Jalan Kemuliaan: Pernikahan Nuri dan Irham, Kisah Pengabdian dan Cinta Civitas PKBM Al Zaytun
Oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME. (Dosen IAI Alazis- Kepala PKBM Al Zaytun)
Sabtu, 29 November 2025, menjadi penanda historis, bukan hanya bagi dua hati yang berjanji, tetapi juga bagi sebuah komunitas pendidikan yang bersemi. Hari itu, Nuri Isti Sa’diah binti Suparno, alumni santri Al Zaytun Angkatan 11, dan Irham Rizqi Ananda bin Muhajir (alm) bersama ibunda Nur Fadilah dari Brebes, merayakan akad nikah mereka.
Pernikahan ini menjadi cerminan nyata dari jalinan kekeluargaan yang erat. Perhelatan ini melibatkan hampir seluruh civitas PKBM Al Zaytun, dari para tutor, warga belajar, hingga penanggung jawab. Mereka hadir bukan sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga besar yang turut serta: dari pembawa acara yang diampu oleh tutor Nurdiana, sambutan perwakilan keluarga oleh Suwandi, S.Pd, hingga tim penerima tamu, fotografer, bagian masak, dan pelayanan. Ini adalah pesta yang dibangun dari semangat kebersamaan dan pengabdian.
Pilar Utama: Pengabdian dan Nasihat yang Menyentuh
Momen puncak yang paling dinantikan adalah pemberian nasihat pernikahan. Nasihat disampaikan Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I.ME., dosen IAI Al-Azis sekaligus Kepala PKBM, hadir sebagai representasi nyata dari keterlibatan akademisi dalam kancah sosial. Bagi Ustadz Ali, peran sebagai penasihat pernikahan adalah bagian dari kiprah Pengabdian Masyarakat seorang dosen.
Ustadz Ali membuka sesi nasihat dengan pantun yang memecah suasana tegang dan disambut riuh tepuk tangan:
Pergi ke Mekah, berpakaian ihram
Pakaian basah, karena hujan di Mekah
Senyum merekah Nuri dan Irham
Karena sudah sah – jalani akad nikah
Setelah hadirin serentak berucap “Cakep!”, Ustadz Ali menukil ayat Al Isra 70, menegaskan bahwa Allah memuliakan Bani Adam. hakikat kemuliaannya adalah dengan menjalankan ketaatan kepada Allah, dan salah satu jalan ketaatan tertinggi adalah melalui pernikahan. “Rasul bersabda, barang siapa seorang hamba menikah, ia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertakwalah setengah sisanya,” tegasnya. Kemuliaan manusia diperoleh melalui jalan pernikahan, sebuah ikatan suci yang membedakannya dari makhluk lain. Hanya manusia yang menikah, makhluk lain tidak.

Sakinah, Mawadah, wa Rahmah: Merumuskan Tiga Huruf Nikah
Untuk mengarungi “samudera rumah tangga,” ilmu menjadi kunci. Mengutip Surat Ar Rum 21, tujuan pernikahan adalah mencapai Sakinah (ketentraman, ketenangan, kebahagiaan), yang dimodali dengan Mawadah (cinta yang terlihat) dan Rahmah (cinta dengan menerima kekurangan).
Ustadz Ali kemudian merumuskan langkah praktis melalui tiga huruf dari kata NI-KA-H:
1. N: Niyat (Niat)
Pernikahan harus diniatkan karena Allah, sebagai ibadah, mengikuti Sunnah Rasul, demi meraih keberkahan. Mengingat hadis Nabi tentang empat motivasi pernikahan (kecantikan, harta, keturunan, dan agama), Ustadz Ali berpesan, “Pilihlah karena agama, maka engkau akan terhindar dari kerusakan.”
2. K: Kaifiyah (Cara)
Kaifiyah dimulai dengan akad yang disaksikan dan dicatat negara, yang memperkokoh kedudukan nikah. Modal Mawadah—ekspresi cinta yang kasat mata—membutuhkan tindakan nyata. Ustadz Ali menjabarkan lima bahasa cinta sebagai resep praktis:
* Pujian: Jangan pelit memuji kelebihan pasangan.
* Kebersamaan (Me Time): Bangun waktu sederhana, seperti makan atau jalan bersama.
* Pelayanan: Saling melayani; istri menyiapkan, suami membantu tugas rumah tangga.
* Sentuhan: Ekspresi fisik seperti memegang tangan atau mencium kening.
* Hadiah: Oleh-oleh sederhana yang bermakna saat pulang.
Jika Mawadah adalah tindakan nyata, maka Rahmah adalah kunci saat kekurangan muncul. “Kekurangan pasangan adalah ladang amal ibadah kita,” ujarnya, menyeru pasangan untuk mencintai pasangan apa adanya.
3. H: Hurmah/Haram (Kehormatan)
Nikah adalah sarana mewujudkan kehormatan. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang memuliakan keluarganya,” kutipnya. Seseorang yang memuliakan pasangannya, niscaya adalah orang yang mulia.
Mutiara Tiada Tara
Dengan pondasi niat, cara cinta yang nyata, dan penjagaan kehormatan, Ustadz Ali menyimpulkan bahwa keluarga akan menjadi harta tak ternilai, istana yang indah, rangkaian cerita bermakna, dan mutiara yg berharga. Mengutip lirik lagu Keluarga Cemara yang dibawakan BCL:
Harta yang paling berharga adalah keluarga.
Istana yang paling indah adalah keluarga.
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.
Mutiara tiada tara adalah keluarga.

Ustadz Ali menutup nasihatnya dengan doa penuh harap yang kembali dibungkus pantun.
Uang dirham, dari Suriyah
Dibelikan timah untuk buat rumah
Kita doakan Irham dan Nuri Sa’diah
Moga Sakinah, Mawadah wa Rahmah
Pernikahan Nuri dan Irham bukan sekadar perayaan pribadi. Ia adalah penegasan bahwa lembaga pendidikan seperti Al Zaytun dan PKBM-nya telah berhasil menanamkan nilai-nilai luhur dan pengabdian, melahirkan alumni yang siap membangun peradaban kecil—keluarga—dengan ilmu, cinta, dan kehormatan.***
Indramayu, 29 November 2025
——-
![]()
