Okeke dan Brifing: Komitmen Guru Al Zaytun Membangun Budaya Sehat-Kompak di Hari Senyap
Oleh Ali Aminuloh
Fajar Menyingsing, Roda Visi Terus Berputar
Pagi Ahad, 30 November 2025. Di kebanyakan lembaga pendidikan, hari libur identik dengan keheningan total. Para pelajar Al Zaytun tengah menjalani masa belajar di masyarakat (cuti), sementara sebagian guru menikmati giliran cuti mereka. Namun, di balik gerbang pusat pendidikan yang memegang teguh visi “Pusat Pendidikan, Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi” ini, sebuah denyut nadi komitmen tetap berdetak kencang.
Meski sepi, di bawah arahan Syaykh Al Zaytun, budaya yang dibangun tidak mengenal kata libur. Inti dari pergerakan ini adalah Okeke, singkatan dari Olahraga Kebugaran Kaki, sebuah ritual berjalan kaki yang telah menjadi DNA bagi seluruh civitas dan kelurga besar Al Zaytun.

10.000 Langkah Sang Teladan: Sebuah Warisan yang Tak Pernah Padam
Budaya ini bukanlah kebijakan populis yang hadir dan pergi dalam sekejap. Ia adalah sebuah warisan yang dicontohkan secara langsung oleh Syaykh Al Zaytun sendiri, yang membiasakan diri berjalan minimal 10.000 langkah setiap hari.
Ini adalah implementasi nyata dari adagium Jawa, “Ing Ngarsa Sung Tuladha” (di depan memberi teladan).
Membangun sebuah budaya tidak dapat dilakukan dalam tempo satu-dua hari, melainkan melalui konsistensi dan keberlanjutan. Guru-guru Al Zaytun, sebagai pemain utama dalam pelaksanaan pendidikan, menginternalisasi peran mereka sebagai uswah (teladan).
Pagi itu, Okeke hanya diikuti oleh sekitar 90 orang. Jumlah ini jauh berkurang karena mayoritas siswa sedang berada di tengah masyarakat dan sistem giliran libur bagi guru.
“Sekalipun sedikit, tetap kita jalankan,” ujar Ustadz Purnomo, Ketua Majelis Guru yang memimpin Okeke hari itu.
Komitmen ini, tambahnya, adalah wujud pengamalan dari Sapta Janji Darma Bakti Civitas Al Zaytun.

Dua Ritme yang Melanglang Seiring Sejalan
Prosesi Okeke pagi itu terasa istimewa. Dimulai lebih awal, pukul 05.30 WIB, karena dilebur dengan Ritual Brifing Pagi Masa Cuti. Penggabungan dua agenda ini menghasilkan sinergi yang luar biasa.
Rangkaian acara diawali dengan Basmalah, kemudian menyanyikan Lagu Indonesia Raya 3 Stanza—sebuah penegasan akan nasionalisme yang kuat—dilanjutkan dengan pembacaan Sapta Janji Darma Bakti, doa, serta arahan dari Majelis Pengendali Asrama Pelajar (MPAP) dan Majelis Guru.
Setelah pemanasan yang dipimpin oleh Ketua Kosmaz (Komite Olah Raga dan Seni Al Zaytun) Sularno, S.Pd, Okeke pun dimulai.
Rangkaian ditutup dengan peregangan dan Hamdalah.
Brifing berfungsi sebagai penyama persepsi, penguat strategi, dan penyalur energi kognitif. Sementara Okeke adalah injeksi semangat kerja, penyalur energi fisik, dan penegas kesehatan raga.
Dua budaya yang dibangun ini—Brifing dan Okeke—berdampingan dan saling menguatkan. Mereka menjadi “ruh penyemangat kerja” dan “penyama persepsi”, memastikan seluruh civitas “melanglang seiring sejalan” dalam mewujudkan visi besar Al Zaytun.

Epilog Reflektif: Di Balik Konsistensi Sunyi
Inspirasi seringkali tidak datang dari keramaian, melainkan dari konsistensi sunyi. Kisah Okeke di hari libur ini mengajarkan kita bahwa komitmen sejati terhadap sebuah visi tidak diukur dari jumlah peserta yang hadir, melainkan dari keteguhan hati para pelaksana intinya.
Setiap langkah kaki yang diayunkan pagi itu bukan sekadar aktivitas fisik; ia adalah langkah filosofis. Ia adalah manifestasi fisik dari visi kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian yang dicanangkan Al Zaytun. Jika kesehatan raga (Okeke) menjadi landasan, dan kesehatan jiwa (Brifing, Visi) menjadi arah, maka perjalanan menuju masyarakat sehat, cerdas, dan manusiawi adalah sebuah keniscayaan.
Lalu, apa komitmen sunyi Anda hari ini yang akan membangun visi besar di masa depan? (*)
Indramayu, 30 November 2025
——-
![]()
