Ketika Kepintaran Semakin Mudah, Mengapa Masa Depan Justru Kian Rapuh?


Ketika Kepintaran Semakin Mudah, Mengapa Masa Depan Justru Kian Rapuh?

Oleh: Dr. Ali Aminuloh, M.Pd.I. ME

Kita hidup di zaman ketika jawaban tersedia lebih cepat daripada pertanyaan. Mesin tahu segalanya, tetapi manusia justru semakin sering kehilangan arah. Paradoks ini terasa ganjil: pendidikan berkembang pesat, teknologi melesat, tetapi kegelisahan manusia tidak surut, bahkan kian dalam. Maka pertanyaannya bukan lagi apa yang harus dipelajari, melainkan bagaimana manusia belajar untuk tetap menjadi manusia.

Paradoks inilah yang menjadi latar penting 11th International Education and Skills Forum yang secara rutin diselenggarakan oleh Asian Development Bank. Pada 3–5 Desember 2025, forum ke-11 ini digelar di Manila, Filipina, dengan tema besar “Applying New Lenses to Unlock the Power of Human Capital”, (menerapkan cara pandang baru untuk membuka kekuatan modal manusia).

Forum ini bukan sekadar temu akademik. Ia menjadi ruang strategis bagi perumus kebijakan, akademisi, dan praktisi pendidikan lintas negara untuk merumuskan arah pendidikan masa depan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Di sinilah pendidikan diposisikan bukan hanya sebagai urusan sekolah, melainkan sebagai fondasi peradaban.

Pada sesi penutup yang biasanya menjadi sesi paling rawan “kehilangan perhatian”, seorang perempuan muda justru mencuri fokus seluruh ruangan. Namanya Lyqa Maravilla, seorang education influencer yang tampil dengan gaya sederhana, slide minimalis, namun gagasan yang menghantam kesadaran.

Judul presentasinya, The Future of Education: Learning Beyond the Classroom, bukan sekadar jargon. Ia adalah ajakan untuk melihat ulang sejarah cara manusia belajar dan menyadari bahwa setiap lompatan teknologi selalu mengubah definisi “orang pintar”.

Lyqa memulai dengan Era Print, ketika pengetahuan bersifat fisik dan langka. Buku, koran, dan diktat adalah pusat otoritas ilmu. Di masa ini, orang pintar adalah “si penghafal” . Pendidikan menuntut ketekunan ekstrem, membaca dari awal hingga akhir, melatih fokus panjang. Musuhnya satu: kebosanan. Tetapi justru di situlah disiplin mental ditempa. Otak manusia dibentuk untuk sabar, runtut, dan mendalam.

Lalu dunia beralih ke “Era Search” . Informasi tidak lagi disimpan di rak, tetapi dipanggil lewat kata kunci. Google menggeser peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu. Orang pintar pun berevolusi menjadi si pencari. Keunggulan tidak lagi pada hafalan, melainkan pada kemampuan menemukan dan membandingkan informasi. Di era ini, skeptisisme menjadi keterampilan utama. Siapa yang tidak kritis, akan tenggelam dalam lautan data tanpa makna.

Namun perubahan paling sunyi sekaligus paling spektakuler terjadi di “Era Algorithm” . Manusia tidak lagi mencari informasi, tapi informasilah yang mencari manusia. Algoritma media sosial menyuapi konten sesuai selera, emosi, dan bias pribadi. Di sinilah kepintaran sering disalahartikan sebagai “viralitas” . Tantangan sejatinya bukan lagi mencari kebenaran, melainkan menjaga kewarasan. Echo chamber membuat manusia merasa paling benar, tanpa pernah benar-benar diuji.

Lyqa lalu menawarkan konsep “reach to teach” : sengaja keluar dari zona nyaman, mencari pandangan yang tidak disukai, lalu mengajarkannya kembali. Karena di era algoritma, pemahaman sejati lahir bukan dari konsumsi, tetapi dari berbagi dan berdialog.

Namun dunia tidak berhenti di sana. Kita kini berada di Era Generative AI. Mesin tidak lagi memberi tautan, melainkan jawaban. Ia meringkas, menyintesis, bahkan meniru gaya berpikir manusia. Orang pintar di era ini bukan yang paling tahu, melainkan yang paling pandai bertanya. Prompt menjadi kunci. Dialog menjadi metode belajar baru. AI berubah dari alat menjadi sparring partner intelektual.

Sesudahnya, Lyqa menyebut fase yang sedang mendekat: “Post-Generative AI atau Agentic AI” . Di sini, teknologi menjadi invisible interface. Manusia tidak lagi mengoperasikan, tetapi mengarahkan. Kita menjadi penentu arah, bukan pelaksana teknis. Dan di titik inilah beban kognitif manusia bergeser drastis, dari kerja otak ke pertimbangan moral.

Di sinilah refleksi Lyqa menjadi semakin relevan dan mendalam. Ketika mesin mengambil alih hampir semua fungsi intelektual, manusia justru menghadapi ancaman baru: popcorn brain, brain rot, kehilangan kemampuan fokus, dangkal dalam berpikir, cepat puas oleh sensasi sesaat. Ironisnya, di masa depan, keterampilan paling “kuno” justru menjadi paling mahal: “deep reading” .

Membaca mendalam bukan soal nostalgia, tetapi kebutuhan eksistensial. Tanpa itu, manusia kehilangan struktur berpikir, kehilangan endapan pengetahuan, dan akhirnya kehilangan kebijaksanaan. AI bisa memberi fakta, tetapi tidak bisa menumbuhkan makna. Ia bisa menyusun strategi, tetapi tidak bisa merasakan penderitaan.

Realitas pahitnya, banyak sistem pendidikan masih terjebak di era lama: mengukur hafalan, menguji jawaban yang bisa diselesaikan mesin dalam hitungan detik. Ketimpangan kognitif pun menganga: segelintir orang yang memiliki kedalaman berpikir akan mengendalikan AI, sementara mayoritas hanya menjadi objek algoritma.

Maka, pendidikan masa depan sesungguhnya sedang kembali ke fitrah. Bukan soal teknologi apa yang dipakai, melainkan kesadaran apa yang ditanamkan. Kepintaran akan semakin murah. Yang langka adalah kebijaksanaan. Yang menentukan bukan seberapa cepat mesin bekerja, melainkan seberapa jernih hati manusia menuntunnya.

Lyqa menutup dengan kalimat sederhana namun menghantui: “We lose what we don’t use, but the world will forget what we don’t share.”

Trilogi Kesadaran: Kunci yang Mengikat Semua Era

Pada titik inilah, gagasan Syaykh AS Panji Gumilang menemukan relevansi penuhnya. Apa yang dipaparkan Lyqa sesungguhnya menggambarkan evolusi alat dan cara belajar, sementara Syaykh Panji Gumilang menawarkan kompas nilai agar evolusi itu tidak kehilangan arah. Pendidikan kontemporer, menurut beliau, harus bertumpu pada trilogi kesadaran: filosofis, ekologis, dan sosial.

Kesadaran filosofis menjawab kegelisahan terdalam di era AI. Ketika manusia berubah dari penghafal, pencari, hingga pengendali mesin, pertanyaan utamanya bukan lagi bagaimana cara belajar, melainkan untuk apa belajar. Inilah wilayah filsafat: makna, tujuan, dan orientasi hidup. AI bisa menjawab “apa” dan “bagaimana”, tetapi hanya manusia yang bisa merenungkan “mengapa”. Tanpa kesadaran filosofis, manusia akan sangat pintar, namun kehilangan hikmah.

Kesadaran ekologis menjadi koreksi terhadap ilusi kemajuan. Evolusi teknologi sering dipahami sebagai jalan lurus menuju masa depan, padahal sering kali ia meninggalkan jejak kerusakan. Trilogi ini menegaskan bahwa ilmu harus berdamai dengan alam, bukan menaklukkannya. Ketika pendidikan hanya mengejar efisiensi dan kecepatan, alam menjadi korban sunyi. Sebaliknya, ketika ilmu disertai kesadaran ekologis, kemajuan justru menjadi sarana perawatan semesta.

Kesadaran sosial adalah ujian terakhir dari seluruh kecanggihan itu. Di era Agentic AI, ketika mesin mampu merancang kebijakan dan menyalurkan bantuan, manusia tetap memegang satu hal yang tak tergantikan: empati. Pendidikan tidak cukup melahirkan manusia yang kompeten, tetapi harus melahirkan manusia yang peduli. Kemanusiaan bukan slogan, ia hadir dalam tindakan nyata: menyapa yang lemah, melindungi yang tertinggal, dan memastikan kemajuan tidak hanya dinikmati segelintir orang.

Dengan demikian, paparan Lyqa dan trilogi kesadaran Syaykh Panji Gumilang bukan dua gagasan yang berdiri sendiri. Keduanya saling melengkapi. Lyqa menjelaskan ke mana pendidikan bergerak, sementara Syaykh Panji Gumilang menegaskan bagaimana pendidikan seharusnya menuntun manusia di sepanjang perjalanan itu.

Refleksinya menjadi terang:
Semakin canggih teknologi, semakin dalam kesadaran yang harus ditanamkan.
Semakin pintar mesin, semakin manusiawi manusia harus dijaga.

Jika tidak, kita mungkin berhasil membangun dunia yang efisien, tetapi kehilangan dunia yang berperikemanusiaan.**


Indonesia, 17 Januari 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!