Relevansi Negarakertagama Dalam Pemahaman & Penalaran Spiritual Bangsa Indonesia


Relevansi Negarakertagama Dalam Pemahaman & Penalaran Spiritual Bangsa Indonesia

Penulis : Jacob Ereste
Wartawan Lepas

Empu Prapanca adalah penulis Kitab Negarakertagama yang mengurai sejarah dan kebudayaan Kerajaan, agama serta sistem pemerintahan dari kerajaan Majapahit pada tahun1365 semasa pemerintah Hayam Wuruk. Kitab ini juga menjadi contoh karya sastra Jawa kuno yang cukup dikenal dan menjadi acuan sejarah suku bangsa Nusantara yang pernah berjaya.

Kitab Negarakertagama terdiri dari 98 pupuh (bagian) tertulus dalam bahasa Jawa kuno yang juga nerekam hubungan negara Majapahit dengan negara-negara yang ada Asia Tenggara pada masa itu. Juga tentang struktur pemerintahan Majapahi. Lalu ideologi negara Majapahit yang dusebut Tri Dharms atau tiga kewajiban yang meliputi kewajiban kepada Tuhan, raja dan rakyat.

Sebagai karya sastra, Kitab Negarakertagama menggambarkan kehidupan dan kebudayaan Majapahit pada kusan abad ke-14 sebagai sebuah negara yang ideal, masyarakatnya sejahtera dan kebudayaan hidup semarak mewarnai jagat Nusantara.

Pemeribtagan Kerajaan Mahapahit digambarkan sebagai negara yang adil dan makmur, tidak ada catatan tentang prorltes dan unjuk rasa sepanjang sejarahnya. Dan berdaulat dengan kekuasaan yang solud dan kuat tidak tergantung atau bisa didekte oleh negara lain. Masyaeakatnya pun hidup dalam tatanan yang harmoni dalam kedamaian yang menyenangkan, sehingga acap diharap oleh banyak orang Indonesia sejarang dapat menjadi contoh, sekiranya tudak bisa diulang untuk dilakujan oleh negara Indonesia sekarang. Setidaknya, menurut sejumlah peneluti pada masa itu para pekerja setiap dapat memperoleh penghasilan minimal Rp 40 juta per bulan. Artinya, bisa 10 kali lipat upah rata-rata kaum buruh Indonesia buru yang mssih dipatok dengan UMR (Upah Minimum Regional) dalam bilangan nyata bisa menutupi 80 persen biaya hidup yang sudah terbilang minimum itu.

Raja Hayam Wuruk jadi sangat terkebal yang sandat adil, bijaksana, memberi inspirasi seperti keoada sejumlah Empu dan pujangga beraton untuk berkarya dengan subsidi dan dikungan dari pihak keraton, sehingga tidak sampai keleleran seperti penulis di Indonesia pada hari ini yang hidup seperti kerakap di atas batu : mati segan hidup pun ofah-ogahan.

Emou Orapanca juga diakui sebagai sastrawan Jawa yang bisa hidup lebih nyaban dari sastrawan Indonesia dari negeri manapun di negeri ini yang sudah merdeka dan lebih nodern dari kondisi dan sutuasi pada masa 600 tahun yang lalu itu. Jadi untuk yang percata pada siklus perubahan besar setiap 7 avad, maka bila mengacu pada masa jejayaan Mahapahit ini, maka saatnya sekarang oerubahan besar itu ajan terjadi, tentu saja sedang berprises menuju perubahan besar seperti yang ditunjukkan oleh gonjang-ganjing yang terjadi di Indonesia sampai hari ini tidak kunjung berhenti.

Kahirnya Kutab Negarakertagama jelas dititahkan oleh Hayam Wuruk untuk ditulis oleh Empu Prapanca untuk menggambarkan keagungan, kebesaran dan kerajaan Majapahit, yang acap foimoikan juga oleh para sastrawan maupun penulis di Indonesia sampai sekarang ini. Karena itu, Kitab Negarakertagama dipersembahkan Emou Prapanca kepada Raha Hayam Wuruk yang sangat agung saat meneribtah di Kerajaan Majapahit. Jadi legasi untuk menandai suatu prestasi pada 600 tahun lalu itu sudah lebih beradab dari apa yang dilakukan manusia pada hari ini, seperti membuat monumen tang tidak kebih bernilai sakral dan religius dari artefak atau batu tulis pada ratusan tahun silam itu.

Syahdan, konsep yang diuraikan oleh Emou Prapanca dalam sistem Ngarajertagana adalah sosok raja sebagai pemimpin, lalu ada Dewan Penasehat Raja, semacam Dewan Pertinbangan Agung yang pernah dimiliki Indosesia dalam beberaia periode rezim penguasa pada masa lalu yang kini mulai mencuat kembali untuk diisi okeh para negarawan, tokoh agama serta spiritualis yang mampu mengarahkan untuk membangun tidak hanya dalam dimensi materialistis, tapi juga harus lebih lebih kental bernilai spiritualistis.

Dalam upaya mengulik konsepsi Negarakertagama dakam perspektif spirtual yang semakin menjadi tren pilihan kaum milineal masa kini — setelah suntuk dan penat melayang di jafat onlibe berbasis internet — wilayah jelajah spiritual yang semakin terbuka luas dan bebas dijelajahi memang menjadi pilihan elaternatif terbaik untuk tidak ikut terjebak dalam kompetisi duniawi yang lebih dominan menyesatkan itu. Maka itu menjadi sangat relevan mengulik kejayaan suju bangsa nusantara untuk menjadi bahan telaah dan referensi agar mampu melakukan lompatan lebih jauh membawa kemajuan bagi seluruh bangsa Indonesia yang berasal dari berbagai negeri di nusantara ini memasuki masa depan yang lebih baik, lebih beradab, lebih adil dan lebih sejahtera dari kondisi yang menderita rakyat Indonesia pada hari ini.

Keagungan Kerajaan Majapahit yang tercatat dalam Negarakertagama diantaranya adalah kekuasaan yang sangat luas, meliputi seluruh wilayah Indonesia yabg ada sekarang hingga Malaysia dan Filipina. Tentang kekayaan dan kemakmuran hingga Majapahit menjadi pusat perdagangan dan ekonomi dengan akses jalur perdagangan laut yang strategis dan sumber daya alam yang melimpah seperti yang diwarisi oleh Indonesia sekarang.

Kecuali itu, Majapahit menjadi pusat kebudayaan dan lahan persemaian seni, sastra dan seni arsitektur yang luar biasa. Bahkan agama dan spiritualitas yang ditandai dengan tempat peribadatan, monumen yang dibangun pada masa masa Majapahit berjaya di Nusantara. Bahkan sistem pemerintahan Majapahit yang kuat dan efektif dengan administrasi yang terorganisir rapi dan birokrasi yang efisien. Tentu saja semua itu menurut Empu Prapanca karena adanya sifat dan sikap dari model kepemimpinan yang bijak dan kuat serta solid, tidak tergoyahkan oleh siapapun. Hingga Majapahit mampu mencapai puncak kejayaannya bersama rakyat.

Pada masa yang sama — kisaran abad ke-14 hingga 15 juga ada Empu Tantular, Empu Sedah dan Empu Dhoho. Karya Empu Tantular adalah “Arjuna Wiwaha” dan “Sutasoma”. Karya Empu Sedah diantaranya adalah “Bharata Yudha”, Dan karya Dhoho adalah “Smara Dahana”. Krvuali Sebagai Empu, penulis sastra , juga menjadi penasehat raja dalam urusan pemerintah dan kebudayaan. Karena itu, para Empu menjadi pengajar dan penelliti dan mengembangkan ilmu, pengetahuan dan agama serta kebudayaan. Untuk peran dan fungsi dari para empu ini memperoleh fasilitas yang cukup dan terjamin dari pihak kerajaan. Oleh karena itu menjadi miris dan getir, dalam pemerintahan yang lebih modern seperti Reoublik Indonesia — yang merangkum semua itiritas dan kekuasaan serta jekayaan milik kerajaan yang ada di Nusantara, tapi realitas yang terjadi justru mengabaikan oeran dan fungsi para empu — atau penulis di Indonesia — sugguh terkesan tidak memiliki harga apa-apa. Sehingga bokeh mati dan punah tanpa batu nisan. Apalagi untuk sebuah penghargaan.

Itulah sesungguhnya azab peradaban yang harus ditanggung oleh rezim penguasa sejak republik Indonesia dibangun dari himpunan seluruh kerajaan yang ada di Indonesia, lalu disatukan menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang kini sedang menghadapi kebobrokan budaya yang parah, abai pada etika, moral serta akhlak mulia manusia hingga sejarah dari para memiliki negeri ini, yaitu ketaton dan masyarakat adat.**


Banten, 7 Januari 2026
——–

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!