Webinar Nasional PKBM Al Zaytun: Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan


Webinar Nasional PKBM Al Zaytun: Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan


Oleh Ali Aminulloh

Pada zaman ketika layar gawai menyala lebih lama dari nurani, dan kehadiran sering kalah oleh sekadar “login”, sebuah pertanyaan menghantam kesadaran kita: untuk apa kita belajar? Selasa malam, 6 Januari 2026, pertanyaan itu tidak dijawab dengan retorika kosong, tetapi dengan ajakan berpikir, bahkan menggugat melalui sebuah ruang virtual yang sarat makna.

Melalui Zoom Meeting pukul 19.00–20.00, PKBM Al-Zaytun membuka pembelajaran semester genap tahun ajaran 2025/2026 bagi warga belajar kelas online. Momentum akademik ini dikemas sebagai Webinar Nasional bertajuk “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan”, sebuah judul yang tak sekadar indah, tetapi menantang siapa pun untuk bercermin.

Peserta webinar terdiri dari warga belajar dan para tutor PKBM Al-Zaytun. Mereka tidak sekadar hadir untuk membuka semester, tetapi untuk membuka kesadaran.

Unggul Bukan untuk Dibanggakan, Tapi Dipertanggungjawabkan

Sebagai narasumber utama, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME, Kepala PKBM Al-Zaytun, membuka acara dengan prolog reflektif. Predikat A Unggul yang diraih PKBM Al-Zaytun, menurutnya, patut disyukuri, namun lebih dari itu, harus dipertanggungjawabkan.

“Unggul bukan sekadar administratif,” tegasnya. “Ia harus hadir dalam kualitas pembelajaran dan pelaksanaan pendidikan.” Di titik inilah standar moral pendidikan ditegakkan: akreditasi tinggi harus sejalan dengan mutu manusia yang dilahirkan.

Mengapa Kita Harus Terdidik?

Paparan berlanjut pada landasan utama pendidikan. Secara religius, QS. Al-Mujadilah ayat 11 mengangkat derajat orang berilmu. Secara yuridis, UUD 1945 Pasal 31 menegaskan pendidikan sebagai hak dan kewajiban warga negara. Secara sosial dan sosiologis, pendidikan menjadi tangga mobilitas sekaligus sarana pewarisan nilai budaya luhur.

Pendidikan, dalam bingkai ini, bukan pilihan sampingan, melainkan keharusan peradaban.

Harga Diri Bangsa Bernama Pendidikan

Dr. Ali menautkan kualitas bangsa dengan kualitas sumber daya manusia, dan kualitas SDM dengan pendidikan. Ukurannya jelas: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang bertumpu pada tiga pilar: kesehatan, ekonomi, dan pendidikan.

Ia menyoroti Mean Years of Schooling (MYS) atau rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas. Setiap warga negara yang tidak mengenyam pendidikan, menurutnya, bukan hanya kehilangan hak pribadi, tetapi juga menurunkan harga diri bangsa di panggung internasional.

Minimal Setingkat SMA: Misi Kesadaran

Dalam visi Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan, target minimal dicanangkan dengan tegas: pendidikan menengah (SMA/Paket C). Seluruh keluarga besar, termasuk wali santri di daerah, didorong untuk terdidik. Bukan demi ijazah semata, melainkan demi kualitas manusia Indonesia.

Ijazah Itu Administrasi, Kesadaran Itu Substansi

Di sinilah inti pesan itu mengendap. “Ijazah adalah administrasi,” ujar Dr. Ali, “tetapi kesadaran adalah substansi.” Pendidikan sejati bertujuan menanamkan kesadaran, menumbuhkan kemanusiaan, dan memanusiakan manusia, ngorangke wong.

Trilogi Kesadaran merupakan buah dari pendidikan kontemporer:
1. Kesadaran filosofis: memahami hakikat hidup, apa, mengapa, bagaimana, dan untuk apa.
2. Kesadaran ekologis: menyadari manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya.
3. Kesadaran sosial: membangun empati, hormat, dan semangat saling menjaga.

Ketika Alam Rusak, Pendidikan Bertanya

Mengutip QS. Ar-Rum ayat 41: “dzaharal fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aydinnas” , kerusakan di darat dan laut adalah akibat tangan manusia. Pendidikan, tegasnya, harus melahirkan manusia penjaga bumi, bukan perusaknya. Mengakidahi bahwa bahwa manusia memerupakan bagian dari alam. Manusia tidak bisa hidup tanpa alam ini. Karenanya manusialah yang membutuhkan alam, bukan sebaliknya.

Refleksi kemanusiaan diperdalam lewat lirik Hymne Politeknik:

” Tak perlu bendera atau suara, cukup langkah kecil yang bermakna.
Kemanusiaan bukan seruan semata, ia lahir dalam tindakan nyata. menanam kesadaran, menumbuhkan kemanusiaan.
Dari hati yang jernih, lahirlah dunia yang saling menjaga.”
Warga belajar diajak untuk merefleksikan kesadaran itu dalam tindakan nyata, dalam perilaku keseharian. Darinya akan lahir manusia yang saling mencintai, saling menjaga, saling mendukung menuju kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.

Tantangan “Kelas Dewasa”

Pembelajaran online bagi Kelas Dewasa PKBM Al Zaytun, memang fleksibel, tetapi penuh godaan. Hadir secara login, absen secara batin. Kuncinya kembali pada kesadaran: kita butuh ilmu, dan ilmu butuh pemandu. Tutor dan guru bukan formalitas, melainkan legitimasi pemahaman.

Belajar dengan Hati

Webinar ditutup dengan ajakan sederhana namun mendalam: ikuti proses belajar dengan sepenuh hati. Karena hanya proses yang dijalani dengan kesungguhan yang melahirkan makna hakiki, bukan sekadar formalitas seremonial.

Tagline itu pun menggaung sebagai pengingat: PKBM Al-Zaytun: Mencerdaskan, Menyadarkan.

Bukan hanya membuka semester, webinar ini membuka kesadaran bahwa pendidikan sejati selalu bermula dari pertanyaan paling mendasar: manusia macam apa yang ingin kita lahirkan?.**


Indonesia, 7 Januari 2026
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!