Odong-odong, Transportasi Rakyat Menuju Episentrum Pendidikan: Kisah Wisata Edukasi Ceria ke Ma’had Al Zaytun


Odong-odong, Transportasi Rakyat Menuju Episentrum Pendidikan: Kisah Wisata Edukasi Ceria ke Ma’had Al Zaytun.

Oleh Ali Aminuloh

Di Ma’had Al Zaytun, pusat pendidikan yang konsisten mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian, setiap kunjungan edukasi tak hanya menawarkan ilmu, tetapi juga menampilkan potret budaya dan ekonomi lokal yang unik. Hari Rabu, 3 Desember 2025, pemandangan meriah kembali tersaji di tengah kampus Mahad Al Zaytun, saat gelombang kedua wisatawan edukasi tiba.
Rombongan kali ini jauh lebih besar. Tujuh lembaga Raudhatul Athfal (RA)—yaitu RA Amslihah, RA Amanah PUI, RA Baiturrahim, RA Cahaya Qalby, RA Al Musyahadah, RA Siti Aminah, dan RA Nurul Ihsan—membawa total 481 pengunjung, terdiri dari 231 siswa dan 250 guru serta orang tua pendamping.

Wisata Edukasi di Atas Roda Transportasi Rakyat

Tujuan mereka sama: melihat langsung kompleks pendidikan, sarana industri canggih seperti Istana Beras, tempat makan santri Al Akbar, dan Toko Al Zaytun. Namun, yang menarik perhatian adalah alat transportasi yang mereka gunakan: 20 unit odong-odong berjejer mengangkut ratusan pengunjung. Kendaraan khas yang dimodifikasi penuh warna ini adalah sarana wisata kerakyatan yang paling ekonomis.
Fenomena odong-odong sebagai kendaraan massal untuk wisata lokal tak bisa dilepaskan dari sejarahnya. Nama “odong-odong” sendiri berakar dari kebudayaan Sunda, tepatnya kesenian tradisional Sisingaan. Kesenian ini, yang muncul sekitar tahun 1812, pada dasarnya merupakan simbol perlawanan rakyat Sunda terhadap penjajahan Inggris pada abad ke-19, dengan menggunakan singa sebagai lambang kekuatan dan keberanian.
Pada era 2000-an, semangat simbolis perlawanan itu berevolusi menjadi wahana permainan anak-anak yang populer, lalu berlanjut menjadi alat transportasi wisata murah meriah di Indramayu, menggantikan mobil biasa dengan sentuhan modifikasi yang ceria.

Kisah “Kaji Gaul” dan Berkah di Usia Senja

Di antara 20 kendaraan yang berbaris rapi itu, penulis berkesempatan berbincang dengan pemilik salah satunya, H. Dakhroji dari Bongas. Di usianya yang menginjak 69 tahun, dengan empat anak, enam belas cucu, dan empat cicit, Kaji Dakhroji masih menikmati profesi sebagai pengusaha odong-odong.
Mobilnya, sebuah Kijang tahun 1980 yang ia namakan “Kaji Gaul,” telah dimodifikasi secara khusus di bengkel spesialis di Anjatan. Ia sudah menggeluti usaha ini sejak lima tahun lalu, sekitar 2020. Menurut Kaji Dakhroji, para pengusaha odong-odong ini bahkan memiliki asosiasi sendiri.
“Tarif odong-odong didasarkan pada jarak,” jelasnya. Untuk rute dekat seperti sekitar Haurgeulis, tarifnya berkisar Rp250.000 hingga Rp300.000. Untuk perjalanan jauh seperti ke Terisi Rp400.000, Subang Rp500.000, hingga Indramayu Rp700.000. Jarak terjauh yang pernah ia tempuh bahkan sampai ke Majalengka.

Refleksi Dunia Usaha: Berkah dari Ketekunan

Meskipun moda transportasi ini memiliki catatan administrasi yang sederhana—STNK digantikan stiker dari asosiasi—Kaji Dakhroji bersyukur, selama ini usahanya berjalan lancar dan selamat.
Dalam sebulan, rata-rata ia mendapatkan satu hingga dua kali penyewaan. Setelah dipotong biaya bensin, ia bisa mengantongi Rp1 juta bersih per bulan. Nilai ini terasa cukup karena, “makan, minum, dan rokok sudah ditanggung oleh penyewa,” ujarnya sambil tersenyum.
“Uang dapet, perut kenyang, dan senang. Semuanya saya dapatkan melalui usaha ini,” tutupnya, memberikan sebuah refleksi mendalam tentang dunia usaha kerakyatan.
Kisah Kaji Dakhroji adalah cerminan dari semangat wirausaha yang gigih, yang membuktikan pepatah yang ia sampaikan sendiri: “Usaha apapun, jika ditekuni dengan hati, akan membawa berkah.” Di tengah perkembangan teknologi, odong-odong bukan sekadar alat transportasi, melainkan roda ekonomi yang menopang keluarga, sekaligus sarana yang membawa inspirasi dan harapan dari gerbang desa menuju pusat pendidikan yang toleran.**

Indramayu, 3 Desember 2025
——

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!