Dzikir Jumat dan Jalan Pendidikan yang Memerdekakan Akal (Disarikan dari tausyiah Syaykh Al Zaytun)

Dzikir Jumat dan Jalan Pendidikan yang Memerdekakan Akal
(Disarikan dari taushiyah Syaykh Al Zaytun)

Oleh Ali Aminulloh

Usai shalat Jumat, Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al Zaytun kembali menjadi ruang perenungan. Bukan hanya tempat ibadah, tetapi ruang dialog batin antara iman, akal, dan masa depan pendidikan. Pada Jumat, 19 Desember 2025, Syaykh AS Panji Gumilang menyampaikan taushiyah dalam agenda rutin yang dikenal sebagai Dzikir Jumat, sebuah forum spiritual-intelektual yang menautkan zikir dengan kesadaran zaman.

Hari itu, pesan Syaykh dibuka dengan nada harap: memasuki akhir Desember, semoga segala ikhtiar berakhir dengan kebaikan. Namun harapan itu segera ditautkan pada tanggung jawab besar tentang bagaimana pendidikan harus bergerak lebih jauh, lebih merdeka, dan lebih bermakna.

Dari Deklarasi ke Implementasi

Al Zaytun telah mendeklarasikan kurikulum LSTEAMS, yaitu Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual. Sebuah lompatan konsep yang tidak hanya menambah huruf pada akronim, tetapi menambah kedalaman makna pendidikan. Namun Syaykh mengingatkan, deklarasi tidak cukup berhenti pada jargon.

“Belum dirinci satu demi satu bagaimana implementasinya,” kurang lebih itulah PR yang disampaikan. Karena itu, perlu dibentuk tim khusus yang bekerja secara serius, membahas, merinci, dan menghidupkan LSTEAMS dalam praktik pembelajaran sehari-hari.

Melampaui Batas Kurikulum Nasional

Dalam taushiyahnya, Syaykh menyampaikan kritik yang tajam namun bernas terhadap kerangka kurikulum nasional yang selama ini terlalu bertumpu pada STEM semata. Tanpa Law, tanpa Art yang memanusiakan, dan tanpa Spiritual yang memberi arah, pendidikan mudah kehilangan ruh.

Akibatnya, pelajar tumbuh dengan kecakapan teknis, tetapi miskin kesadaran kebangsaan. Nasionalisme menjadi konsep asing, bukan rasa yang hidup. Padahal, cinta tanah air semestinya tumbuh dari nilai dasar bangsa, dari penghayatan, dari rasa, dari kesadaran kolektif. Bahkan lagu kebangsaan pun seharusnya dihayati, bukan sekadar dinyanyikan.

Ma’had sebagai Ruang Tadabbur, Bukan Doktrin

Syaykh menegaskan kembali jati diri Ma’had Al Zaytun: tempat mentadabburi Al-Qur’an, bukan sekadar menghafal atau mempelajari buku-buku yang sulit dicerna. Pendidikan tidak boleh menjelma menjadi tekanan intelektual yang membuat murid “terkekang pemikiran” oleh gurunya.

Guru bukan pemaksa kebenaran, melainkan pembimbing kesadaran. Tugasnya menuntun, bukan mendoktrin. Karena itu, guru-guru perlu terlebih dahulu duduk bersama: apa yang dipelajari, buku apa yang digunakan, dan nilai apa yang hendak ditumbuhkan.

Kerja Kolektif Lintas Jenjang

Pesan itu mengalir pada kebutuhan struktural: pembentukan tim kurikulum terpadu dari PAUD, MI, MTs, MA, hingga perguruan tinggi. IAI Al-Azis harus ikut berada dalam barisan yang sama. Pendidikan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri; ia harus menjadi satu tarikan napas dari usia dini hingga dewasa.

Majelis Guru, Majelis Asrama, dan para kepala satuan pendidikan diminta berkumpul, bermusyawarah, dan menunjuk siapa yang layak masuk dalam tim. Dari sana, LSTEAMS dijabarkan bukan sebagai beban baru, tetapi sebagai jalan berpikir yang merdeka.

Memerdekakan Cara Berpikir

Syaykh mengingatkan dengan nada yang tegas namun penuh harap: Ma’had bukan tempat berpikir sempit. Pendidikan sejati adalah yang melapangkan akal, menumbuhkan keberanian bertanya, dan mengasah kepekaan nurani.

Karena itu, guru diminta untuk tidak mendoktrin. Doktrin mematikan daya kritis. Pendidikan seharusnya justru melahirkan manusia yang mampu berpikir, merasakan, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Dzikir Jumat hari itu pun berakhir bukan dengan tepuk tangan, melainkan dengan kesunyian yang bermakna, kesunyian orang-orang yang sedang diajak berpikir ulang tentang hakikat mendidik. Di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, dzikir tidak berhenti pada lafaz, tetapi menjelma menjadi kesadaran: bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh keberanian untuk memerdekakan akal dan menumbuhkan spiritualitas yang rasional.**


Indonesia, 19 Desember 2025
——-

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!