Mengawal Mimpi Akademik: IAI Al-Azis Bersiap Melangkah ke Panggung Dunia

Mengawal Mimpi Akademik: IAI Al-Azis Bersiap Melangkah ke Panggung Dunia.

Oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME.

Pulang ke Akar: Kebanggaan Seorang Anak Kampung

Tidak semua pidato akademik dimulai dari ruang teori.
Prof. Dr. H. Sugianto, SH.MH. membuka orasinya dengan kejujuran yang membumi: ia adalah anak kampung, lahir di Gantar- Indramayu Barat, mewah “mepet sawah”, sebuah ungkapan sederhana yang justru memancarkan kebanggaan. Dari sanalah ia berdiri hari ini, sebagai Guru Besar sekaligus Dewan Penyantun Institut Agama Islam Al-Azis.

Bagi Prof. Sugianto, kehadirannya pada acara wisuda ke-6, Senin (15/12) di Al-Azis, bukan sekadar undangan seremonial, melainkan kepulangan batin. Kembali ke tanah kelahiran, kembali untuk mengabdi.

Dewan Penyantun Bukan Jabatan, Tapi Tanggung Jawab

Beliau menegaskan, amanah sebagai Dewan Penyantun bukan sekadar simbol kehormatan. Tugas utamanya adalah mengawal transformasi institusi, dari institut menuju universitas.

Target itu bukan mimpi kosong. Dengan keyakinan dan dukungan seluruh sivitas akademika, Prof. Sugianto optimistis dua hingga tiga tahun ke depan Al-Azis dapat bertransformasi menjadi universitas. Namun, ia menekankan satu hal penting: kesuksesan tidak pernah lahir dari satu pundak. Ia lahir dari kebersamaan dan rasa memiliki.

Mimpi Akademik yang Diperjuangkan Bersama

Dalam nada yang bersahaja namun tegas, Prof. Sugianto menyampaikan harapannya agar Al-Ajis melahirkan Guru Besar dari rahimnya sendiri. Ia menyebut proses studi doktoral para pimpinan kampus sebagai bagian dari ikhtiar jangka panjang.

“Kalau bisa dipermudah, kenapa dipersulit,” ujarnya. Sebuah pesan etis tentang dunia akademik yang seharusnya memuliakan ilmu, bukan mempersulit jalan menuju keilmuan.

Baginya, proses akademik memang tidak instan. Doktor tidak lahir dalam dua tahun. Tapi dengan ketekunan, integritas, dan sistem yang sehat, capaian besar bukanlah sesuatu yang mustahil.

Dari Institut ke Universitas Riset Internasional

Visi besar Al-Azis mendapat penegasan: menjadi perguruan tinggi riset berkelas internasional.
Prof. Sugianto menolak anggapan bahwa Al-Ajis adalah kampus kecil. Menurutnya, ukuran perguruan tinggi tidak ditentukan oleh lokasi atau usia, melainkan oleh visi, kualitas, dan keberanian berpikir global.

Di era keterbukaan informasi, tidak ada alasan untuk membatasi diri. Dunia kini terbuka, dan Al-Azis harus berani melangkah keluar, membawa gagasan Islam, ilmu, dan riset ke pentas global.

Kampus, Industri, dan Masa Depan

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012, Prof. Sugianto menekankan pentingnya kemitraan perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri.
Al-Azis, menurutnya, telah memiliki modal kuat untuk itu, baik dari lingkungan, sumber daya, maupun visi kelembagaan.

Perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri. Ia harus menjawab kebutuhan zaman, membangun jejaring nasional dan internasional, serta melahirkan lulusan yang siap berkarya, bukan sekadar bergelar.

Kunci Transformasi: Keterbukaan dan Kebersamaan

Menutup orasinya, Prof. Sugianto menyampaikan satu pesan kunci: keterbukaan.
Kampus besar hanya bisa lahir jika seluruh sivitas akademika diberi ruang untuk tumbuh, berkontribusi, dan berinovasi. Rektor, dosen, mahasiswa, dan pemangku kepentingan harus bahu-membahu, bergerak dalam satu arah.

Bagi Prof. Sugianto, momentum wisuda bukanlah akhir perjalanan. Ia adalah awal pengabdian, baik bagi para sarjana yang dilantik, maupun bagi institusi yang sedang menata masa depan.***

Indramayu, 18 Desember 2025
———

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!