Jika Pendidikan Tak Diubah, Indonesia Akan Berjalan di Tempat


Jika Pendidikan Tak Diubah, Indonesia Akan Berjalan di Tempat

Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., ME.

Indonesia tampak bergerak. Anggaran meningkat, proyek berjalan, dan target pertumbuhan ekonomi terus dikejar. Namun di balik hiruk-pikuk itu, Syaykh Al-Zaytun A.S. Panji Gumilang, S.Sos., M.P. mengajukan pertanyaan yang sederhana sekaligus menggelisahkan: apakah bangsa ini benar-benar sedang maju, atau hanya berjalan di tempat?
Pertanyaan itu disampaikannya dalam penggulungan Pelatihan Pelaku Didik Mahad Al-Zaytun, Ahad, 28 Desember 2025. Sesi penggulungan tersebut menutup rangkaian pelatihan pendidik yang sejak awal dirancang bukan sekadar untuk meningkatkan keterampilan mengajar, melainkan sebagai ruang refleksi tentang arah pendidikan Indonesia.
“Siapa yang berjalan di tempat,” ujar Syaykh dengan nada tenang, “akan sampai di tempat yang sama.” Kalimat singkat itu menjadi pintu masuk bagi kritiknya terhadap pola pembangunan nasional yang, menurutnya, terlihat bergerak tetapi belum menyentuh akar persoalan.

Ukuran Negara Maju Bukan Slogan
Bagi Syaykh, ukuran negara maju tidak terletak pada slogan atau retorika politik, melainkan pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Negara maju berada di angka 85. Indonesia hari ini masih berada di kisaran 74. Ada jarak yang tidak mungkin ditutup dengan kebijakan tambal sulam.
Program bantuan sosial, kata Syaykh, memang penting untuk menjaga daya tahan masyarakat. Namun bantuan hanya membuat orang bertahan hidup, bukan naik kelas. Tanpa perubahan mendasar dalam pendidikan, bangsa ini hanya akan terus mengelola kemiskinan, bukan memutus mata rantainya.

Satu Jalan yang Tak Bisa Ditawar
Dalam penggulungan pelatihan itu, Syaykh menegaskan satu pandangan kunci: Indonesia hanya memiliki satu jalan strategis menuju kemajuan, yakni pendidikan yang setara dan bermutu. Tidak elitis, tidak timpang, dan tidak bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga.
Ia menggagas pendirian sekitar 500 sentra pendidikan berasrama yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap sentra memiliki ukuran, kualitas, dan kurikulum yang sama. Negara hadir penuh, membiayai pendidikan anak-anak selama 15 hingga 16 tahun.
Dalam konsep ini, pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa, melainkan hak dasar. Semua anak hidup dan belajar dalam sistem yang sama, dibentuk bukan hanya untuk cerdas, tetapi juga untuk bertanggung jawab sebagai warga bangsa.

Pendidikan sebagai Mesin Ekonomi Berkeadilan
Yang menarik, Syaykh tidak memisahkan pendidikan dari ekonomi. Ia justru menempatkan pendidikan sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan.
Ia membedakan antara Produk Domestik Bruto dan pertumbuhan ekonomi. PDB adalah hasil panen. Pertumbuhan ekonomi adalah bagaimana hasil panen itu tersebar. Jika pendidikan terpusat di kota-kota besar, maka ekonomi pun akan terus terkonsentrasi di tempat yang sama.
Sebaliknya, jika pendidikan disebar ke ratusan daerah, dana pendidikan akan berputar langsung di kabupaten-kabupaten. Daerah yang selama ini tertinggal akan berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi baru. Pendidikan, dalam pandangan Syaykh, adalah belanja negara paling produktif.

Kurikulum L-STEAMS dan Pembentukan Manusia Utuh
Seluruh sentra pendidikan tersebut dirancang menggunakan kurikulum L-STEAMS—Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual. Kurikulum ini tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan kesadaran spiritual.
Anak-anak tidak hanya diajari membaca, berhitung, dan menguasai teknologi, tetapi juga diajari hidup jujur, disiplin, dan amanah. Pendidikan, kata Syaykh, harus melahirkan manusia utuh, bukan sekadar tenaga kerja.

Proyeksi Pertumbuhan yang Dihitung
Dalam penggulungan tersebut, Syaykh juga memaparkan proyeksi pertumbuhan ekonomi secara bertahap jika pendidikan dijalankan secara konsisten.
Pada tahun 2026, ketika sentra pendidikan mulai beroperasi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,5 persen.
Memasuki tahun 2027, distribusi anggaran dan aktivitas ekonomi lokal semakin kuat, mendorong pertumbuhan menjadi 6,2 persen.
Pada tahun 2028, lulusan awal pendidikan terapan mulai produktif, membawa pertumbuhan ke 7,1 persen.
Dan pada tahun 2029, pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan menembus angka 8 persen.
Capaian itu, menurut Syaykh, bukan hasil keajaiban kebijakan instan, melainkan buah dari investasi besar di sektor pendidikan. Selama lima tahun, dana pendidikan sekitar 3.000 triliun rupiah akan menciptakan perputaran sekitar 6 triliun rupiah per kabupaten per tahun, atau 30 triliun rupiah dalam lima tahun di setiap daerah.

Jalan Pasti Menuju 2045
Di akhir penggulungan pelatihan, Syaykh menegaskan bahwa pendidikan adalah kerja sunyi. Hasilnya tidak selalu cepat terlihat, tetapi dampaknya menentukan arah sejarah bangsa.
Jika Indonesia ingin benar-benar melompat pada 2045, jawabannya bukan hanya pada proyek besar atau gedung megah, melainkan pada keberanian mengubah pendidikan secara menyeluruh. Dari ruang-ruang kelas berasrama itulah, masa depan Indonesia perlahan namun pasti sedang dibentuk.***


Indonesia, 29 Desember 2025
———

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!