya sebagai Tuhan.

Cerita tentang Fir’aun atau Fharaoh bermula pada 3100 sebelum tarikh Masehi didirikan oleh Narmer yang sering disebut Menes dan berakhir pada masa pemerintahan Qaa. Berlanjut pada dinasti kedua Mesir kuno 2613 – 2594 SM oleh Hotepdekhemui berakhir pada pemerintahan Khasekhrmwy. Lalu berlanjut pada finasti ketiga Mesir kuno 2494 – 2345 SM oleh Djoser dan berakhir pada kekuasaan Huni.

Selanjutnya dinasti keempat 2345 – 2181 SM Sneferu berakhir pada Shepdedkaf. Terus pada generasi kelima 2181 – 2040 SM dari Userkaf berakhir pada masa kekuasaan Unas. Lalu generasi keenam dinasti Teti berakhir pada dinasti Pepi II. Dan generasi ketujuh 1750 – 1570 SM oleh dinasti Qalip berakhir pada pemerintahan Ahmose I.

Kisah Fir’aun yang paling terkenal dalam sejarah Mesir kuno ini adalah Ranses II (1279 – 1213 SM). Hetshepsut (1479 – 1425 SM), Thutmose III (1479 – 1425 SM, Akhenaten (1353 – 1336 SM), Tutankhamun (1332 – 1323 SM). Dan Fir’aun yang terkait dengan Nabi Musa AS adalah Ramses II yang berkuasa pada 1279 – 1213 SM. Meski ada juga yang percaya yang semasa dengan Nabi Musa AS adalah Merneptah yang berkuasa pada 1213 – 1203 SM. Jadi Fir’aun atau Pharoah bukan sebuah dinasti, tetapi merupakan gelar untuk penguasa Mesir kuno — rumah besar — yang merujuk pada kekuasaan dan besarnya pengaruh kekuasaan sang raja.

Ramses II yang bergelar Fir’aun terkenal sangat kejam dan penindas, bahkan banyak melakukan pembunuhan terhadap bayi laki-laki yang baru lahir karena takut akan menjadi pesaing dan merintangi kekuasaannya. Namun kisah akhir dari Fir’aun yang terkait dengan Nabi Musa AS seperti yang termuat dalam Al Qur’an adalah Ramses II yang acap disebut Merneptah.

Akibat dari keganasan Fir’un mengejar Nabi Musa yang menyelamatkan diri menyeberangi laut Merah, Fir’aun tenggelam di laut bersama pasukannya ya g juga ikut tenggelam. Al Qur’an, Surat Al Baqarah 2 : 50, Surat Al A’raf 7 : 136 dan Surat Yunus 10 : 90-92.

Lain ceritanya Fir’aun yang terkait dengan Nabi Yusuf AS yang tercatat dalam Kita Kejadian Pasal 39 – 50. Bermula dari kisah Yusuf sebagai budak yang dijual ke Mesir hingga kemudian menjadi penasehat Raja Mesir bernama Pharoah. Karena Nabi Yusuf AS sangat populer dengan kemampuan menafsirkan mimpi sang raja yang keji dan kejam itu. Namun Yusuf mampu meyakinkan raja hingga memberinya kepercayaan untuk mengelola masalah ekonomi di Mesir, juga menjadi penasehat sang raja dalam menghadapi ancaman kelaparan dan kemiskinan. Hingga jabatan sebagai wasit atau Perdana Menteri yabg bertanggung jawab terhadap masalah ekonomi dan administrasi kerajaan ketika itu. Dan Mesir kembali menjadi makmur.

Namun yang menarik, Nabi Yusuf tidak pernah bersua dengan Nabi Musa, karena kedua Nabi ini hidup pada zaman yang berbeda. Sebab Nabi Yusup AS hidup pada abad ke-18 SM. Sedangkan Nabi Musa AS hidup pada abad ke-13 SM hingga bersejarah sekitar 400 tahun setelah Nabi Yusuf AS. Artinya, bisa segera dipahami bahwa kerajaan Mesir kuno itu sungguh memiliki rentang waktu kekuasaan yang sangat panjang.

Lalu bagaimana dengan kondisi dan situasi Mesir sekarang — setelah lebih dari 3000 tahun berlalu — menjadi pemerintahan republik yang lebih bersifat semi presidensiil dibawah kepemimpinan Presiden El Sisi yang terkenal karena berhasil melakukan reformasi ekonomi dan secara besar melakukan upaya perdamaian di Timur Tengah termasuk konflik antara Israel dengan Palestina.

Hubungan Indonesia dengan Mesir — negeri asal para Fir’aun itu dahulu berkuasa ternyata sudah terjalin sejak lama, setidaknya sebelum Indonesia Merdeka. Namun negeri Mesir susah semakin maju dan lebih beradab, terutama dalam masalah budaya dan pendidikan yang menjadi rujukan para ilmuan keagamaan untuk memperdalam ilmu pengetahuan serta peradaban yang lebih baik dan maju. Dan lebih dari 10 ribu mahasiswa Indonesia memperoleh bea siswa untuk belajar di mesir sekarang.**


Banten, 17 Januari 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!