2 SUKU DI BANJARMASIN YANG MENGALAMI KEPUNAHAN
Oleh : Hamly Hadi
( Pemerhati Sejarah )
1.Suku Melayu
Pada tahun 1511 ketika Kerajaan Malaka diserang Portugis, orang orang Melayu di Malaka melarikan diri ke berbagai wilayah untuk menyelamatkan diri, ada yang ke Kelantan, ke Terengganu,ke Kedah ,ke Pattani,ke Perak , ke Riau dan Kepulauan Riau, ke pesisir timur Sumatra Utara, ke Kalimantan Barat dan ada juga sedikit yg ke kota Banjarmasin untuk berdagang di pelabuhan Bandarmasih.
Dalam Hikayat Banjar, orang Melayu di Banjarmasin disebut sebagai orang dagang , mereka berdagang di pelabuhan Bandarmasih bersama orang Jawa , orang Bugis , orang mangkasar, orang arab dan orang cina. Orang Melayu di Banjarmasin mendirikan kampung yang disebut kampung Melayu. Namun nasib orang Melayu di Banjarmasin Mengalami kepunahan.
Berbeda dengan orang Melayu di daerah lain seperti di Kalimantan Barat,Riau , kepulauan Riau , Pesisir Timur Sumatera Utara Terengganu, Kelantan, Pattani,Kedah dan Perak di sana orang Melayu yang mempengaruhi penduduk lokal sehingga penduduk lokal menjadi Melayu yang berbahasa Melayu dan berbudaya Melayu, sedangkan di Banjarmasin justru sebaliknya orang Melayu yang dipengaruhi oleh orang Banjar sehingga orang Melayu di kampung Melayu berbahasa Banjar dan berbudaya Banjar tidak ada lagi bahasa Melayu di sana.
Berbeda dengan orang arab dan orang cina mereka masih ada sampai sekarang di kota Banjarmasin, walaupun sekarang mereka menggunakan bahasa Banjar tapi bentuk fisik orang arab dan orang cina berbeda sehingga mereka tidak punah seperti orang Melayu.
2.Suku Berangas
(Catatan : suku ini sudah kehilangan identitas aslinya dan nyaris/ hampir punah ).
Suku Berangas atau juga sering disebut sebagai orang Alalak.
Suku ini adalah sub suku dari rumpun Ngaju yang beragama Islam dan mendiami bagian hilir sungai Barito, serta berpusatnya di Berangas Timur, Kab. Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan.
Orang Barangas ,mereka adalah orang Biaju, sama seperti Bakumpai. Bedanya, Bakumpai mampu mempertahankan bahasa ibu yang bersumber dari Bahasa Biaju.
Orang Barangas adalah kelompok Biaju yang mendiami Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. Kelompok ini berada di hilir orang Bakumpai, dipisahkan oleh oleh sungai Alalak. Kantong-kantong Oloh Barangas ada di Alalak, Balandean, Tabunganen, Sungai Teras.
Bahasa Barangas berkerabat dengan bahasa Bakumpai dengan kemiripan sekitar 75 persen, yang mewarisi kosakata dari bahasa induk mereka, yaitu bahasa Dayak Ngaju.
Hari ini, sangat sulit menemukan identitas Dayak pada kelompok Barangas, karena bahasa mereka hampir punah dan orang Barangas sudah melebur sebagai Banjar Kuala.
Sejatinya, Orang Barangas menggunakan bahasa barangas atau lebih dikenal bahasa Halalak, memiliki karakter dengan bahasa Dayak Bakumpai, penutur bahasa berangas asli dinyatakan tidak ada (punah) dikarenakan sedang dalam proses Banjarisasi (amalgamasi dengan salah satu sub suku Banjar yaitu Banjar Kuala – orang Banjar yang tinggal di sekitar Banjarmasin).
Bahasa Berangas dituturkan oleh orang-orang yang diduga dahulu berasal dari Belandean, sehingga bahasa tersebut erat hubungannya dengan bahasa Bakumpai. Namun kenyataan dilapangan, penutur bahasa barangas masih bisa dijumpai di perkampungan Dayak Berangas.
Hanya saja bahasa tersebut telah banyak menyerap bahasa Banjar. Jadi bahasa Dayak Berangas saat ini adalah percampuran bahasa Dayak Berangas dengan bahasa Banjar Kuala, tetapi struktur bahasa Dayaknya masih tetap dapat kental terdengar di telinga. Daerah yang diperkirakan masih terdapat penutur bahasa Berangas:
– Berangas
– Belandean (Ujung Panti)
– Tabunganen
– Sungai Teras
– Sungai Tandipah
– Jelapat
– Sungai Puduk
– Sungai Takuluk
– Aluh Aluh.
Bahkan dahulu terdapat di Mendawai, Arut Selatan, Kotawaringin Barat dan Mendawai, Mendawai, Katingan, dan Sungai Seruyan.
Sepertinya Dayak Berangas ini mengalami nasib yang sama seperti yang dialami Dayak Abal yang kehilangan identitas asli sebagai orang Dayak. Karena tidak bisa mempertahankan adat istiadat, budaya dan bahasa mereka sendiri. Budaya Dayak Berangas yang minoritas terhimpit di antara budaya mayoritas orang Banjar Kuala, sehingga budaya asli, adat istiadat dan bahasa yang pernah mereka miliki sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, akan punah dan berganti dengan budaya, adat istiadat dan bahasa orang Banjar Kuala.
Selain Dayak Abal dan Dayak Baraki yang ada di Kalsel, contohnya seperti Dayak Sinayukng (Bakati’ Sinayukng) di Sambas (Kalbar) juga mengalami nasib yang sama dengan Dayak Barangas di Kalsel ini.
Dayak Sinayunkng di Kalbar juga sebagian besar menerima kepercayaan Islam dan menjadi Melayu (Suku Sambas), sebagian kecil yang tidak menerima Islam berasimilasi dan berbaur dengan Dayak Bakati’ Rara di Seluas (Bengkayang, Kalbar).
Nah begitulah dengan nasib Dayak Berangas, juga dengan suku tetangganya seperti Dayak Abal dan Baraki, secara identitas aslinya sudah hilang.**
Banjarmasin, 1 Januari 2026
———-
![]()
